Dialog Musa dan Fir'aun: Cermin Etika Komunikasi Publik

Oleh: Temu Sutrisno 



Di tengah iklim komunikasi publik kita hari ini, ruang-ruang diskusi sering kali berubah menjadi arena adu urat leher. Panggung politik, opini media massa, hingga kolom komentar media sosial dipenuhi retorika yang saling menjatuhkan. Perbedaan argumentasi tak lagi diselesaikan dengan adu gagasan yang jernih, melainkan sering kali disiram caci maki, dipengaruhi bias kekuasaan, hingga menanggalkan rasa hormat antar sesama.

Padahal, jika kita mau menengok kembali khazanah kisah spiritual dalam Al-Qur'an, ada sebuah ruang perdebatan yang memancarkan pelajaran luar biasa tentang etika dan keindahan berbahasa. Dialog tersebut melibatkan dua kutub yang sangat bertolak belakang: Fir'aun, seorang raja penguasa despotik yang mengaku sebagai tuhan, dan Nabi Musa, utusan Allah yang membawa risalah tauhid. Meskipun berdiri pada posisi ideologis yang bertentangan secara ekstrem, perbincangan di antara keduanya berlangsung dalam koridor argumentasi yang rasional tanpa pernah dibumbui kata-kata kotor atau caci maki murahan.


Adab dalam Perbedaan Paradigma

Secara sosiologis dan politik, Fir'aun berada di puncak tertinggi hierarki kekuasaan Mesir saat itu. Ia didukung armada tempur yang kuat, kekayaan melimpah, dan jutaan pengikut yang menunduk patuh. Di sisi lain, Musa datang sebagai sosok sederhana, didampingi saudaranya Harun, tanpa membawa legitimasi politik resmi maupun kekuatan militer.

Namun, mari perhatikan bagaimana Al-Qur'an merekam interaksi mereka dalam Surah Asy-Syu'ara' ayat 23-29:

Fir'aun bertanya: "Siapa Tuhan semesta alam itu?"

Musa menjawab: "Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antara keduanya, jika kamu sekalian mempercayai-Nya."  

Berkata Fir'aun kepada orang-orang sekelilingnya: "Apakah kamu tidak mendengarkan?"  

Musa berkata (pula): "Tuhan kamu dan Tuhan nenek-nenek moyang kamu yang dahulu."  

Fir'aun berkata: "Sesungguhnya Rasulmu yang diutus kepada kamu sekalian benar-benar orang gila."  

Musa berkata: "Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya jika kamu mempergunakan akal."  

Fir'aun berkata: "Sungguh jika kamu menyembah Tuhan selain aku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan."

Dalam fragmen tersebut, Fir'aun mencoba melakukan serangan pribadi dengan sebutan "gila" serta menggertak menggunakan instrumen kekuasaannya, "memenjarakan". Namun, respons Nabi Musa sangat menakjubkan. Beliau tidak tersulut emosi, tidak membalas dengan umpatan, dan tidak merendahkan martabat lawan bicaranya. Musa tetap konsisten menyampaikan esensi argumennya dengan kepala dingin, lugas, dan terarah, yakni mengimbau lawan bicaranya untuk menggunakan akal sehat.

Sikap konsisten ini juga terlihat dalam Surah Taha ayat 49-54:

Berkata Fir’aun: "Maka siapakah Tuhanmu berdua, hai Musa?"

Musa berkata: "Tuhan kami ialah yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk."

Dia (Fir‘aun) berkata: "Jadi bagaimana keadaan umat-umat yang dahulu?"

Dia (Musa) menjawab: "Pengetahuan tentang itu ada pada Tuhanku, di dalam sebuah Kitab (Lauh Mahfuzh), Tuhanku tidak akan salah ataupun lupa..."

