Mematikan Kamera Tuhan
Oleh: Temu Sutrisno
Mentari Ahad pagi baru saja merambat di atas pucuk-pucuk pohon trembesi yang menaungi Taman Kota. Angin sisa subuh berhembus pelan, membawa kesegaran sisa embun yang belum sepenuhnya menguap. Suasana taman mulai diramaikan oleh warga yang selesai berolahraga. Ada yang berswafoto, meluruskan kaki di atas rumput, hingga berburu kuliner pagi.
Di bawah rindangnya pohon mahoni terbesar di sudut taman, Tonakodi duduk bersila dengan tenang. Wajahnya yang teduh selalu memancarkan kedamaian, bak telaga jernih yang tak pernah terganggu oleh ripples angin. Di sampingnya, Om Uchen sedang sibuk menyapu keringat di lehernya menggunakan handuk kecil sambil sesekali memegangi perutnya yang agak buncit. Tak jauh dari mereka, Om Uly datang membawa empat gelas plastik kopi hitam yang baru dibelinya dari paman Kopling—kopi keliling dengan sepeda motor modifikasi.
"Nah, ini dia! Suplemen terbaik setelah berpura-pura lari tiga putaran!" seru Om Uly dengan senyum hangatnya yang khas. Ia menyerahkan gelas kopi itu satu per satu.
"Halah, bilang saja dua putarannya kamu pakai jalan santai sambil cuci mata, Uly," goda Om Uchen sambil menerima kopi. Tawa khasnya menyambar sepoi angin pagi. "Tapi memang ya, aroma kopi keliling di bawah pohon begini rasanya bisa menaikkan harkat dan derajat ketampanan kita."
Tonakodi hanya tersenyum tipis, menerima segelas kopi hangat itu dengan kedua tangannya. "Terima kasih, Om Uly. Kopi pagi ini selalu punya cara untuk mengingatkan kita pada kehangatan nikmat yang sering kita lupakan."
Saat mereka bertiga menikmati seruputan pertama, dua orang pemuda menghampiri area duduk mereka. Yang satu mengenakan kaus olahraga rapi lengkap dengan jam tangan pintar—Ami, pemuda yang dikenal kritis namun sangat santun. Di sebelahnya ada Ryan, pemuda bersetelan pakaian olahraga trendi, lengkap dengan headphone nirkabel yang menggantung di lehernya.
"Assalamu’alaikum, Tonakodi, Om Uchen, Om Uly," tegur Ami sopan seraya membungkukkan badan sedikit.
"Wa’alaikumsalam! Eh, Ami, Ryan! Duduk, duduk! Tenang, mumpung pemerintah tidak memungut iuran dan pajak duduk di taman," sambung Om Uchen jenaka seraya menepuk tanah di sebelahnya.
Ryan menyeringai, lalu ikut duduk bersila bersama Ami. "Ampun, Om Uchen. Tadi kita habis jogging bareng Ami, terus pas lewat dengar bau kopi segar begini, langsung auto-pivot ke sini."
"Anak-anak muda keren. Menikmati pagi itu tidak lengkap tanpa teman dan sedikit percakapan yang menghangatkan hati," ucap Tonakodi lembut, matanya menatap Ami dan Ryan dengan penuh perhatian.
Ami membetulkan posisi duduknya. Sejak tadi sepanjang jalan lari pagi, ia sebenarnya sedang memikirkan satu persoalan hidup yang mengganjal pikirannya. Mumpung ada Tonakodi.
"Anu, Tonakodi... kalau boleh mau diskusi sedikit," ujar Ami mengawali perbincangan.
Ami meremas jarinya pelan. "Saya sering memperhatikan diri saya sendiri, juga kawan-kawan sejawat. Kita ini, kalau sedang tertimpa musibah, sedang sakit, atau butuh sesuatu, doa kita khusyuk sekali. Kita yakin betul kalau Allah itu Maha Mendengar. Kita berbisik saja, kita yakin Tuhan mendengar. Bahkan diam, Tuhan tahu sampai ke relung hati kita."
"Lalu, apa yang membuat hatimu mengganjal?" tanya Tonakodi pelan.
"Yang aneh," Ami melanjutkan dengan dahi berkerut, "kenapa saat kita beraktivitas sehari-hari, atau saat godaan maksiat datang seperti mau curang atau sekadar bohong kecil, kita mendadak seperti lupa kalau Tuhan Maha Melihat? Seolah-olah Tuhan cuma punya pendengaran, tapi matanya 'absen' dari perbuatan kita. Kenapa kesadaran manusia bisa setimpang itu, Tonakodi?"
Suasana di bawah pohon mahoni itu mendadak hening sejenak. Om Uchen yang tadinya hendak melempar lelucon, menahan diri. Om Uly menatap Ami dengan pandangan apresiatif atas ketajaman pertanyaannya.
Ryan tertawa kecil, agak canggung. "Aduh, Mi... kamu kalau nanya berat banget pagi-pagi begini. Harusnya nanya info promo tempat nongkrong kek. Tapi ya... jujur aja, saya juga sering begitu sih. Kalau lagi khilaf scrolling hal enggak benar di HP pas malam hari, berasa tidakk ada yang melihat."
