Kabut Sutra di Lembah Saptarengga
Oleh: Temu Sutrisno
"Lihatlah, Kanda," ujar Dewi Kunti dengan senyum lembut sembari menyerahkan secangkir air pegunungan yang segar. Udara pagi terasa sejuk, membelai dedaunan yang masih basah oleh embun. "Udara pagi ini begitu bening. Bahkan hela napas kita seolah menyatu dengan embun di padepokan ini."
Pandu menerima cangkir kayu itu, memandang permaisuri tertuanya dengan tatapan penuh kehangatan. "Benar, Dinda Kunti. Di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk takhta dan intrik istana ini, jiwaku menemukan kedamaian. Walau ketenangan ini dibayar dengan kesendirian yang sunyi, kebersamaan denganmu dan Madri adalah anugerah terbesar dari para dewa."
Dewi Madri berjalan mendekat membawa nampan berisi buah-buahan hutan yang baru dipetik. Senyumnya terkembang manis, menghiasi parasnya yang ayu nan jelita. "Kami berdua tidak pernah menyesali keputusan untuk mendampingi Paduka di sini, Kanda Prabu. Istana Hastinapura mungkin penuh dengan kemegahan, tetapi di Lembah Saptarengga inilah cinta kita terasa begitu murni, tanpa ada sekat pertikaian atau perebutan kekuasaan."
"Terima kasih, Dinda Madri, Dinda Kunti," ucap Pandu lirih, mengamati kedua istrinya yang saling melempar senyum penuh persaudaraan. "Kalian adalah pilar kekuatanku."
Di padepokan kayu yang bersahaja itu, canda tawa dan kebahagiaan sederhana membingkai hari-hari mereka. Momen-momen penuh kedamaian tercipta saban hari—ketika Pandu mengajari putra-putra mereka membaca kitab suci, atau ketika Kunti dan Madri bekerja sama merawat kebun kecil di belakang pondok. Tak ada kecemburuan di antara kedua wanita tersebut. Kunti merawat Nakula dan Sadewa seolah darah dagingnya sendiri, sementara Madri mengagumi kearifan Yudistira, keteguhan Bima, dan kelincahan Arjuna. Kehidupan bertapa mereka diselimuti oleh aura kebahagiaan yang begitu tenteram dan menyejukkan jiwa.
oo0oo
Namun, kedamaian itu senantiasa dibayangi oleh bayang-bayang kelam yang tak pernah benar-benar sirna.
Tragedi itu bermula dari sebuah kekhilafan di masa lalu yang tak sengaja. Ketika sedang berburu di tengah hutan lebat, busur panah Pandu melesat cepat merenggut nyawa sepasang rusa yang tengah memadu kasih. Malang tak dapat ditolak, rusa itu ternyata adalah penjelmaan Resi Kindama yang sakti bersama istrinya. Sebelum napas terakhirnya habis, sang resi yang murka menjatuhkan kutukan yang sangat mengerikan: Pandu akan menemui ajalnya seketika itu juga jika ia berani menyentuh istrinya dengan luapan hasrat duniawi dan ketertarikan fisik.
Sejak hari yang kelam itu, cinta di antara mereka menjelma menjadi sebuah siksaan yang sunyi. Pandu, Kunti, dan Madri hidup bersama dalam ikatan pernikahan yang suci, namun mereka harus menjaga jarak yang teramat menyiksa, tanpa kehangatan fisik yang selayaknya dirasakan oleh sepasang kekasih. Berkat mantra rahasia Adityahrdaya milik Kunti—mantra yang mampu memanggil dewa untuk mengaruniakan keturunan—mereka akhirnya dikaruniai lima putra titisan para dewa: para Pandawa. Kehadiran Yudistira, Bima, Arjuna, serta si kembar Nakula dan Sadewa menjadi pelipur lara yang tak ternilai, sebuah bukti nyata bahwa cinta mereka tetap berbuah lebat meski tanpa sentuhan asmara yang membakar.
oo0oo
Namun, takdir seringkali menjadi perajut cerita yang teramat kejam bagi manusia.
Waktu terus berlalu hingga tibalah musim semi yang luar biasa indah di lereng gunung. Bunga-bunga asoka dan melati hutan bermekaran serentak, menebarkan wangi manis yang meracuni udara dengan nuansa romantis. Burung-burung berkicau bersahut-sahutan di atas ranting, seolah merayakan kehidupan baru yang penuh gairah. Pada hari yang nahas itu, Dewi Kunti sedang pergi ke sungai yang agak jauh untuk mencuci pakaian bersama anak-anak, meninggalkan Pandu dan Madri berdua saja di sekitar padepokan kayu mereka.
