Sindrom Raja Midas
Oleh: Temu Sutrisno
I
Di atas tanah yang memar oleh jejak
sepatu,
sebuah adagium lama kembali mengeja diri:
Salus populi suprema lex esto.
Dua ribu tahun lalu, Cicero telah
membisikkan hukum itu dari podium Roma,
menautkan keselamatan rakyat sebagai
tampuk tertinggi kemuliaan.
Namun di sini, di bawah terik matahari
Republik,
suara rakyat kerap menjelma riak yang
hendak diredam.
Investasi datang mengetuk pintu-pintu
desa,
membawa janji kesejahteraan yang dikemas
angka-angka.
Tapi tak ada investasi senilai nyawa,
tak boleh ada derap pembangunan yang
didirikan di atas makam air mata.
Ketika perbedaan pendapat dijawab desing
peluru dan kepulan asap,
demokrasi tertunduk, meratapi musyawarah
yang terlipat rapi dalam sejarah.
II
Pemerintah dan para saudagar berdiri di
atas podium yang sama,
menakar kemakmuran hanya dari kilau
tambang dan tumpukan rupiah.
Mereka lupa, kesejahteraan bukan sekadar
penguasaan atas tanah dan sungai,
bukan sekadar deretan cerobong pabrik yang
menusuk langit malam.
Di istana yang jauh dari desah nafas
rakyat,
bayang-bayang seorang raja antik mendadak
bangkit kembali.
Raja Midas, yang dadanya digeluti nafsu
tak bertepi,
memohon pada Dewa agar jemarinya mampu
menyulap semesta.
"Beri aku kuas kemewahan,"
pintanya dalam doa yang serakah,
"agar apa pun yang kusentuh bertukar
rupa menjadi emas murni."
Langit mengangguk, dan kutukan berkedok
hadiah pun diturunkan.
III
Dengan langkah pongah dan mata yang
berbinar rahasia,
Midas melangkah pulang memeluk impian
menjadi yang tertajir di bumi.
Disentuhnya pagar istana—seketika besi
dingin berubah menjadi kilau berkilau.
Disapunya pilar-pilar batu, dinding
peradaban, dan taman yang hijau,
semuanya membeku menjadi tajuk-tajuk emas
yang kaku.
Ia tertawa, menatap megahnya kekuasaan
yang kini berkilat di bawah mentari.
Namun tatkala senja turun dan dahaga
membakar kerongkongan,
ia menjangkau cawan air dan setangkup roti
di atas meja.
Sentuhan jemarinya serta-merta membekukan
teguk dan suapan;
air berubah keras, roti menjelma logam
yang tak sanggup dikunyah.
Kepanikan meletup, teriakan minta tolong
memecah sunyi istana.
IV
Permaisuri berlari datang dengan cemas di
matanya,
membawa kasih yang ingin mendekap keraguan
sang raja.
Tanpa mikir panjang, Midas memeluk tubuh
yang dicintainya itu,
namun kehangatan kulit sang istri mendadak
surut dan membeku.
Sang permaisuri telah bertukar menjadi
patung emas yang bisu.
Tak ada lagi helai napas, tak ada lagi
denyut nadi.
Di tengah kemewahan yang tak tertandingi,
Midas berdiri seorang diri, terasing,
dingin, dikepung keheningan.
Keinginan tanpa batas atas kekayaan dan
takhta
akhirnya melahirkan jerit penyesalan di
ruang kosong yang megah.
Raja yang menguasai segalanya itu kini tak
punya apa-apa,
terjebak dalam kegilaan yang diciptakan
oleh keserakahannya sendiri.
V
Kini, bayangan Midas tidak lagi tinggal
dalam mitologi Yunani.
Ia menyusup pelan ke dalam jiwa-jiwa
modern,
melekat pada karakter penguasa dan
investor yang rakus,
mereka yang menempatkan kemewahan dan
harta di atas martabat manusia.
Sindrom itu mengintai di koridor-koridor
kebijakan,
menghancurkan hubungan antarmanusia demi
tumpukan modal material.
Ingatlah, karakter Midas tidak cuma milik
pejabat atau taipan.
Dalam skala berbeda, bisa saja bersemayam
di dalam dada kita
saat kita membiarkan rasa lapar akan
kepemilikan
menutupi nurani dan mengabaikan rasa
selamat sesama.
Sebelum segalanya membeku menjadi emas
yang dingin dan mati,
bisakah kita kembali mengeja arti menjadi
manusia? ***
Tana Kaili, 14 Februari 2022
(Empati dan keprihatinan mendalam atas
meninggalnya Erfaldi dalam aksi tolak tambang di Siney Kecamatan Kabupaten
Tinombo Parigi Moutong Sabtu malam hingga Minggu dini hari, 12–13 Februari
2022)
.jpg)
Komentar
Posting Komentar