KLS Merajut Kasih: Jejak Kemanusiaan di Balik Ekonomi Hijau

 


Pagi itu di pedalaman Toili, matahari baru saja mengintip di balik pucuk-pucuk pohon kelapa sawit yang basah oleh embun. Suara truk pengangkut buah sesekali memecah keheningan, menandakan roda ekonomi sebuah daerah sedang berputar. Di tanah Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, hamparan hijau kebun sawit bukan sekadar pemandangan alam, melainkan urat nadi kehidupan bagi ribuan kepala keluarga. 

Di pusat pusaran ekonomi agroindustri inilah, PT Kurnia Luwuk Sejati (KLS) berdiri kokoh.Namun, korporasi ini tidak ingin dikenal hanya lewat angka-angka produksi Crude Palm Oil (CPO) atau tonase Tandan Buah Segar (TBS) yang melimpah. Lebih dari sekadar mengejar profitabilitas bisnis, perusahaan yang dirintis oleh tokoh legendaris pengusaha nasional asal Banggai, (Alm.) H. Murad Husain, telah menanamkan sebuah filosofi mendalam, bahwa keberadaan sebuah perusahaan harus menjadi berkah bagi tanah tempatnya berpijak.Melalui estafet kepemimpinan yang kini dilanjutkan oleh putrinya, Hj. Sulianti Murad, filosofi itu mewujud nyata menjadi sebuah gerakan sosial yang konsisten. 

Dalam lima tahun terakhir (2021–2026), melalui payung komitmen bertajuk "Kurnia Luwuk Sejati Merajut Kasih", perusahaan ini telah menganyam berbagai jalinan kepedulian yang menyentuh langsung denyut nadi kehidupan masyarakat akar rumput.

Menjemput Asa Melalui Ambulans

Bagi masyarakat yang tinggal jauh dari hiruk-pikuk pusat kota Luwuk, akses terhadap fasilitas kesehatan yang cepat sering kali menjadi perkara hidup dan mati. Menyadari urgensi tersebut, pada awal Januari 2026, PT KLS menggebrak dengan aksi nyata yang langsung menyentuh kebutuhan paling mendasar warga, menyediakan fasilitas mobilitas medis.Tidak tanggung-tanggung, empat unit mobil ambulans gratis diserahkan langsung oleh Direktur Utama PT KLS, Hj. Sulianti Murad.


Ambulans-ambulans baru ini disiagakan khusus untuk melayani masyarakat di desa-desa yang berada di lingkar perkebunan perusahaan. Bagi warga setempat, kehadiran armada ini adalah jawaban atas kecemasan yang selama ini menghantui ketika ada keluarga yang jatuh sakit secara tiba-tiba di tengah malam.

"Kami ingin memastikan bahwa tidak ada jarak yang terlalu jauh antara masyarakat dan pertolongan medis," ungkap Sulianti dalam sebuah kesempatan.

Roda-roda ambulans yang berputar membelah jalanan berbatu di pelosok Banggai kini menjadi simbol kehadiran nyata korporasi dalam menjaga keselamatan jiwa warganya.

Berbagi Kesejahteraan

Jika bantuan ambulans adalah bentuk kepedulian jangka pendek, maka program kemitraan kebun plasma adalah fondasi kesejahteraan jangka panjang yang dirajut oleh PT KLS. Di tempat lain,  hubungan antara perusahaan perkebunan dan masyarakat sering kali digambarkan secara diametral. Namun PT KLS memilih jalan kolaborasi yang saling menghidupkan, melalui sistem Inti-Plasma. Terbangun hubungan erat antara perusahaan dan masyarakat.

Hingga tahun 2026, komitmen ini dibuktikan dengan hamparan kebun plasma yang luar biasa luas. Di Kecamatan Mamosalato, perusahaan telah membangun dan membina lahan plasma seluas 1.934 hektare. Sementara di Kecamatan Bungku Utara, tercatat 913 hektare lahan serupa dikelola bersama petani lokal.

Melalui skema ini, warga setempat bukan sekadar menjadi penonton di tanah sendiri. Mereka terlibat aktif sebagai mitra strategis. PT KLS menjamin serapan TBS kelapa sawit hasil kebun rakyat dengan harga yang adil dan kompetitif. Dampaknya tidak main-main. Rata-rata perputaran uang tunai yang mengalir ke kantong para petani plasma ini mencapai Rp5 miliar per bulan. Angka yang fantastis ini menjadi motor penggerak ekonomi yang menghidupkan toko-toko kelontong, membiayai sekolah anak-anak hingga perguruan tinggi, dan menaikkan taraf hidup ribuan keluarga di pelosok desa.