Dewi Madri berjalan perlahan di antara semak berbunga. Angin musim semi yang berhembus lembut meniup rambutnya yang hitam panjang bergelombang, membuat sehelai kain sutra tipis yang menyelimuti bahunya tersingkap perlahan. Keindahan paras dan lekuk tubuh Madri di bawah sinar matahari pagi berpadu sempurna dengan gairah alam yang sedang mekar dengan ranumnya. Pandu, yang selama bertahun-tahun telah bersusah payah meredam gejolak kemanusiaan dan hasrat lelakinya, tiba-tiba terpaku di tempatnya berdiri. Matanya menatap Madri tanpa berkedip, dan untuk sejenak, benteng pertahanan jiwa yang ia bangun dengan meditasi ketat bertahun-tahun runtuh total.
"Duhai Madri, kecantikanmu benar-benar melumpuhkan jiwaku hari ini," bisik Pandu dengan suara bergetar, melangkah mendekat dengan tatapan mata yang penuh dengan binar kerinduan yang mendalam.
Madri menoleh, terkejut melihat perubahan drastis pada binar mata suaminya. Ada rasa takut yang seketika menjalar dingin di sekujur dadanya. "Gusti Prabu, ingatlah kutukan Resi Kindama... Jangan mendekat, hamba mohon demi keselamatan jiwa paduka!" ratap Madri dengan suara gemetar, melangkah mundur perlahan hingga punggungnya merapat pada batang pohon besar yang rindang.
Napas Pandu semakin memburu, mengabaikan segala logika. Gairah cinta yang telanjur membakar hangus akal sehatnya telah menulikan telinganya dari ingatan akan maut. "Jika mencintaimu secara utuh dan memelukmu harus dibayar dengan nyawaku sendiri, maka biarlah maut menjemputku detik ini juga. Aku tidak bisa lagi hidup dalam kepura-puraan yang dingin ini, Madri. Aku merindukanmu!"
"Tidak, Gusti! Tahan gejolak dalam dadamu! Pikirkan anak-anak kita, pikirkan Ayunda Kunti!" jerit Madri dengan mata berkaca-kaca, kedua tangannya terentang mencoba mendorong Pandu jauh-jauh. "Hamba mencintaimu, Gusti, tetapi Hamba tidak ingin kehilangan paduka!"
Namun, takdir telah mengunci kehendak sang raja. Tanpa menghiraukan tangisan dan penolakan lemah dari tangan Madri, Pandu menarik tubuh sang permaisuri ke dalam dekapan pelukannya yang erat. Ketika kulit mereka saling bersuntuhan, kehangatan asmara yang telah lama mati mendadak meledak hebat di dalam dada mereka. Pandu mengecup kening Madri dengan penuh kerinduan yang teramat sangat.
Tepat pada detik emas itu juga, kutukan gaib sang resi menagih janjinya tanpa ampun.
Jantung Pandu mendadak berhenti berdetak dengan sentakan hebat. Rasa sakit yang luar biasa bagai ditusuk ribuan jarum beracun menghujam dadanya. "Aaargh!" erang Pandu, suaranya parau dan terputus-putus.
Dekapan eratnya melonggar seketika, dan tubuh sang raja perkasa itu roboh lunglai ke atas pangkuan Madri yang langsung menjerit histeris memecah kesunyian hutan. "Gusti! Gusti Prabu! Buka matamu, hamba mohon!" jerit Madri, merengkuh kepala Pandu dengan jemari yang gemetar hebat.
Pandu menatap mata Madri untuk terakhir kalinya. Di dalam bola matanya yang perlahan meredup, tak ada penyesalan—hanya ada cinta yang teramat dalam. Pandu Dewanata tewas dalam hitungan detik, mengembuskan napas terakhirnya tepat di dalam pelukan cinta yang sekaligus menjadi pembunuhnya.
oo0oo
Tak lama kemudian, langkah-langkah kaki tergesa mendekati lokasi. Kunti dan kelima anak mereka kembali dari sungai, hanya untuk menemukan pemandangan mengerikan yang menghancurkan jiwa mereka. Ember air terlepas dari genggaman Kunti, jatuh menghantam tanah.
"Kanda Prabu!" jerit Kunti seraya berlari dan berlutut di samping jasad suaminya. Yudistira muda terpaku membatu, sementara Bima dan Arjuna menangis meraung-raung menggoncang-goncang tubuh ayah mereka yang sudah dingin. Nakula dan Sadewa yang masih kecil mendekap erat ibunya dengan tubuh gemetar.
Ratapan penyesalan Madri begitu menyayat hati; ia meraung-raung di atas jasad Pandu, meremas tanah lembah dengan keputusasaan yang tak tertanggungkan. Ia merasa bersalah karena kecantikannya dan kelemahannya telah menjerat sang suami tercinta ke dalam pelukan maut.