Saat Fir'aun berusaha membelokkan arah diskusi ke perdebatan spekulatif mengenai nasib umat terdahulu, Musa tidak terjebak untuk menghakimi atau menyudutkan nenek moyang Fir'aun secara kasar. Beliau dengan bijak mengembalikan segala urusan gaib dan pengetahuan masa lalu kepada keadilan Allah yang Maha Mengetahui dan tidak pernah lupa.


Cermin Bagi Elit Politik dan Figur Publik

Kisah dialogis ini menyiratkan pesan mendalam bagi para pejabat, politisi, pimpinan lembaga, hingga figur publik di masa kini. Jabatan yang tinggi dan besarnya dukungan massa seharusnya tidak dijadikan alasan untuk merasa berhak berbicara semaunya sendiri tanpa etika. Seorang pemimpin idealnya menjadi teladan dalam bertutur kata dan bersikap.

Kebiasaan para pimpinan dalam berbahasa akan secara otomatis tereskalasi ke tingkat bawah. Ada peribahasa klasik yang mengingatkan kita bahwa guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Apabila para elite di panggung publik membiasakan diri bertutur kata dengan narasi kebencian, saling mencaci, dan merendahkan, maka dampaknya akan berlipat ganda pada masyarakat luas. Pada akhirnya, ketika pemimpin biasa mencaci, maka rakyat pun akan terbiasa memaki. Keretakan sosial dan budaya komunikasi yang beracun pun tak terhindarkan.

Padahal, perintah Allah kepada Musa dan Harun ketika pertama kali diutus menemui Fir'aun adalah mengedepankan ucapan yang lemah lembut (qaulan layyina). Sebagaimana ditegaskan dalam Surah Taha ayat 44: "Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut." Jika terhadap penguasa paling otoriter dalam sejarah saja kita diajarkan untuk menjaga kesantunan bertutur, lantas alasan apa yang bisa membenarkan kita untuk saling mencaci antar sesama anak bangsa?


Menjaga Peradaban Lewat Etika Berkomunikasi

Mungkin tidak semua dari kita mahir membaca Al-Qur'an. Ada yang mahir namun tidak secara rutin. Mungkin tidak memiliki kesempatan menyelami literatur-literatur keagamaan yang mendalam. Namun, setidaknya cerita tentang dialog Musa dan Fir'aun ini sangat populer dan kerap kita dengar. Bagi siapa saja yang gemar membaca buku dan merawat pikiran, kisah ini semestinya dijadikan standar moral dalam berkomunikasi di ruang publik.

Pelajaran terpenting yang diwariskan dari dialog bersejarah ini adalah bahwa kebenaran tidak pernah membutuhkan cara yang kotor untuk disampaikan. Musa mengajarkan kita cara menyampaikan substansi secara lugas dengan mengedepankan argumen yang logis ketimbang serangan personal. Beliau memperlihatkan bagaimana mengendalikan emosi agar tidak terpancing membalas gertakan dengan nada retorika yang serupa, sekaligus mempertahankan adab bertutur yang santun tanpa pernah mengorbankan nilai kebenaran itu sendiri.

Membangun masyarakat yang beradab selalu dimulai dari cara kita berdialog sehari-hari. Sudah saatnya kita mengembalikan kehormatan komunikasi publik dengan mengedepankan argumentasi yang sehat, kesantunan bertutur, serta etika dalam berdiskusi. Sejarah mencatat, tinggi dan rendahnya peradaban suatu bangsa akan selalu tecermin dari bagaimana cara para pemimpin dan rakyatnya saling berbicara satu sama lain.

Jangan wariskan budaya Pemimpin Mencaci, Rakyat Memaki. Ingat, Indonesia merupakan bangsa yang dibangun di atas nilai ketuhanan dan kemanusiaan yang beradab. ***




Penulis adalah Wartawan Mercusuar-Trimedia Grup

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pitutur Luhur: Gemi, Nastiti, Ngati-ati

Cinta di Antara Angkara

Ombo; Kearifan Lokal Masyarakat Kaili Melestarikan Alam