Tonakodi-Be Grateful Every Day
Oleh: Temu Sutrisno
UNTUK menjadi besar, berhasil dalam setiap langkah, Oprah Gail Winfrey mengajak pada setiap orang selalu bertindak positif dan bersyukur setiap hari. Stay Positive, Be Grateful Every Day. Itu yang selalu dikemukakan Oprah Winfrey saat acara bincang-bincang di TV yang sangat populer di Amerika, The Oprah Winfrey Show. Berfikir dan bertindak positif dibarengi syukur setiap saat atas kondisi yang ada, menjadi kunci sukses Oprah Winfrey menjadi Ratu Talkshow dunia. Acara Oprah Winfrey Show ditonton lebih dari 48 juta orang tiap minggunya.
Masa kecil kelam, tidak membuat Oprah Winfrey terkurung dalam kegelapan. Dengan modal sikap postif dan rasa syukur, Oprah sukses menjadi salah seorang selebritis papan atas Amerika Serikat dan termasuk dalam wanita terkaya dunia versi Forbes dengan nilai kekayaan 1,3 miliar dolar.
Ajakan Oprah Winfrey, sepertinya tidak berlaku di
negeri ini. Jelang perhelatan politik, pandangan dan sikap negatif bermunculan
di sana-sini. Berbagai cara dilakukan untuk mendiskreditkan lawan politik,
sembari ‘jualan kecap’. Hanya kecapnya yang nomor wahid.
Tanpa data menyerang pihak yang berseberangan secara
politik. Memutarbalikkan fakta, menjadi hal biasa. Hoax menjadi senjata untuk pihak yang tidak seiya-sekata. Kata
berkah menjadi pertimbangan langka di negeri beragama ini. Sungguh aneh,
ataukah ini yang disebut jaman edan?
Tonakodi geleng kepala. Tak habis pikir dengan cara
pandang dan tindakan-tindakan negatif hanya untuk melempangkan jalan menuju
kekuasaan. Kok bisa, di negeri yang menjunjung tinggi moralitas agama, yang
mengedepankan prinsip kemanusiaan dan keadaban, saling sikut, fitnah,
kebohongan, culas dan curang bisa menggurita. Ada yang keliru dengan negeri
ini.
Tonakodi merasa, desakralisasi terhadap nilai-nilai
luhur agama dan budaya bangsa yang tumbuh berkembang pada masapenjajahan dan
menemukan kembali ruhnya dalam gerakan neoliberalisme saat ini, neolib zaman now, mulai terasa menggerogoti
jati diri bangsa.
Nilai dan moralitas keagamaan hanya menjadi milik
personal. Agama tersekat dalam mihrab persembahyangan. Nilai agama tidak
menetes ke ranah sosial. Alih-alih menjadikan nilai agama jadi kunci sukses
kehidupan sosial, yang ada malah politisasi agama.
Jauh jauh sebelum Oprah mengajak penontonnya bersyukur
dan bersikap positif, berabad-abad yang lampau manusia agung Muhammad
Rasulullah SAW telah mengajarkan pada ummat manusia untuk mengembangkan sikap
positif, berhusnuzan pada situasi apapun. Manusia dituntun husnuzan (selalu positif), bukan sebaliknya suuzan (syak prasangka, negatif).
Anak bangsa harus kembali pada sikap selalu husnuzan, harus senantiasa bersyukur guman
Tonakodi.
Semakin bersyukur, keyakinan dan perasaan positif, feeling good akan muncul. Ada perasaan
nyaman dan bahagia dalam diri anak manusia. Besyukur akan membimbing emosi
positif manusia. Dengan emosi positif, akan lahir motivasi dan aktifitas positif.
Bersyukur akan membentuk pola pikir sukses.
Selanjutnya pola pikir sukses akan membentuk pola sukses dalam diri manusia.
Artinya semakin bersyukur, semakin menuju tangga sukses.
Jika kita tidak bersyukur terhadap nikmat, kesuksesan
akan menjauh. Dalam bahasa Al Qur’an, Allah berfirman sesungguhnya jika kamu
bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu
mengingkarinya, sungguh azab-Ku sangat keras.
Duh anak bangsa, kembalilah ke budaya luhur. Budaya
yang mengedepankan nilai-nilai ketuhanan, agar kemanusiaan dan keadaban kembali
tegak.
Bisa jadi dengan keculasan, kecurangan dan sikap
negatif lainnya bisa menang. Bisa meraup kesuksesan tanpa berkah, menang tanpa kemanusiaan yang adil dan
beradab!***
Tana Kaili, 19 Juli 2018
Komentar
Posting Komentar