"Ini semua salahku... Aku yang menyebabkan kematian Gusti Prabu!" tangis Madri pecah, dadanya naik turun oleh duka yang menghimpit. "Seandainya aku melari dari pandangannya, seandainya aku lebih keras menolaknya... Aku tidak layak tetap bernapas di atas tanah ini!"
Dewi Kunti memeluk bahu Madri yang berguncang, mencoba menenangkan adik madunya walau air matanya sendiri tak henti mengalir. "Dinda Madri, ini adalah takdir yang telah digariskan Yang Maha Kuasa. Jangan menyiksa dirimu seperti ini..."
"Tidak, Ayunda," bisik Madri, matanya menatap tajam ke arah jasad Pandu yang membisu. "Cinta Gusti Prabu padaku telah menuntut nyawanya. Bagaimana bisa aku melanjutkan hidup, menikmati indahnya mentari, sementara suamiku terbujur kaku karena merindukanku?"
oo0oo
Keesokan harinya, panggung kremasi didirikan di tepi lembah. Ketika kayu jati dan kayu cendana ditumpuk ringkas, api unggun pemakaman Pandu dinyalakan. Asap tebal bermuatan aroma cendana dan minyak suci mulai membubung tinggi ke angkasa, membiaskan cahaya jingga kemerahan di antara kabut pagi Saptarengga.
Madri berdiri anggun di hadapan kobaran api. Pakaian pertapanya telah berganti dengan gaun putih bersih. Raut wajahnya tak lagi memancarkan ketakutan atau histeria, melainkan sebuah ketenangan yang magis dan tekad yang sudah bulat sempurna. Baginya, melanjutkan hidup di dunia tanpa kehadiran Pandu adalah neraka yang jauh lebih besar dan menyiksa daripada nyala api di depannya.
Di hadapan Kunti yang menangis tertahan meredam duka, Madri memandang jasad suaminya yang mulai dilalap api dengan tatapan penuh kepasrahan dan cinta yang mutlak.
"Dinda Madri... apa yang hendak kau lakukan?" tanya Kunti dengan suara tercekat, menyadari arah tatapan adik madunya.
Madri menggenggam jemari Kunti untuk terakhir kalinya. Sentuhannya hangat, namun dingin ketetapan hati memancar dari matanya. "Ayunda Kunti yang agung, izinkan aku memohon satu hal padamu. Asuhlah anak-anak kita Yudistira, Bima, Arjuna, serta si kembar Nakula dan Sadewa, dengan adil. Didiklah Nakula dan Sadewa seolah mereka lahir dari rahimmu sendiri, karena aku tahu jiwamu jauh lebih lapang dan bijaksana daripadaku untuk membesarkan mereka menjadi kesatria sejati."
"Dinda, jangan lakukan ini! Anak-anak masih membutuhkanmu!" ratap Kunti, mencoba menarik tangan Madri.
Tetapi Madri menggeleng perlahan, memberikan senyuman paling tulus dan paling indah yang pernah terpancar dari wajahnya. "Aku yang telah menarik Gusti Prabu menuju ajalnya. Maka, sudah menjadi kewajibanku untuk mendampingi beliau menyusuri lorong kegelapan menuju Swargaloka. Aku tidak akan membiarkan beliau berjalan sendirian di sana, Ayunda. Aku akan berangkat menemani dan melayani Gusti Prabu di keabadian sana."
Madri berbalik menghadap kobaran api yang kian membesar, menjangkau langit Lembah Saptarengga. Kelima Pandawa kecil menatapnya dengan rasa duka dan hormat yang mendalam.
Dengan langkah mantap tanpa keraguan sedikit pun, Madri melangkah maju, memanjat panggung peraduan terakhir itu, dan melompat ke dalam kobaran api yang membubung tinggi. Ia melakukan ritual sati demi kesetiaannya yang melampaui batas batas kematian.
Asap putih tebal bergulung-gulung membubung ke atas, menyatu dengan kabut sutra yang menyelimuti pegunungan. Di antara derak kayu yang terbakar dan hawa panas yang membakar udara, jiwa Madri terbang bebas, menyusul sang suami menuju alam baka dalam ikatan cinta yang tak dapat lagi dipisahkan oleh kutukan apa pun.
Lembah Sunyi Gunung Saptarengga pun menjadi saksi bisu dari sebuah tragedi mahakarya, monumen abadi cinta yang suci, agung, dan dahsyat. Keagungan cinta yang harus dibayar lunas dengan untaian nyawa, air mata, dan abu pembakaran. Sementara, dalam jiwa mereka yang ditinggalkan, terukir makna sejati kesetiaan: bahwa cinta sejati tidak pernah mati, melainkan hanya berpindah tempat menuju keabadian.***
Tana Kaili, 22 November 2026

Komentar
Posting Komentar