Lebih Baik dari Kemarin

 Oleh: Temu Sutrisno

 

Senin siang itu, lantai dua kantor asosiasi profesi rasanya tidak berbeda jauh dengan dalam oven yang sedang dipanaskan. Di luar jendela, terik matahari kota membara tanpa ampun, memanggang jalanan hingga aspal seolah meleleh. Kipas angin berputar dengan bunyi berderit memelas, sementara unit AC tua di sudut ruangan menjerit payah, menyemburkan angin hangat yang tak sanggup melawan gelombang hawa panas.

Namun, lima orang yang duduk di sofa tua itu tampak menikmati momen. Cangkir-cangkir berisi kopi hitam pekat mengepulkan aroma khas yang menenangkan, menembus hawa yang kurang bersahabat dalam ruangan.

"Kenapa ya, makin ke sini rasanya makin capek mengejar orang lain?" Ryan membuka perbincangan, memecah kesunyian. Pandangannya yang resah masih tertuju pada layar ponsel yang menampilkan linimasa media sosial kawan lamanya. "Lihat, teman angkatanku sudah buka cabang usaha ketiga. Yang satu lagi baru beli rumah di kawasan elite. Sedangkan saya? Rasanya berjalan di tempat. Kadang saya mikir, apa saya yang terlalu lambat dan gagal?"

Om Uchen terkekeh pelan sambil mengibas-ngibaskan map kertas ke dadanya untuk mencari kehangatan buatan. "Haha, Ryan, Ryan... Kau itu membandingkan dapurmu yang baru ngebul sama restoran bintang lima orang lain! Lagipula di cuaca sepanas ini, jangankan mengejar pencapaian orang, mengejar hembusan AC saja kita sudah ngos-ngosan!"

Tawa kecil meletup di ruangan, sedikit mencairkan ketegangan di wajah Ryan.

Om Uly menyodorkan piring berisi pisang goreng hangat ke hadapan Ryan dengan senyum khasnya yang selalu menyejukkan. "Dimakan dulu kopi dan pisangnya. Hidup ini bukan balapan jalan tol yang harus kencang-kencangan. Yang penting mesinmu tetap jalan dan tidak mogok, walau pelan."

"Tapi Om," potong Ryan melirik Ustaz Ishaq dan Tonakodi yang duduk tenang di sudut. "Ada prinsip bijak yang bilang bahwa hari ini harus lebih baik dari kemarin. Kalau hari ini saya tidak melompat jauh melebihi orang lain, bukankah artinya saya tergolong orang yang rugi?"

Ustaz Ishaq mengangguk anggun, membenarkan letak pecinya sebelum menjawab dengan lembut. "Prinsip itu benar. Namun pertanyaannya, 'lebih baik' itu diukur dari timbangan siapa? Timbangan Allah dan kelayakan potensi dirimu, atau timbangan panggung pamer orang lain?"

Ruangan mendadak hening. Pandangan mereka kini tertuju pada Tonakodi. Pria berwajah tenang itu menyeduh kopi hitamnya perlahan, membiarkan rasa pahit dan hangatnya mengendap sejenak sebelum ia angkat bicara. Suaranya halus, membawa kedalaman sufistik yang menentramkan jiwa.

"Ryan," Tonakodi lembut. "Pernahkah kau memperhatikan sebatang pohon beringin dan sebatang bambu yang tumbuh bersisian?"

Ryan menggeleng pelan, menyimak penuh perhatian.

"Bambu tumbuh sangat cepat," lanjut Tonakodi, menatap mata Ryan dengan kehangatan yang jujur.

 "Dalam hitungan minggu, bambu bisa menjulang tinggi membelah langit. Sedangkan beringin, bertahun-tahun ia tampak hanya menjadi semak kecil yang rapat dengan tanah. Jika beringin membandingkan tingginya dengan bambu setiap pagi, beringin akan mati muda karena rasa iri dan putus asa. Padahal, beringin sedang sibuk menghujamkan akarnya jauh ke dalam bumi, menyiapkan fondasi kokoh agar kelak bisa menaungi ribuan makhluk."

