Mencari Penebang Pohon
Oleh: Temu Sutrisno
Siang itu Tonakodi singgah di kediaman Om Uly. Di sana sudah ada Ishaq, Rifki, dan Om Uchen, duduk lesehan berteman kopi hitam dan jagung rebus.
Belum juga Tonakodi memarkir motor bututnya, Om Uchen so batariak.
“Tonakodi, e komiu punya senter hape ada menyala.”
Tonakodi tersenyum, memarkir motornya. Ia lantas duduk bersama ketiga koleganya.
“Kopi atau teh?” tanya Om Uly.
“Teh saja le. Jangan banyak gula, rasa manis jambu jo,” sahur Tonakodi.
“Kenapa menyala senter siang-siang?” Om Uchen kembali bertanya.
“Hehehe… Om Uchen ini na sewot mpuu. Itu senter tadi menyala sejak dari pasar,” jawab Tonakodi sekenanya.
“Kenapa ba senter di pasar siang-siang begini?” tukas Om Uly.
“Bantu-bantu Gubernur dan polisi cari penebang pohon.”
Hahaha… sontak teras Om Uly dipenuhi tawa.
“Bah… aneh-aneh saja Tonakodi,” celutuk Ishaq sambil memegang perutnya.
“Aneh bagaimana? Saya hanya berniat membantu,” sahut Tonakodi, wajahnya sok serius.
“Aneh itu, kalau gubernur hanya heboh saat sebatang pohon di pinggir jalan depan kediaman ditebang. Padahal banyak pohon di kota ini ditebang, selama ini diam saja.”
“Perkebunan dan pertambangan di mana-mana. Berapa banyak pohon ditebang? Belum pernah dia komentar.”
“Wah… wah, serius rupanya Tonakodi le,” Om Uchen mulai mengelus jenggot imajiner—padahal ia tak berjenggot.
“Lalu? Apa maksudnya bantu polisi?” tanya Om Uly.
“Hampir setiap banjir dan longsor selalu turun kayu gelondongan, selalu disalahkan penggundulan hutan. Tapi tersangkanya tidak semua terungkap. Apalagi tertangkap,” cerocos Tonakodi.
“Tadi saya bantu senter, siapa tahu ada yang lari ke mari. Mungkin bisa lapor polisi terdekat.”
Suasana tiba-tiba hening. Bahkan ayam tetangga berhenti berkokok, entah kebetulan atau ikut mikir.
“Om Uly, mana tehku?” sergah Tonakodi, mencairkan suasana.
“Hahaha… pantas saja Tonakodi bicara tanpa rem, rupanya belum ada pengganjal mulut,” ujar Om Uchen sambil menuangkan teh.
Tonakodi menyeruput, lalu melanjutkan dengan nada lebih kalem.
“Saya setuju dengan gubernur, kota jangan ditanami beton melulu. Hanya gedung dan gudang, seperti lagu Nasidaria. Saya setuju hukum harus tegas terhadap pembalakan liar dan izin-izin tak beraturan. Begitu juga dengan usaha yang mengabaikan lingkungan dan kemanusiaan. Tapi jangan insidentil. Bersuara hanya karena pohon di depan kediamannya atau bicara hukum saat ada bencana. Setelah itu… hmmm… seperti tidak ada masalah.”
Rifki yang sejak tadi sibuk main hape, entah main gim atau pura-pura sibuk, akhirnya angkat suara.
“Tonakodi, kalau menurut komiu, pohon itu sepenting apa sih? Kan sekarang ada AC untuk pendingin, ada beton untuk mengatasi longsor, ada teknologi.”
Tonakodi tersenyum. Ini senyum khasnya, senyum orang yang baru saja dapat bahan ceramah gratis.
“Iki, coba kau bayangkan tubuh manusia,” kata Tonakodi. “Paru-paru itu apa?”
“Buat bernapas.”
“Nah, pohon itu paru-paru bumi. Tanpa dia, bumi sesak napas. Kalau bumi sesak, manusia ikut megap-megap, ba hosa. Bedanya, bumi tidak bisa pakai inhaler.”
Om Uchen tertawa kecil. “Bah, itu perumpamaan bikin napas saya ikut berat.”
