Postingan

Ombo; Kearifan Lokal Masyarakat Kaili Melestarikan Alam

Gambar
(Praktik Konservasi Sumberdaya Air di Kelurahan Pantoloan) Oleh: Temu Sutrisno PENDAHULUAN Sumber Daya Air merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa yang memberikan manfaat untuk kesejahteraan manusia. Seperti tercantum dalam Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, bahwa sumber daya air dikuasai oleh negara dan digunakan sebesar-besar untuk kemakmuran rakyat. Air sampai saat ini merupakan sumber daya yang belum tergantikan dalam memberikan dukungan dan kehidupan bagi seluruh mahluk hidup. Sehingga keberadaannya harus dijadikan prioritas utama dalam pelestariannya untuk memberikan kehidupan bagi seluruh mahluk hidup. Air adalah sumber daya alam yang mutlak diperlukan oleh manusia dan mahluk hidup lainnya, dan mempunyai arti serta peran penting dalam berbagai sektor kehidupan manusia. Air merupakan sumber daya yang memiliki sifat multi sektoral. Semakin berkembang dan maju tingkat penghidupan masyarakat semakin banyak air yang dibutuhkan, se...

Merekonstruksi Hubungan Manusia dengan Alam dalam Bingkai Religius[1]

Oleh: Temu Sutrisno[2]     Islam adalah agama yang sangat memperhatikan keseimbangan dan kelestarian lingkungan. Banyak ayat-ayat al-Qur’an dan as-Sunnah yang membahas tentang lingkungan. Pesan-pesan al-Qur’an mengenai lingkungan sangat jelas dan visioner. Dalam pandangan Islam, manusia adalah makhluk terbaik di antara semua ciptaan Tuhan (QS. 95:4; 17:70) yang diangkat menjadi khalifah (QS.2:30) dan memegang tanggung jawab mengelola bumi dan memakmurkannya (QS.33:72). Sebagai khalifah di muka bumi, manusia diperintahkan beribadah kepada-Nya dan diperintah berbuat kebajikan dan dilarang berbuat kerusakan, “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (QS. 28:77). Bumi dan semua yang berada di dalamnya pada hakikatnya diciptakan Allah untuk manusia (QS. 2: 29). Segala yang ada di langit dan bumi, daratan dan lautan, matahari dan bulan, malam dan siang, tanaman dan buah-buahan, binatang mel...

Jangan Tanam Kelapa di Pot

Gambar
Oleh: Temu sutrisno Sore itu, Toma Langgai tersenyum ceria. Sahabatnya, Mangge Dolla yang tidak ketemu beberapa tahun belakangan mengunjunginya. Mangge Dolla bilang, mumpung ada kegiatan di kota, sekalian singgah silaturrahim. Duduk di bawah pohon jeruk, Toma Langgai menerima Mangge Dolla dan Iponk sambil memerhatikan si bungsu yang bermain di halaman. Tidak ada teh, tidak ada kudapan sekadar teman ngobrol. Mangge Dolla enggan masuk ke gubuk Toma Langgai. “Biar jo di sini saja, lebih enak, santai,” kata Mangge Dolla usai salaman dan pelukan. “Lama betul le, kita te ketemu,” Mangge Dolla memulai perbicangan. “Saya seperti ingin kembali ke sini. Enak, banyak teman-teman,” lanjutnya. Kenapa mesti pindah ulang ke sini? Di sana kan sudah bagus. Usaha sudah berkembang, timpal Toma Langgai. Kalau mau pindah, jangan balik lagi kemari. Bagus kalau ke kota besar. Di sana mungkin bisa jauh lebih berkembang, saran Toma Langgai. “Iya le, kadang saya berfikir sepertinya saya bisa bertarung di k...

Sertifikat Kompetensi Wartawan Hanya Berlaku Lima Tahun

UKW Dilakukan Berjenjang Kode Etik Jurnalistik Diujikan dari Jenjang Wartawan Muda Penguji Harus Lulus Asssesment TERHITUNG mulai tanggal 1 Juli 2017, sertifikat dan kartu kompetensi wartawan akan diberlakukan selama lima tahun. Setelah lima tahun, wartawan diharuskan mengikuti kembali uji kompetensi wartawan (UKW). Rencana penetapan aturan Dewan Pers tersebut disampaikan anggota Dewan Pers yang juga Sekjen PWI, Hendry Ch Bangun, saat paparan umum Training of Trainer (ToT) Penguji Kompetensi Wartawan yang dilakukan PWI, (14-15/4/2017) di Karawang Jawa Barat. Hal itu menurut Hendry untuk menjaga profesionalisme wartawan. UKW tidak boleh diberlakukan sekali ujian seumur hidup. “Dunia jurnalistik terus berkembang. Olehnya pengetahuan, skil dan ketaatan terhadap etika profesi juga harus dikalibrasi setiap saat. Kita semua harus terus bertanya pada diri sendiri, apakah saya masih profesional, apakah saya benar-benar kompeten terhadap profesi saya. Nah untuk mengukur it...