Menjaga Alam Merawat Iman

Ikatan kasih yang dirajut PT KLS juga menyentuh aspek spiritualitas dan pelestarian identitas lokal. Bagi manajemen PT KLS, keberhasilan bisnis tidak akan berkah tanpa adanya keseimbangan antara hubungan sesama manusia, Tuhan, dan lingkungan hidup.Hal ini dibuktikan melalui program CSR yang unik di sektor keagamaan. PT KLS menghibahkan aset berupa lahan perkebunan kelapa sawit produktif yang hasilnya didedikasikan sepenuhnya untuk membiayai operasional pondok pesantren serta pembangunan masjid-masjid di sekitar wilayah operasional. Dengan cara ini, rumah ibadah dan lembaga pendidikan keagamaan memiliki sumber pendanaan mandiri yang berkelanjutan untuk mendidik generasi muda Banggai.

Tradisi berbagi ini kian kental terasa setiap kali bulan suci Ramadan tiba. Seperti pada Maret 2026, perwakilan manajemen perusahaan bersama organisasi kemasyarakatan turun langsung menyapa jamaah di wilayah Masama dan Toili Barat. Mereka membawa ribuan liter minyak goreng hasil produksi bumi sendiri dan bantuan logistik untuk masjid-masjid.Di sisi lain, kepedulian PT KLS juga terbang hingga ke kanopi-kanopi hutan Batui. Di tengah laju modernisasi, perusahaan tetap menaruh perhatian besar pada kelestarian lingkungan dengan mendukung penuh program penangkaran burung maleo, satwa endemik kebanggaan Sulawesi yang terancam punah. Langkah ini menjadi bukti bahwa industrialisasi dan konservasi alam bisa berjalan beriringan di bawah naungan komitmen yang tepat.

Respons Cepat Kemanusiaan

Aksi sosial "Kurnia Luwuk Sejati Merajut Kasih" menemukan wujudnya yang paling intim ketika bantuan diantarkan langsung ke pintu-pintu rumah warga yang membutuhkan.

 Sepanjang lima tahun terakhir, armada truk operasional PT KLS sering kali berubah fungsi menjadi pembawa berkah pangan.Tengok saja aksi sosial di Kecamatan Luwuk Utara pada Oktober 2024. Kala itu, sebanyak 1.000 paket bahan pokok didistribusikan secara maraton menyisir 11 desa dan 2 kelurahan. Langkah serupa terus berlanjut tanpa henti. Di pertengahan 2025, ratusan paket pangan menyasar warga kurang mampu di tiga wilayah sekaligus: Balantak, Balantak Selatan, dan Balantak Utara. Memasuki tahun 2026, giliran warga di Pagimana dan kawasan Moilong (Desa Minahaki, Mina Karya, dan Karya Jaya) yang merasakan sentuhan kasih berupa pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari.Namun, di antara semua aksi sosial tersebut, ada satu momen di Desa Toili pada Maret 2025 yang menggambarkan betapa dalamnya empati perusahaan ini. Ketika salah satu keluarga warga mengalami musibah kedukaan yang mendalam, PT KLS tidak tinggal diam. Perusahaan tidak hanya mengirimkan santunan finansial, tetapi juga menerjunkan langsung relawan karyawan untuk membantu seluruh proses, mulai dari penanganan di rumah sakit, pengurusan jenazah, hingga proses pemakaman. Di saat-saat paling rapuh dalam hidup seorang manusia, PT KLS hadir mengulurkan tangan seperti seorang saudara kandung.

Menenun Masa Depan Banggai

Lima tahun terakhir telah menjadi saksi bagaimana PT Kurnia Luwuk Sejati mendefinisikan ulang arti sebuah korporasi. Bagi mereka, selembar daun sawit yang tumbuh bukan sekadar komoditas komersial, melainkan sebuah amanah untuk menyejahterakan daerah.Melalui rajutan kasih berupa ambulans yang menyelamatkan nyawa, kebun plasma yang memakmurkan dapur petani, santunan sembako yang menghapus lapar, hingga kepedulian pada rumah ibadah dan satwa langka, PT KLS telah mengukir namanya di hati masyarakat Banggai. 

Di bawah kepemimpinan Sulianti Murad yang humanis, PT KLS membuktikan bahwa bisnis terbaik adalah bisnis yang mampu memanusiakan manusia dan merawat kehidupan di sekitarnya.Perjalanan masih panjang, dan hamparan hijau sawit di Kabupaten Banggai akan terus tumbuh. Seiring dengan itu, jalinan kasih yang dirajut oleh PT Kurnia Luwuk Sejati dipastikan akan terus memanjang, mempererat hubungan antara perusahaan, masyarakat, dan alam, demi hari esok yang lebih cerah dan penuh berkah.TMU

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pitutur Luhur: Gemi, Nastiti, Ngati-ati

Cinta di Antara Angkara

Ombo; Kearifan Lokal Masyarakat Kaili Melestarikan Alam