Tonakodi menyandarkan punggungnya, melanjutkan dawuhnya. "Prinsip 'hari ini harus lebih baik dari kemarin' bukanlah perintah untuk berpacu dengan orang lain. Itu adalah undangan mulia untuk berdamai dan berdialog dengan dirimu sendiri. Fokuslah pada garis start dan lintasanmu sendiri. Menilai pencapaian harus berdasarkan keadaan dan kemampuan mutakhirmu, bukan berdasarkan standar glamor yang dipajang orang di media sosial."

"Setiap jiwa," sambung Tonakodi pelan, "memiliki garis waktu dan jalan hidup yang telah dirancang khusus oleh Sang Maha Pengatur. Ada yang mekar di usia muda bagai bunga mawar di pagi hari, ada yang baru mengembang indah di usia senja bagai wijayakusuma di malam purnama. Keduanya sama-sama bernilai di hadapan Yang Maha Kuasa."

Om Uchen menimpali dengan kelakar ringannya, "Betul itu! Lagipula kalau semua orang mekar bersamaan di siang bolong begini, makin gerah ruangan kantor kita!"

Gelak tawa kembali pecah, meretakkan hawa gerah yang membungkus lantai dua.

Ustaz Ishaq menepuk bahu Ryan. "Apa yang disampaikan Tonakodi sangat dalam. Menghindari rasa iri dimulai saat kita berhenti menjadikan pencapaian orang lain sebagai tolok ukur kebahagiaan kita. Iri hati itu ibarat meminum racun, tetapi berharap orang lain yang binasa."

"Lalu, bagaimana caranya agar kita tahu kalau kita sudah 'lebih baik' hari ini, Tonakodi?" tanya Ryan lagi, kali ini raut wajahnya tampak jauh lebih rileks dan terbuka.

Tonakodi meletakkan cangkirnya kembali ke tatakan. "Lewat rasa syukur atas hal-hal kecil yang berhasil kau perbaiki hari ini dibandingkan kemarin. Jika kemarin kau mudah gusar saat cuaca panas, dan hari ini kau bisa tersenyum tenang menikmati cangkir kopi di tengah hawa gerah ini. Selamat, hari ini kau sudah lebih baik dari kemarin."

Ia tersenyum tipis, menatap ke arah jendela. "Jika kemarin kau lupa menyapa tetangga, lalu hari ini kau sempat tersenyum tulus pada tukang parkir. Itu adalah kemajuan spiritual yang agung. Hari ini lebih baik dari kemarin bermakna kau menghargai proses pribadimu, sekecil apa pun itu. Kau tidak lagi menuntut dirimu menjadi sempurna dalam semalam, melainkan setia merawat kebaikan-kebaikannya setiap hari."

Om Uly menepuk-nepuk meja kayu di depannya. "Nah! Itu dia. Jadi hari ini, kita sudah jauh lebih baik karena tadi datang membawa resah, dan sekarang pulang membawa ketenangan."

"Pisang gorengnya habis tiga… hehehehehe!" tawa Om Uchen menunjuk piring Ryan yang sudah kosong.

Ryan tertawa lebar. Beban berat yang sempat menggelayut di dadanya perlahan terangkat, menguap bersama hawa panas kota. Suara derit kipas angin dan jeritan AC tua tak lagi terasa mengganggu.

Di lantai dua yang sederhana itu, Ryan menemukan sebuah kesejukan sejati, bukan dari dinginnya mesin pendingin, melainkan dari sudut pandang baru dalam menatap perjalanan hidupnya sendiri. Lebih baik hari ini dari kemarin, bukan berarti mengalahkan orang lain. ***

 

Tana Kaili, 27 Juli 2026

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pitutur Luhur: Gemi, Nastiti, Ngati-ati

Cinta di Antara Angkara

Ombo; Kearifan Lokal Masyarakat Kaili Melestarikan Alam