Tonakodi menyesap kopinya pelan, lalu meletakkan gelas plastik itu di atas rumput. Ia memandang dedaunan pohon mahoni yang bergoyang diterpa sinar matahari yang makin terang.
"Ami..." suara Tonakodi mengalun bagai simfoni yang menenangkan. "Manusia itu sering kali menjebak dirinya sendiri dalam ilusi jarak dan ruang."
Ia menatap Ami dengan penuh kelembutan. "Ketika berdoa, manusia merasa butuh. Kebutuhan itulah yang memaksa hatinya untuk meyakini keberadaan Tuhan yang Maha Mendengar. Kita ingin aduan kita sampai, ingin derita kita diangkat. Maka, kita 'menghidupkan' sifat Maha Mendengar-Nya di dalam dada kita demi kepentingan keselamatan diri kita."
"Tapi, Tonakodi, kenapa waktu bermaksiat kesadaran itu hilang?" desak Ami.
"Bukan hilang, Ami... melainkan sengaja disembunyikan oleh ego dan hawa nafsu," jawab Tonakodi filosofis. "Saat maksiat menari di depan mata, nafsu manusia ingin merasa bebas. Dan syarat utama agar manusia merasa 'bebas' melakukan keburukan adalah dengan berpura-pura bahwa ia sedang tidak diawasi. Kita sibuk celingukan ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada orang yang melihat, lalu merasa aman. Padahal, Zat yang menciptakan mata itu sendiri sedang menatap gerak-gerik jantung kita."
Om Uly mengangguk-angguk dalam, menyerap kata-kata itu. "Ibarat anak kecil yang menutup matanya sendiri saat mencuri kue ya, Tonakodi? Dia pikir kalau dia tidak melihat ibunya, ibunya juga tidak melihat dia."
"Tepat sekali, Om Uly," Tonakodi mengangguk. "Itulah tragedi jiwa manusia. Kita memperlakukan Tuhan seolah Dia hanya hadir di atas sajadah atau di dalam doa-doa yang meraba, tetapi kita mengusir kehadiran-Nya saat kaki kita melangkah di pasar, di kantor, atau di bilik-bilik tersembunyi. Kita lupa, kita menjebak diri sendiri seakan-akan pengawasan Tuhan bisa kita matikan atau kendalikan seperti CCTV. Padahal pengawasan itu melekat sepanjang waktu. 'kamera' Tuhan tidak bisa kita matikan."
Om Uchen menyela, kali ini dengan nada yang lebih serius walau masih diselipi humor, "Aduh, kena mental saya, Tonakodi. Kadang kalau berkendara terus ada kesempatan 'nyerobot' lampu merah dikit-dikit pas tidak ada polisi, saya juga merasa bebas-bebas saja. Lupa kalau 'Kamera Pusat' tidak pernah off."
Semua orang tersenyum tipis mendengar seloroh Om Uchen, namun maknanya meresap dalam.
"Lalu bagaimana caranya agar kita tidak terus-menerus amnesia pada penglihatan Tuhan, Tonakodi?" tanya Ryan, yang kini benar-benar melepas headphone-nya dan menyimak dengan serius.
Tonakodi menatap pemuda gaul itu dengan hangat. "Latihlah hatimu dengan Muraqabah. Kesadaran akan hadirnya pengawasan-Nya. Ketahuilah, Ryan, Tuhan tidak pernah melihat kita dari jarak jauh seperti kamera pengintai. Dia melihat kita dari dalam, lebih dekat dari urat leher kita sendiri."
Tonakodi mengambil selembar daun kering yang jatuh di dekat kakinya. "Daun ini jatuh, Allah melihatnya. Angin berhembus, Allah melihatnya. Maka saat hatimu berbisik ingin melangkah pada yang haram, hadirkan rasa malu. Malulah bukan karena takuti cemoohan manusia, tapi malulah karena Tatapan Agung itu sedang tertuju padamu tanpa pernah berkedip."
Ami mendesah pelan, sebuah desahan lega seolah baru saja menemukan jawaban dari teka-teki panjang. "Jadi, iman yang utuh itu bukan cuma yakin Dia mendengar pinta kita, tapi juga gemetar karena tahu Dia menyaksikan tiap langkah kita..."
"Benar, Ami," pungkas Tonakodi sambil tersenyum lembut. "Iman yang indah adalah ketika engkau beribadah seakan-akan melihat-Nya. Dan jika engkau tidak mampu melihat-Nya, engkau hidup dengan kepastian utuh bahwa Dia selalu melihatmu."
Matahari makin tinggi, membiaskan cahaya keemasan di antara celah jemari pohon. Kopi keliling di gelas mereka telah dingin, namun hati kelima insan di bawah pohon mahoni itu justru diselimuti kehangatan yang tak ternilai. Om Uchen menepuk bahu Ryan dan Ami seraya mengajak mereka memesan ronde kopi kedua, mengiringi Pagi Ahad yang kini terasa jauh lebih bermakna.***
Tana Kaili, 26 Juli 2026

Komentar
Posting Komentar