Cinta Tanpa Takhta

Oleh: Temu Sutrisno

Malam itu, hutan Karangbolong diselimuti kabut tebal yang dingin menusuk tulang. Petruk berjalan terengah-engah, memeluk sebuah pusaka berbungkus kain sutra putih yang memancarkan cahaya keemasan menerobos kegelapan malam. Itu adalah Jamus Kalimasada, jimat paling sakti milik keluarga Pandawa yang tanpa sengaja jatuh ke tangannya di tengah kekacauan dunia.

Begitu jemari Petruk menyentuh aksara gaib di permukaan pusaka, sebuah getaran hebat mengguncang tubuhnya. Dadanya bergemuruh bagai gempa bumi, dan energi tiada tanding menjalar ke seluruh pembuluh darahnya. Kulitnya yang legam berganti seputih pualam, tubuhnya yang bungkuk dan kurus seketika tegak kekar berotot, dan hidungnya yang panjang serta melengkung unik menyusut menjadi hidung ksatria yang sempurna mempesona.

Petruk telah berubah menjadi seorang raja yang luar biasa tampan dan sakti mandraguna. Ia menamai dirinya Prabu Welgeduwelbeh alias Maharaja Kantong Bolong.

Dengan kesaktian tiada tanding dari pancaran aura Kalimasada, Prabu Welgeduwelbeh mendirikan sebuah kerajaan megah beserta benteng berlapis emas hanya dalam sekejap mata. Namanya langsung mengguncang jagat raya dan membuat gentar para raja di berbagai pelosok benua. Namun, di balik takhta megah dan kekuasaan barunya, ada satu hal yang memikat hatinya: berita tentang Dewi Ambarawati, putri Prabu Ambarsraya dari Kerajaan Pandansurat, yang kecantikannya tersohor hingga ke ujung bumi.

oo0oo 

Di Kerajaan Pandansurat, sayembara besar sedang digelar. Halaman istana dipenuhi oleh ratusan raja dan ksatria berbaju zirah emas, siap bertaruh nyawa demi mendapatkan sang dewi.

"Barangsiapa yang mampu mengalahkan jagoan Pandansurat dan menumbangkan semua pelamar di arena ini, dialah yang berhak mempersunting putriku, Dewi Ambarawati!" seru Prabu Ambarsraya dari atas podium kerajaan dengan suara yang menggelegar.

Satu per satu raja tumbang, menyisakan genangan darah dan debu yang membubung tinggi. Tepat saat keputusasaan mulai melanda para hadirin, terompet kerajaan berbunyi nyaring menyambut kedatangan Prabu Welgeduwelbeh. Langkah kakinya yang mantap membuat bumi bergetar, dan karismanya yang gilang-gemilang langsung menyihir seisi istana, termasuk Dewi Ambarawati yang mengintip malu-malu dari balik tirai keputren. Jantung sang putri berdegup kencang. Bukan hanya karena ketampanan luar biasa sang raja baru, melainkan karena ada kehangatan aneh dan rasa aman yang terpancar dari tatapan matanya.

"Aku ikut bertanding!" seru Prabu Welgeduwelbeh lantang.

Di dalam arena, Prabu Welgeduwelbeh bergerak bagai angin. Didorong kekuatan rahasia Jamus Kalimasada, ia menepis semua serangan lawan hanya dengan kibasan tangan. Raja-raja sakti bertumbangan seperti daun kering ditiup badai. Tidak ada satu pun senjata pusaka yang mampu menggores kulitnya. Dengan kemenangan mutlak dan memukau, Prabu Welgeduwelbeh dinobatkan sebagai pemenang sayembara.

oo0oo 

Pesta pernikahan megah pun digelar selama tujuh hari tujuh malam. Di atas pelaminan emas, Prabu Welgeduwelbeh bersanding dengan Dewi Ambarawati yang tersenyum anggun. Selama beberapa purnama, Petruk hidup dalam kemewahan tak terbayangkan dan cinta sang putri yang tulus melayaninya sebagai seorang suami tercinta, penuh kehangatan serta rasa hormat.

Namun, kepalsuan tidak bisa bertahan selamanya di bawah naungan takdir. Kabar tentang raja baru yang memegang Jamus Kalimasada akhirnya sampai ke telinga para Pandawa. Bersama Prabu Kresna sang ahli siasat dan Semar Badranaya sang pengayom bumi, mereka mendatangi istana Pandansurat untuk mengambil kembali pusaka yang hilang.

Saat pesta perayaan malam itu sedang berlangsung meriah, Semar melangkah maju perlahan ke tengah aula istana. Dengan suara sepuh yang berwibawa dan sarat kebenaran, Semar menyebut nama asli anaknya.

"Petruk, anakku... kembalikan yang bukan milikmu. Waktumu sudah habis."

Seketika itu juga, pancaran Jamus Kalimasada meredup dan terlepas dari dekapan Petruk, terbang melayang kembali ke tangan Puntadewa yang suci. Sihir pun lenyap tanpa sisa.

