Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2025

Cahaya Hati di Antara Kembang Api

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno  Sore itu, langit berwarna jingga seperti kain sarung tua yang sering dipakai Tonakodi untuk salat asar. Usai mengucap salam terakhir, ia tidak langsung berdiri. Ia menunduk agak lama, seperti sedang menunggu hatinya benar-benar tiba di dunia nyata.  Setelah itu barulah ia melangkah ke dego-dego tua di samping rumahnya—dego-dego yang sudah lebih dulu uzur daripada pemiliknya, tetapi tetap setia menampung siapa saja yang mau duduk dan berpikir. Di dego-dego itu sudah tersedia teh panas, kopi hitam, jagung rebus yang baunya membuat perut berzikir sendiri, serta burongko dan roti tunu yang masih hangat dan lembut. Lembut seperti nasihat yang tidak memaksa. Pohon Talise (ketapang) di samping dego-dego berdiri seperti guru bijak yang tidak banyak bicara. Daunnya berguguran pelan, seolah ikut menyambut tahun baru dengan cara yang lebih sopan daripada petasan. Tak lama kemudian, Om Uchen datang lebih dulu. Ia duduk sambil mengelus perutnya. “Tonakodi,” katanya, “j...

Deepfake: Sisi Gelap Teknologi Digital

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Perkembangan teknologi digital telah membawa banyak kemudahan bagi kehidupan manusia. Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), membantu pekerjaan menjadi lebih cepat, akurat, dan efisien. Namun, di balik manfaat tersebut, ada sisi gelap yang perlu diwaspadai bersama. Salah satunya adalah teknologi deepfake. Deepfake adalah teknologi berbasis AI yang mampu membuat atau memanipulasi video, gambar, dan suara sehingga terlihat dan terdengar sangat nyata, padahal sebenarnya palsu. Wajah seseorang bisa ditempelkan ke tubuh orang lain, suara bisa ditiru dengan sangat mirip, bahkan ekspresi dan intonasi dapat disesuaikan. Bagi orang awam, membedakan mana yang asli dan mana yang palsu menjadi semakin sulit. Ancaman dari deepfake dan misinformasi kini sangat signifikan, terutama karena teknologi ini semakin mudah diakses dan digunakan. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga organisasi, negara, bahkan sistem demokrasi secara keseluruhan...

Cancel Culture dan Doxing dalam Perspektif Hukum dan Etika

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno   Di era media sosial, ruang publik tidak lagi dimonopoli oleh media arus utama atau negara. Setiap orang bisa berbicara, mengkritik, bahkan menghakimi. Dari ruang digital inilah muncul dua fenomena yang kerap berjalan beriringan: cancel culture dan doxing . Keduanya sering dibungkus dengan jargon keadilan sosial, tetapi dalam praktiknya menyimpan persoalan serius, baik secara etika maupun hukum. Cancel culture lazim dipahami sebagai upaya boikot massal terhadap individu, produk, atau institusi yang dianggap melanggar nilai atau norma publik. Sementara doxing adalah tindakan menyebarkan data pribadi seseorang seperti alamat rumah, nomor telepon, dan identitas keluarga tanpa izin, dengan tujuan mempermalukan, mengintimidasi, atau bahkan membahayakan. Di sinilah masalah bermula. Jika cancel culture masih menyisakan perdebatan, doxing secara tegas melanggar hukum dan etika. Keduanya sering menjadi permasalahan kait mengait. Cancel Culture : Antara Kon...

Selebrasi Barang Bukti

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Ahad pagi itu cerah betul, seperti iklan kopi yang menjanjikan ketenangan hidup. Matahari belum tinggi, tapi sinarnya sudah cukup untuk memperlihatkan mana yang asli dan imitasi. Di halaman samping rumah Tonakodi, di bawah pohon Talise yang daunnya lebar-lebar, berdiri dego-dego tua, gubuk sederhana dengan bangku kayu panjang yang sudah lama pensiun dari urusan pencitraan. Catnya terkelupas, tapi tidak pernah berbohong tentang usianya. Tidak seperti sebagian pejabat yang makin tua justru makin rajin tampak muda di baliho. Di atas dego-dego terhidang kopi hitam, pisang, dan jagung rebus. Tidak ada katering. Tidak ada spanduk. Tidak ada kamera. Tapi anehnya, justru di tempat seperti inilah pembicaraan soal negara sering lebih jujur. Tonakodi duduk di ujung. Perawakannya sedang, kulitnya sawo matang khas Nusantara, kaosnya tua tapi bersih. Ia menyeruput kopi pelan, seperti sedang mengukur jarak antara janji dan kenyataan. “Ahad itu hari paling jujur,” katanya. “Kenapa?...

