Tonakodi-Luka' bin Luka'
Oleh: Temu Sutrisno
Lebih baik dipimpin orang bodoh daripada pemimpin yang curang (Stephen Mc Kenna). Pernyataan Mc Kenna, merupakan kritik abadi atas perilaku banyak pemimpin dunia yang kerap berlaku curang. Kecurangan mulai dari proses menuju tampuk kekuasaan, hingga proses dia memimpin.
Tana Kaili, 12 Juli 2018
Lebih baik dipimpin orang bodoh daripada pemimpin yang curang (Stephen Mc Kenna). Pernyataan Mc Kenna, merupakan kritik abadi atas perilaku banyak pemimpin dunia yang kerap berlaku curang. Kecurangan mulai dari proses menuju tampuk kekuasaan, hingga proses dia memimpin.
Sentilan
Mc Kenna sepertinya mengena pada kondisi politik Negeri Beribu Pulau,
memanfaatkan peluang transisi demokrasi, banyak orang memilih lubang jarum
sekalipun untuk memenangkan perebutan kekuasaan, meski harus menggeser orang
lain ke ujung jarum. Benar salah, etis tidak etis, bermartabat ataupun bejat bukan
lagi ukuran. Yang haram saja susah, apalagi yang halal. Kira-kira begitu jalan
pemikiran mereka yang terbuai mimpi kekuasaan.
Penggelembungan
suara pemilih, manipulasi data kependudukan, dan politik uang masih mewarnai
isu pemilihan pemimpin. Proses dan hasil pemilihan digugat pihak yang kalah.
Digugat mereka yang mencurigai ada kecurangan.
Begitu
terpilih, janji-janji politik tidak direalisasikan. Korupsi jadi pilihan.
Nyaris tiap hari berita penangkapan pemimpin di daerah A, B, C, dan seterusnya
menghiasi berbagai media. Mirisnya, alih-alih malu pada rakyat, pada Tuhan dan
bertobat, mereka yang tertangkap atau mereka yang terbukti secara hukum tetap
tersenyum, ketawa tidak ada rasa malu dan penyesalan telah menyurangi rakyat.
Kiranya
benar, yang disampaikan filsuf Bertrand Russel. Banyak orang ingin diagungkan,
dijunjung banyak orang. Apapun akan dilakukan untuk tujuan tersebut. Cara
termudah menuju keagungan menurut Bertrand Russel, hanya dan hanya melalui
kekuasaan.
Benarkan
pemimpin curang lebih baik dari pemimpin bodoh? Tidak, batin Tonakodi. Pemimpin
curang dan bodoh sama mudaratnya bagi rakyat.
Tonakodi
teringat wasiat pemimpin agung, Nabiullah Muhammad SAW. Imam Ahmad dan
Ath-Thabrani meriwayatkan hadits dari Anas bin Malik dari Nabi SAW, bahwa sebelum
hari kiamat terjadi, terdapat tahun-tahun penipuan. Pada tahun-tahun tersebut,
orang tepercaya dituduh, orang tertuduh dipercayai, dan arruwaibidhah
berbicara.
Para
sahabat berkata, "Apa ar-ruwaibidhah itu?" Nabi SAW bersabda,
"Yaitu orang bodoh yang berbicara tentang urusan manusia".
Jika para pemimpin manusia seperti itu, seluruh urusan menjadi jungkir-balik. Akibatnya, pembohong dipercayai, orang jujur didustakan, pengkhianat diberi amanah, orang tepercaya dikhianati, orang bodoh bicara, orang berilmu diam.
Jika para pemimpin manusia seperti itu, seluruh urusan menjadi jungkir-balik. Akibatnya, pembohong dipercayai, orang jujur didustakan, pengkhianat diberi amanah, orang tepercaya dikhianati, orang bodoh bicara, orang berilmu diam.
Ath-Thabrani
meriwayatkan hadits dari Abu Dzar dari Nabi SAW bersabda, "Hari Kiamat
tidak terjadi hingga yang berkuasa di dunia ialah Luka' bin Luka'."
Ibnu
Al-Atsir berkata, "Luka' dalam bahasa Arab artinya "budak"
kemudian digunakan untuk orang bodoh dan tercela. Untuk orang laki-laki yang
bodoh dikatakan luka' dan untuk wanita yang bodoh dikatakan laka'".
Kata tersebut seringkali digunakan dalam kata panggilan yang berarti orang hina. Kata tersebut juga dimutlakkan dengan arti anak kecil. Jika kata tersebut digunakan untuk orang dewasa, maka maksudnya ialah orang yang kecil ilmu dan akalnya.
Kata tersebut seringkali digunakan dalam kata panggilan yang berarti orang hina. Kata tersebut juga dimutlakkan dengan arti anak kecil. Jika kata tersebut digunakan untuk orang dewasa, maka maksudnya ialah orang yang kecil ilmu dan akalnya.
Pemimpin
yang bodoh dan curang, sama jeleknya. Sungguh agama melarang untuk memilih
pemimpin bodoh dan curang, karena kebodohan dan kecurangan tidak dibenarkan
dalam ajaran agama.
Kemimpinan, jabatan dan kedudukan
sering kali disalahgunakan untuk menipu rakyat atau orang-orang yang berada
dalam kepemimpinannya. Kecurangan dan sikap mensia-siakan amanah pada sebagian
para pejabat sudah menjadi rahasia umum. Kasus-kasus hukum yang menimpa mereka,
sudah menjadi menu informasi yang kita terima sehari-hari. Padahal perbuatan
yang demikian mendapat ancaman keras dari Nabi SAW. Dari Ma’qil bin Yasar al Muzani, ia berkata, “Aku mendengar
Rasulullah bersabda, tidaklah seorang hamba yang
Allah berikan kepemimpinan atas orang lain, lalu ia mati dalam keadaan berbuat
curang terhadap orang-orang yang dipimpinnya, melainkan Allah akan mengharamkan
atasnya surga. (HR
Muslim)
Sayyidina Umar bin khatab pernah
berkata, pahamilah agama sebelum memimpin. Umar menegaskan bahwa, memahami
agama merupakan pra-syarat menjadi pemimpin. Karena itu sebelum menjadi
pemimpin diharuskan mempelajari agama terlebih dahulu. Jika pemimpin tidak
memahami agama maka akan lahir kepemimpinan orang-orang bodoh. Jika sudah
muncul pemimpin bodoh, maka kehancuran suatu umat sudah di depan mata.
“Ya
Allah semoga pemilihan pemimpin di negeri ini tidak melahirkan pemimpin yang
bodoh, tidak memenangkan mereka yang curang. Jauhkan kami dari pemimpin yang
bodoh dan curang,” doa Tonakodi.***
Tana Kaili, 12 Juli 2018
Komentar
Posting Komentar