Cahaya Hati di Antara Kembang Api
Oleh: Temu Sutrisno Sore itu, langit berwarna jingga seperti kain sarung tua yang sering dipakai Tonakodi untuk salat asar. Usai mengucap salam terakhir, ia tidak langsung berdiri. Ia menunduk agak lama, seperti sedang menunggu hatinya benar-benar tiba di dunia nyata. Setelah itu barulah ia melangkah ke dego-dego tua di samping rumahnya—dego-dego yang sudah lebih dulu uzur daripada pemiliknya, tetapi tetap setia menampung siapa saja yang mau duduk dan berpikir. Di dego-dego itu sudah tersedia teh panas, kopi hitam, jagung rebus yang baunya membuat perut berzikir sendiri, serta burongko dan roti tunu yang masih hangat dan lembut. Lembut seperti nasihat yang tidak memaksa. Pohon Talise (ketapang) di samping dego-dego berdiri seperti guru bijak yang tidak banyak bicara. Daunnya berguguran pelan, seolah ikut menyambut tahun baru dengan cara yang lebih sopan daripada petasan. Tak lama kemudian, Om Uchen datang lebih dulu. Ia duduk sambil mengelus perutnya. “Tonakodi,” katanya, “j...