Di atas pelaminan yang megah, tubuh gagah Prabu Welgeduwelbeh menyusut drastis. Mahkota emasnya merosot kekecilan, jatuh berdentang nyaring di lantai marmer. Jubah sutranya mendadak kedodoran bagai karung goni. Dalam hitungan detik, di hadapan ratusan pasang mata yang terbelalak tak percaya, sang raja tampan telah sirna. Yang berdiri di sana kini adalah seorang panakawan bertubuh tinggi kurus, bertelanjang dada dengan sarung batik lusuh, dan memiliki hidung luar biasa panjang yang melengkung ke bawah.

Riuh bisik-bisik dan tawa ejekan dari para raja yang kalah langsung membakar aula istana. Petruk berlutut, tubuhnya gemetar hebat menahan malu, rasa bersalah, dan ketakutan yang luar biasa. Ia pasrah jika hari itu kepalanya harus dipenggal di tempat karena telah menipu seisi kerajaan dan mencemari nama baik istana.

Namun, di tengah kepungan tatapan hina dan gelak tawa itu, sebuah desir kain sutra mendekat.

Sepasang tangan halus perlahan menyentuh pundak Petruk yang gemetar. Petruk mendongak ragu, mengharapkan tatapan jijik atau kemurkaan. Namun di sanalah Dewi Ambarawati, berdiri dengan keanggunan yang sama persis seperti saat mereka bersanding sebagai raja dan ratu. Tidak ada kilatan amarah atau air mata penyesalan di matanya.

"Gusti Putri..." bisik Petruk, air matanya mulai menitik di ujung hidungnya yang panjang dan runcing. "Hamba mohon ampun. Inilah hamba yang sebenarnya. Petruk, si hamba jelata yang buruk rupa."

Dewi Ambarawati tersenyum tipis, matanya berbinar penuh keikhlasan. Ia perlahan ikut berlutut di atas lantai marmer yang dingin, menyamakan tingginya dengan Petruk. Tindakan itu membuat seluruh isi istana terkesiap dan seketika hening.

"Kangmas Petruk," suara Ambarwati mengalun lembut, memotong segala kegaduhan di aula. "Saat aku bersedia menerima pinanganmu, aku tidak sedang jatuh cinta pada mahkota emas atau wujud tampanmu. Aku jatuh hati pada ketulusan dan caramu memperlakukanku selama kita bersama."

Ambarwati menggenggam jemari Petruk yang kasar dan kerempeng.

"Mahkotamu boleh hilang, wujud rajamu boleh sirna, tapi jiwa penyayang yang kurasakan dari suamiku tidak bergeser sedikit pun. Aku bersedia mendampingimu, bukan sebagai ratu dari seorang raja, melainkan sebagai istri dari seorang Petruk apa adanya."

Prabu Ambarsraya yang semula murka hendak mencabut kerisnya, perlahan menurunkan senjatanya setelah melihat keteguhan hati putrinya yang tak tergoyahkan oleh rupa fisik. Di sudut ruangan, Ki Semar tersenyum penuh wibawa sembari mengelus perut tambunnya.

Cinta Dewi Ambarawati terbukti tidak butuh takhta. Petruk pun tersenyum lebar, senyuman khasnya yang jenaka hingga matanya menyipit dan hidungnya bergoyang-goyang. Kali ini, tanpa sihir dan tanpa kepalsuan, ia tahu ia adalah pria paling beruntung di jagat raya karena dicintai oleh hati yang begitu ikhlas.

oo0oo 

Beberapa hari kemudian, gubuk kecil di pinggir desa Karangbolong tampak asri. Asap tipis mengepul dari tungku dapur sederhana. Di teras depan, Petruk sedang duduk menyelonjorkan kakinya yang panjang sambil menganyam bambu, sementara Dewi Ambarawati dengan telaten menyeduh teh di cangkir seng berhias lurik hijau.

"Ini, Kangmas, diminum dulu tehnya," tutur Ambarawati lembut sembari meletakkan cangkir di samping tempat duduk Petruk. Meski kini mengenakan kemben kain jarik sederhana tanpa perhiasan emas, pesona keanggunannya sama sekali tidak memudar.

Petruk menghentikan anyamannya, lalu menatap istrinya dengan cengirannya yang paling lebar. Hidung panjangnya naik turun karena tertawa kecil.

"Aduh, Nimas Ambarawati... Rasanya aku ini masih bermimpi," ujar Petruk sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Dulu waktu jadi Prabu Welgeduwelbeh, aku dilayani ratusan pelayan. Tapi kok ya teh yang diseduh pakai cangkir seng buatanmu ini rasanya seribu kali lebih nikmat dibanding anggur istana, ya?"

Ambarawati tertawa kecil, suara tawanya bagai gemerincing lonceng emas. "Tentu saja beda, Kangmas. Kalau anggur istana dibuat dari perasan buah, kalau teh ini dibuat dengan perasan rasa syukur dan bumbu ketulusan. Lagipula..." Ambarawati mencubit pelan ujung hidung Petruk yang menjulur panjang, "...waktu jadi raja tampan, Kangmas itu kelihatan kaku sekali. Seperti patung batu dilapisi emas. Kalau sekarang kan kelihatan jauh lebih santai."