Kanistri; Cinta tak Mengenal Rupa

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno / W akil Sekretaris Paguyuban Kesenian Eko Wandowo Sulawesi Tengah Di balik wajahnya yang bulat, hidung pesek, perut buncit, dan tawa yang sering meledak-ledak seperti kentongan ronda, Semar sesungguhnya menyimpan rahasia besar. Ia bukan sekadar abdi, bukan pula hanya pelawak pengiring ksatria. Ia adalah Batara Ismaya yang turun ke dunia, menyamar menjadi pamong agar bisa lebih dekat dengan manusia dan menuntun mereka tanpa jarak kuasa. Suatu ketika, saat mengabdi pada Resi Manumanasa, Semar diutus menimba air suci di tengah rimba sunyi. Di sanalah ia mendengar tangis lirih yang bukan tangis biasa. Bukan tangis manusia, bukan pula suara binatang. Tangis itu seperti kidung patah hati para dewa. Semar mengikuti suara itu dan mendapati dua bidadari jelita, Kanistri dan Kaniraras, tengah terkurung kutukan. Sayap mereka menghitam, sinar wajahnya meredup. Kutukan itu hanya bisa dipatahkan oleh ketulusan hati, bukan oleh kesaktian semata. Semar menggaruk kepalanya. “ Lha i...

Mencari Penebang Pohon

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Siang itu Tonakodi singgah di kediaman Om Uly. Di sana sudah ada Ishaq, Rifki, dan Om Uchen, duduk lesehan berteman kopi hitam dan jagung rebus. Belum juga Tonakodi memarkir motor bututnya, Om Uchen so batariak. “Tonakodi, e komiu punya senter hape ada menyala.” Tonakodi tersenyum, memarkir motornya. Ia lantas duduk bersama ketiga koleganya. “Kopi atau teh?” tanya Om Uly. “Teh saja le. Jangan banyak gula, rasa manis jambu jo,” sahur Tonakodi. “Kenapa menyala senter siang-siang?” Om Uchen kembali bertanya. “Hehehe… Om Uchen ini na sewot mpuu. Itu senter tadi menyala sejak dari pasar,” jawab Tonakodi sekenanya. “Kenapa ba senter di pasar siang-siang begini?” tukas Om Uly. “Bantu-bantu Gubernur dan polisi cari penebang pohon.” Hahaha… sontak teras Om Uly dipenuhi tawa. “Bah… aneh-aneh saja Tonakodi,” celutuk Ishaq sambil memegang perutnya. “Aneh bagaimana? Saya hanya berniat membantu,” sahut Tonakodi, wajahnya sok serius. “Aneh itu, kalau gubernur hanya heboh saat seba...

Kemandirian Dewi Aswani

Gambar
  Oleh: Temu Sutrisno / Wakil Sekretaris Paguyuban Kesenian Eko Wandowo Sulawesi Tengah   Dewi Aswani dikenal sebagai putri tercantik dan paling lemah lembut di Suralaya.Wajahnya memancarkan kedamaian seperti purnama, suaranya setenang gemericik air dari pancuran kahyangan. Banyak dewa dan ksatria memuja kecantikannya, memohon agar ia menerima hati mereka. Namun Aswani bukan perempuan yang silau oleh pujian. Ia adalah putri yang cerdas, teguh, dan memiliki jiwa seperti baja yang diselimuti sutra. Takdir cinta Aswani justru jatuh pada Kumbakarna , raksasa perkasa dari Alengka, adik Prabu Dasamuka. Kumbakarna bukanlah ksatria tampan seperti para pangeran kahyangan. Tubuhnya menjulang bagai gunung, suaranya menggemuruh seperti guntur. Namun hatinya bersih, jujur, dan penuh keberanian yang jarang dimiliki manusia maupun dewa. Dalam pernikahan mereka, banyak yang berbisik keheranan. “Bagaimana mungkin putri indah kahyangan bersedia menjadi istri raksasa Alengka?” “Apakah ...