Postingan

Penjaga Negeri

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno   Kepak sayap elang mulai melemah,  mengitari langit negeri yang luka. Tajinya digergaji, keberaniannya dibungkam, sementara manusia kehilangan budi dan nurani. Keserakahan tumbuh di setiap sudut, api dalam diri dipadamkan perlahan, dan pekerti ditinggalkan seperti debu di jalanan. Elang itu belum mati. Di tengah dingin yang membeku, di bawah pijar gunung yang membiru, matanya tetap menyala tajam. Ia melihat negeri yang nyaris runtuh, melihat rakyat kecil dipaksa diam, melihat keadilan diinjak oleh mereka yang mabuk kuasa di atas singgasana. Lalu suara itu datang—berat, bergemuruh, menggetarkan bumi dan langit. Suara yang membangunkan jiwa-jiwa sunyi, menggerakkan barisan semut hitam yang memanggul harapan dan keberanian. Mereka melangkah tanpa takut, menghunus pedang keadilan untuk menjaga tanah yang hampir kehilangan arah. Wahai penguasa yang meludahi pranata, yang memusuhi budaya dan memberangus akal budi, berhentilah sebelum semu...

‘Membunuh’ Tuhan di Ujung Jari

Gambar
    MERCUSUAR-Pagi yang cerah. Tonakodi menghadiri undangan diskusi sekelompok mahasiswa. Temanya cukup menarik, tantangan gerakan mahasiswa di era society 5.0. Menarik. Ya, karena tema diskusi sangat kontemporer dan bersesuaian dengan kondisi saat ini dan masa depan. Di hadapan peserta diskusi, Tonakodi berbicara sedikt ilmiah- (dan sedikit  sok  pintar. ..hehehe). Tidak seperti biasanya bicara ala rakyat kecil di  dego-dego  tua bawah pohon  Talise . “Menyambut era society 5.0, karakter era Revolusi Industri 4.0 masih relevan. Setiap orang dituntut berpikir kritis, kreatif, dan inovatif agar mampu memecahkan masalah yang rumit, masalah yang sangat komplek,” Tonakodi mulai mengantar diskusi yang menurut dia sendiri, akan sangat membosankan. Maklum, Tonakodi lebih akrab dengan isu harga cabai, ikan, atau mahalnya harga beras. Bukan hanya itu, era 4.0 mengharuskan orang  memiliki kemampuan manajerial, bisa berkoordinasi dengan orang l...

Mengejar Jabatan

Gambar
    MERCUSUAR-Sepekan terakhir, orang di kampung Tonakodi sibuk membicang soal rebutan jabatan di sebuah partai tertentu dan pelantikan pejabat. Tidak seperti biasa, Tonakodi tidak terlalu serius mengikuti perbincangan teman-temannya. Sore menjelang maghrib, di bawah pohon Talise ujung lorong, Tonakodi hanya diam saat teman-temannya asyik berbicang. Tak urung sikap Tonakodi membuat teman-temannya heran. Mereka pun bertanya, kenapa. Tonakodi hanya tersenyum. Teman-temannya terus bertanya. Akhirnya Tonakodi menjawab singkat. “Memangnya urusan jabatan di partai berpengaruh terhadap nasib orang kecil seperti kita?” “Jangan terlalu berharap. Tak perlu dipikirkan mereka rebutan jabatan. Toh belum tentu mereka memikirkan kita, rakyat kecil. Nanti juga akan selesai sendiri masalahnya,” kata Tonakodi. Lho, ini soal kualitas demokrasi, sambung salah satu temannya. Hahahaha….ini politik mangge . Politik di negeri kita, tidak seru kalau kalau tidak ada sandiwara. Sepert...

Bukan Sekadar Populisme

Gambar
  MERCUSUAR-Pagi yang cerah. Tonakodi menyempatkan diri berolahraga ringan, berjalan santai naik ke bukit kecil di ujung kampung. Jangan bayangkan Tonakodi olahraga pagi itu dengan pakaian seperti lazimnya orang olahraga. Ia berjalan santai masih dengan pakaian yang ia kenakan untuk salat subuh. Satu kilo meter menuju perbukitan, Tonakodi menyaksikan orang lalu lalang. Sebagian berolahraga, sebagian mengejar waktu untuk bekerja. Sampai di atas bukit, sudah ada beberapa orang di sana. Menyaksikan panorama pagi selain menentramkan jiwa, juga membuat raga semakin sehat. Betapa indah kampungku, batin Tonakodi. Namun ada yang mengganjal dalam pikiran Tonakodi. Semakin matanya jauh memandang, keindahan alam makin pudar. Perbukitan jauh di seberang kampung, mulai gundul di sana-sini. Aktivitas tambang telah menodai keasrian alam. Di tengah gejolak pemikiran seputar aktivitas tambang, Tonakodi menangkap pembicaraan yang tak kalah menarik dari beberapa orang di atas bukit. T...

Mencari Pejabat Jujur

Gambar
    MERCUSUAR-Seperti hari-hari biasa, Tonakodi saban hari jelang maghrib duduk-duduk di dego-dego di bawah pohon Talise . Sembari menunggu azan, Tonakodi berbicang dengan kawan dan tetangga satu lorong. Dego-dego di bawah pohon Talise itu sudah bertahun-tahun jadi tongkrongan membahagiakan bagi orang-orang kecil seperti Tonakodi dan kawan-kawan seperbincangan. Bagaimana tidak, dego-dego itu menjadi tempat silaturahim, merekatkan hubungan antar tetangga sekaligus mendiskusikan banyak hal. Sore itu, tetangga dari lorong sebelah ikut bergabung. “Eh…macam so lama komiu te kelihatan. Bagaimana kabar le ?” sapa Tonakodi. “Alhamdulillah baik,” sahut sang tetangga. Masih jualan ikan? tanya kawan lainnya. “Masih. Alhamdulillah makin berkembang,” kata tetangga lorong sebelah tersebut. Di tengah situasi ekonomi seperti ini, syukur masih bisa bertahan. Apalagi kalau berkembang lebih maju usahanya, kata Tonakodi menimpali. “Apa rahasianya le ?” Biasa saja,...

Tiga Jagoan

Gambar
 

Menyenangkan Rakyat Kecil

Gambar
  Oleh: Temu Sutrisno  Duduk di dego-dego , Tonakodi bersama-sama kawan-kawan seperbincangan sore itu ngobrol kesana-kemari. Di bawah pohon Talise atau ketapang menunggu maghrib, perbincangan sampai pada rencana pengukuhan Ketua RT dan Ketua RW di kampung mereka. Satu per satu kawan berbincang Tonakodi mulai menghintung janji-janji Ketua RT dan Ketua RW. Sebagian berharap dan bahkan dengan yakin, Ketua RT dan RW dapat memenuhi janji-janjinya sebelum pemilihan. Namun ada juga yang ragu, pimpinan rakyat itu akan memenuhi janjinya. Bagi kawan Tonakodi yang meragukan, alasannya sederhana. Janji-janji sebelum pemilihan Ketua RT dan RW, seperti pemilihan di kampung sebelah yang lebih besar. Di kampung itu, banyak janji-janji tidak terlaksanakan karena tidak rasional. Dari awal, rakyat dininabobokan dengan janji yang membuai. Tonakodi hanya tersenyum mendengar obrolan para sahabatnya itu. Melihat Tonakodi senyum-senyum, kawan-kawannya bertanya. Kenapa hanya senyum-se...