Cahaya Hati di Antara Kembang Api

Oleh: Temu Sutrisno 





Sore itu, langit berwarna jingga seperti kain sarung tua yang sering dipakai Tonakodi untuk salat asar. Usai mengucap salam terakhir, ia tidak langsung berdiri. Ia menunduk agak lama, seperti sedang menunggu hatinya benar-benar tiba di dunia nyata. 

Setelah itu barulah ia melangkah ke dego-dego tua di samping rumahnya—dego-dego yang sudah lebih dulu uzur daripada pemiliknya, tetapi tetap setia menampung siapa saja yang mau duduk dan berpikir.

Di dego-dego itu sudah tersedia teh panas, kopi hitam, jagung rebus yang baunya membuat perut berzikir sendiri, serta burongko dan roti tunu yang masih hangat dan lembut. Lembut seperti nasihat yang tidak memaksa.

Pohon Talise (ketapang) di samping dego-dego berdiri seperti guru bijak yang tidak banyak bicara. Daunnya berguguran pelan, seolah ikut menyambut tahun baru dengan cara yang lebih sopan daripada petasan.

Tak lama kemudian, Om Uchen datang lebih dulu. Ia duduk sambil mengelus perutnya.

“Tonakodi,” katanya, “jagung rebus ini jangan cuma jadi simbol kesederhanaan. Harus betul-betul dimakan.”

“Tenang, Om,” jawab Tonakodi, “di sini simbol dan isi perut selalu sejalan. Hehehehe.”

Disusul Om Uly yang membawa kabar terbaru dunia, meski dunia tidak pernah minta dikabari. Ia langsung bicara soal rencana pesta tahun baru di kota.

“Meski ada imbauan dari aparat, kembang api tahun ini sepertinya tetap luar biasa,” katanya antusias. “Katanya satu kecamatan bisa habis ratusan juta.”

Tonakodi menuangkan kopi dengan tenang. “Kopi saja kalau terlalu berlebihan, rasanya jadi pahit. Begitu juga yang terlalu mahal karena brand dan gengsi. Bikin kanker, kantong kering. Hahaha” ujarnya.

Ami datang sambil tersenyum. Rahmat menyusul belakangan, duduk agak ke pinggir, seperti orang yang masih ragu apakah hidup ini mau serius atau bercanda.

Mereka duduk melingkar. Angin sore menggeser daun talise, seperti kipas alami dari langit.

“Tonakodi,” kata Rahmat, “tahun baru hie komiu naria resolusi?”

Tonakodi tersenyum kecil. “Resolusiku tiap tahun sama.”

“Apa itu?”

“Bangun tidur masih diberi napas.”

Mereka tertawa. Om Uchen hampir tersedak jagung.

Om Uly masih tertawa, sambil melap kaca matanya. “Komiu ini macam sufi zaman dulu, Tonakodi le. Hidup harus dirayakan.”

“Benar,” kata Tonakodi, “tapi yang dirayakan jangan cuma pergantian angka. Kita ini sering lebih semangat menyambut tahun baru, daripada menyambut salat subuh.”

Ami menimpali, “Tapi orang-orang bilang momen setahun sekali itu penting.”

“Penting,” jawab Tonakodi, “tapi pergantian bulan, pekan, bahkan hari juga penting. Semua itu tanda kita sedang berjalan menuju satu tanggal yang pasti, yaumul hisab.”

Mendadak suasana agak hening. Pohon Talise menjatuhkan satu dua daun yang menguning, seolah ingin ikut nimbrung.

Om Uchen memecah suasana. “Jadi menurut komiu, tidak boleh bakar kembang api?”

“Boleh saja. Terserah cara orang menikmati tahun baru,” kata Tonakodi santai, “asal yang terbakar bukan akal sehat.”

Mereka tertawa lagi.

Tonakodi melanjutkan, “Coba dihitung. Satu daerah habiskan ratusan juta, bahkan miliaran. Kalau seluruh dunia?”

Om Uly mengangkat alis. “Bisa bangun negara baru.”

“Bisa membantu melunasi atau mengurangi utang negara,” sambung Tonakodi. “Bisa juga untuk modal kerja, bantu fakir miskin, dan korban bencana. Kembang api indah, tapi perut lapar tidak kenyang oleh cahaya.”

Rahmat mengangguk pelan. “Aku pernah lihat anak kecil menutup telinga waktu kembang api. Bukan kagum, tapi takut.”

“Dengar yang Rahmat bilang” kata Tonakodi, “bahkan kebahagiaan seseorang kadang bikin orang lain cemas, ketakutan.”

Ami menuang teh. “Jadi apa seharusnya dilakukan menyambut tahun baru?”

Tonakodi menyeruput kopi, lalu menjawab pelan, “Sebelum tidur, hisab diri.”

“Hah?” Om Uchen melotot. “isap rokok?”

“Bukan,” Tonakodi tertawa. “Menghisab diri, introspeksi. Menghitung kesalahan sebelum dihitungkan. Istighfar, mohon ampun. Memaafkan semua kesalahan orang lain, yang disengaja maupun tidak.”

“Berat,” kata Om Uly.

“Berat karena jarang dilatih,” jawab Tonakodi. “Padahal setiap malam kita diberi simulasi kematian bernama tidur.”

Rahmat terdiam, mengusap daun Talise yang jatuh di sebelahnya.

Tonakodi melanjutkan, “Lalu buat perencanaan hidup yang lebih baik. Tidak perlu muluk. Cukup besok lebih jujur dari hari ini, lebih sabar dari kemarin.”

Ami tersenyum. “Iyo le, tetap dambil memohon ridha Allah.”

“Itu inti semua rencana,” kata Tonakodi. “Tanpa bimbingan-Nya, resolusi cuma daftar keinginan.”

Om Uchen menghela napas panjang. “Jadi dego-dego ini lebih suci daripada lapangan pesta?”

“Bukan soal tempat,” jawab Tonakodi. “Soal niat. Di mana pun, kalau hatinya ingat Tuhan, di situ ada cahaya. Kembang api paling terang pun kalah oleh cahaya hati yang bersyukur.”

Matahari hampir tenggelam. Suara tahrim menjelang azan magrib terdengar dari kejauhan, menyatu dengan angin dan dedaunan.

Mereka bangkit perlahan. Jagung habis, kopi tinggal ampas, burongko kandas, roti tunu tersisa satu. Sengaja disisakan, kata Om Uchen, “Biar besok ada bukti kita tidak rakus.”

Sebelum masuk rumah, Tonakodi menoleh ke dego-dego tua dan pohon Talise.

“Tahun baru datang,” katanya pelan, “tapi tugas kita tetap sama, menjadi hamba, bukan sekadar penonton waktu.”

Pohon talise diam, tapi entah kenapa, semua merasa ia mengangguk.

Sore itu, tanpa kembang api, tanpa terompet, mereka menyambut tahun baru dengan sesuatu yang jarang dirayakan. Muhasabah dan kesadaran.***


Palu, 31 Desember 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kedudukan DPRD Menurut UU Nomor 23 Tahun 2014

Cinta di Antara Angkara

Dewi Themis Menangis