“Secara ekologis,” lanjut Tonakodi, kini seperti dosen dadakan, “akar pohon menahan tanah. Kalau pohon habis, tanah jadi labil. Begitu hujan deras, longsor. Air hujan tak sempat meresap, langsung lari ke sungai, sungai meluap, banjir. Setelah banjir, kita marah-marah ke alam, padahal alam cuma balas perlakuan.”
“Jadi alam itu dendam?” tanya Om Uly sambil menikmati jagung rebus olahan istrinya.
“Bukan dendam” jawab Tonakodi. “Alam itu jujur. Kita tebang, dia tumbang. Kita gunduli, dia longsor. Tidak pakai drama.”
Rifki manggut-manggut. “Terus hubungannya dengan agama?”
Nah, ini yang ditunggu.
Tonakodi menggeser duduknya, seperti ustaz hendak naik mimbar.
"Pertanyaan ini cocok Ustaz Ishaq yang jawab."
“Dalam Islam, menanam pohon itu ibadah. Nabi Muhammad SAW bersabda, kalau seorang Muslim menanam pohon lalu buahnya dimakan manusia, burung, atau hewan, itu jadi sedekah.” ujar Ishaq
“Berarti kalau ayam makan mangga kita, kita dapat pahala?” Om Uchen menyela.
“Iya,” jawab Ishaq cepat. “Asal yang punya ayam tidak ditagih bayar.”
Hahaha… teras kembali riuh.
“Bahkan,” sambung Ishaq, “dalam hadis lain, Nabi bersabda, kalau kiamat sudah di depan mata dan di tanganmu ada bibit tanaman, tanamlah. Artinya apa? Merawat bumi itu kewajiban sampai detik terakhir.”
Om Uly terdiam. “Berarti dosa juga kalau sembarang tebang?”
“Jelas." Kali ini Tonakodi yang menjawab. “Manusia itu khalifah fil ard, pemimpin di bumi. Bukan perusak bumi. Kalau pemimpin malah hobi gundulin hutan, itu bukan khalifah, itu… ya sudahlah, nanti kita ribut.”
Rifki tersenyum. “Selama ini saya kira nanam pohon itu kerjaan dinas lingkungan hidup atau kehutanan saja.”
“Itu penyakit kita,” sahut Tonakodi. “Semua diserahkan ke pemerintah. Sampah salah pemerintah, banjir salah pemerintah, panas salah pemerintah. Padahal kita sendiri menebang beberapa pohon, tanam kembali satu saja malas.”
Om Uchen mengangguk. “Saya jadi ingat, dulu halaman rumah rindang. Sekarang panas. Anak-anak main hape di dalam, bukan karena malas, tapi karena di luar seperti oven.”
“Nah!” seru Tonakodi. “Pohon itu juga guru akhlak. Dia memberi tanpa pamrih. Berbuah, berdaun, menaungi. Kita? Baru tanam satu, sudah hitung-hitungan: kapan panen, kapan untung.”
Semua terdiam, merenung. Bahkan senter hape Tonakodi masih menyala, setia sejak pasar.
“Ada rencana konkret?” tanya Rifki akhirnya.
Tonakodi berdiri, menepuk-nepuk celananya.
“Besok kita tanam pohon. Tidak usah tunggu proyek. Satu rumah satu pohon. Kalau tidak punya halaman, tanam di pot. Kalau tidak punya pot, pakai kaleng cat. Kalau tidak punya kaleng, pinjam ide. Jangan pinjam alasan.”
Om Uly tertawa. “Kalau begitu, senter hape itu jangan dimatikan dulu.”
“Kenapa?” tanya Om Uchen.
“Biar terang. Siapa tahu kita benar-benar ketemu penebang pohon,” jawab Om Uly.
Tonakodi tersenyum lebar.
“Kalau ketemu, jangan dimaki. Ajak tanam. Karena menanam pohon itu bukan cuma soal lingkungan, tapi juga perwujudan iman.”
Angin siang berembus pelan. Daun mangga di halaman Om Uly bergoyang, seakan ikut mengangguk setuju.
Perbincangan berlanjut dengan kopi hitam, teh, dan jagung rebus.***
Palu, 24 Desember 2025

Komentar
Posting Komentar