Jam Psikologi Subuh: Warisan Tak Benda dari Dapur Ibu
Oleh: Temu Sutrisno
Selasa (15/9/2026), dua anggota senior PWI Sulteng, HM Basri (81) dan Jeis Montesori (59), bertandang ke Kantor PWI. Di tengah obrolan, Pak Basri bercerita tentang kebiasaannya yang tak pernah absen bangun subuh dan melangkah ke masjid.
Bu Jeis pun menimpali dengan kebiasaan serupa. Sekira jam 05.00 pagi sudah berburu buah-buahan ke pasar. Ia terbiasa mengonsumsi jus buah, untuk pola hidup sehat.
Mendengar cerita dua mantan wartawan Merdeka dan Suara Pembaharuan itu, ingatan saya langsung melayang pada almarhum dan almarhumah orang tua.
Ada memori unik tentang tradisi bangun pagi di keluarga kami. Sebuah jam yang tak berdetak di pergelangan tangan atau dinding, namun dentangnya jauh lebih presisi dibanding jam digital mana pun. Saya menyebutnya "jam psikologi", sebuah alarm bawah sadar yang tertanam kuat di benak. Jam berapa pun saya berbaring malamnya, mata ini selalu terbuka tepat saat azan subuh berkumandang. Tanpa drama tombol snooze, tanpa paksaan. Tubuh seolah ditarik gravitasi tak kasat mata untuk segera bangkit.
Ini bukan perkara genetik, melainkan warisan masa kecil yang belakangan saya sadari sebagai kemewahan ragawi sekaligus rohani.
Saya tumbuh di desa, tempat waktu tak diukur ketat oleh jadwal rapat, melainkan oleh pergeseran alam dan panggilan ibadah. Ingatan kolektif saya selalu lekat dengan aroma asap kayu bakar dan tumisan bumbu dari dapur. Setiap subuh, orang tua saya sudah terjaga. Ibu bertarung dengan pekatnya pagi di dapur, sementara Bapak bersiap dengan sarungnya untuk salat subuh atau mengaji. Simfoni itu bergulir konsisten bertahun-tahun. Sebelum pukul enam pagi, urusan domestik harus tuntas. Bapak dan Ibu bergegas ke tegalan untuk bertani. Sementara kami anak-anaknya, melangkah menyusuri jalan kampung menuju sekolah, yang belakangan berganti kayuhan sepeda saat masuk SMP.
Pola hidup ini tak tumbuh di ruang hampa. Kami dibentuk oleh ekosistem kampung yang begitu magis: rumah yang dikepung beberapa langgar dan masjid. Suara puji-pujian sebelum subuh, tarikan nada muazin, hingga derap langkah tetangga yang bergegas ke musala beresonansi menjadi stimulus harian. Lingkungan spiritual dan kultural inilah yang mengunci jam biologis kami.
Dalam kacamata psikologi, apa yang diwariskan orang tua saya adalah bentuk role modeling (keteladanan) yang sempurna, sebagaimana dicetuskan Albert Bandura. Anak-anak tak belajar dari deretan nasihat atau khutbah panjang di meja makan, melainkan merekam apa yang dilihat secara berulang. Konsistensi orang tua bangun subuh dan bekerja keras menanamkan etos kerja tinggi ke dalam struktur kognitif saya sejak dini. Berjalan kaki dan bersepeda menembus dinginnya udara pagi bukanlah penderitaan, melainkan latihan resiliensi, sebuah ketangguhan mental untuk akrab dengan ketidaknyamanan.
Dari sudut pandang neurosains, masa pertumbuhan adalah fase emas saat otak sangat plastis. Rutinitas subuh yang repetitif selama belasan tahun mengukir jalur saraf yang kokoh. Hubungan antara waktu subuh, kesadaran, dan gerak tubuh telah terprogram menjadi refleks otomatis.
Kini, di tengah riuhnya kehidupan modern yang mengaburkan batas siang dan malam, "jam psikologi" ini menjelma jangkar mental. Saat dunia bergerak terlalu cepat, penuh distraksi gawai dan tekanan tenggat waktu yang menguras kewarasan, subuh hadir sebagai ruang jeda yang teduh. Di saat orang lain masih terlelap, saya mendapat modal waktu ekstra untuk mencuri start, entah untuk meresapi keheningan ibadah, membaca, atau sekadar menyesap teh dan menulis puisi tanpa interupsi.
Bagi saya, konsisten terbangun di sepertiga malam terakhir bukan sekadar urusan disiplin tubuh, melainkan wujud syukur mendalam di tengah karut-marut zaman. Ini adalah warisan tak benda dari kesahajaan desa, dari keteladanan orang tua, dan dari gema suara langgar yang mendidik jiwa tanpa perlu menggurui.
Allaahummaghfir lahumaa warhamhumaa wa 'aafihimaa wa'fu anhumaa.***

Komentar
Posting Komentar