"Lho, lho, lho! Nimas menghina atau memuji ini?" kelakar Petruk sambil memegangi hidungnya yang baru saja dicubit. "Tapi Nimas, jujur ya, aku ini kadang-kadang masih tidak enak hati kalau ingat kejadian di istana Pandansurat. Apa Nimas tidak menyesal? Maksudku... dari anak raja yang terbiasa makan daging kijang dan tinggal di istana megah, sekarang malah tinggal di gubuk bambu dan makan nasi thiwul sama sambal terasi bareng Panakawan bertubuh aneh begini?"

Ambarawati menggelengkan kepala perlahan. Ia duduk di samping Petruk, menatap ke arah ladang hijau yang terhampar di depan rumah mereka.

"Kangmas, dengarkan aku baik-baik," kata Ambarawati seraya memegang tangan Petruk yang berserat kasar. "Takhta itu ibarat baju besi yang berat. Terlihat gagah dari luar, tapi menekan dada dan membuat orang di dalamnya sulit bernapas lega. Kemewahan di istana itu hanya memanjakan mata, tapi jiwa kita sering kali sepi karena semua orang mendekat hanya karena mengincar pangkat dan kekuasaan."

Ia menatap mata Petruk dengan ketulusan yang mendalam. "Di gubuk sederhana ini, memang tidak ada prajurit yang menyembah kita. Tapi di sini ada kejujuran. Daging kijang tidak akan terasa lezat jika dimakan bersama kebohongan, Kangmas. Lebih baik makan sambal terasi dan nasi thiwul, tapi dimakan bersama suami yang jujur dan menyayangi aku dengan segenap hatinya."

Petruk tertegun mendengar ucapan istrinya. Dadanya terasa hangat. Namun, dasarnya Petruk yang tidak pernah bisa serius terlalu lama, wajahnya kembali dihiasi cengiran usil.

"Wah, kata-katamu itu rasanya lebih sejuk dari embun pagi, Nimas! Tapi ya... kalau dipikir-pikir, ada satu hal yang bikin aku heran sampai sekarang," celetuk Petruk.

"Heran kenapa, Kangmas?" tanya Ambarawati bingung.

"Ya heran saja. Dulu waktu wujudku tampan bagai Dewa Kamajaya, hidungku mancung sempurna, Nimas jatuh cinta. Eh, pas wujudku balik jadi Petruk yang hidungnya sepanjang terong Belanda begini, Nimas kok malah makin lengket? Apa hidungku yang panjang ini ada daya pikat gaibnya, ya?" guraunya sambil menggoyang-goyangkan hidungnya di depan wajah Ambarawati.

Ambarawati tertawa terbahak-bahak hingga harus menutup mulutnya dengan ujung selendang. "Aduh, Kangmas ini ada-ada saja! Justru hidung panjangmu itu banyak gunanya, tahu!"

"Lho? Gunanya untuk apa, Nimas?" Petruk mengerutkan dahi, penasaran.

"Pertama, kalau kita sedang memetik buah mangga yang tinggi di belakang rumah, Kangmas tidak perlu jemput tangga. Cukup pakai ujung hidungmu untuk menyundul buahnya sampai jatuh," goda Ambarawati sambil terkekeh. "Kedua, kalau angin malam sedang dingin seperti ini, aku tidak perlu beli jemuran tambahan. Hidungmu cukup panjang untuk menggantung dua lembar kain sarung!"

Petruk mendelik jenaka, lalu menepuk jidatnya sendiri. "Oalah! Ternyata aku ini bukan cuma suami, tapi merangkap jadi tiang jemuran dan galah mangga! Nasib, nasib... Punya istri cantik jelita tapi keterampilannya memanfaatkan kekurangan suami luar biasa tinggi!"

Gelak tawa pecah di teras gubuk sederhana itu. Suara tawa mereka membumbung tinggi, menyatu dengan desir angin sore yang membawa aroma tanah dan kehangatan cinta yang sejati.

Di tempat itu, di balik kerendahan gubuk bambu dan tawa yang lepas tanpa kepalsuan, Petruk menyadari satu hal penting dalam hidupnya: ketampanan fisik dan mahkota raja hanyalah topeng semu yang akan lapuk dimakan waktu. Namun, ketulusan hati, rasa syukur, dan cinta yang mau menerima segala kekurangan adalah takhta sejati yang tak akan pernah bisa direbut oleh siapa pun di dunia ini. Petruk memang tidak lagi memiliki Kerajaan. Iya kini hanyalah Petruk si Kantong Bolong yang hidup apa adanya, tanpa harta melimpah dan kekuasaan, hidup jujur, tanpa syak wasangka, dan selalu mengulurkan tangan pada orang yang membutuhkan bantuan atau sekurang-kurangnya menghibur orang di sekitarnya. Bersama sang istri yang jelita, di dalam gubuk kecil itu, ia adalah raja paling bahagia di seluruh marcapada.***


Tana Kaili, 23 November 2026









Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pitutur Luhur: Gemi, Nastiti, Ngati-ati

Cinta di Antara Angkara

Ombo; Kearifan Lokal Masyarakat Kaili Melestarikan Alam