Kanistri; Cinta tak Mengenal Rupa

Oleh: Temu Sutrisno/Wakil Sekretaris Paguyuban Kesenian Eko Wandowo Sulawesi Tengah


Di balik wajahnya yang bulat, hidung pesek, perut buncit, dan tawa yang sering meledak-ledak seperti kentongan ronda, Semar sesungguhnya menyimpan rahasia besar. Ia bukan sekadar abdi, bukan pula hanya pelawak pengiring ksatria. Ia adalah Batara Ismaya yang turun ke dunia, menyamar menjadi pamong agar bisa lebih dekat dengan manusia dan menuntun mereka tanpa jarak kuasa.

Suatu ketika, saat mengabdi pada Resi Manumanasa, Semar diutus menimba air suci di tengah rimba sunyi. Di sanalah ia mendengar tangis lirih yang bukan tangis biasa. Bukan tangis manusia, bukan pula suara binatang. Tangis itu seperti kidung patah hati para dewa.

Semar mengikuti suara itu dan mendapati dua bidadari jelita, Kanistri dan Kaniraras, tengah terkurung kutukan. Sayap mereka menghitam, sinar wajahnya meredup. Kutukan itu hanya bisa dipatahkan oleh ketulusan hati, bukan oleh kesaktian semata.

Semar menggaruk kepalanya.
Lha iki piye? Biasane wong minta tolong pengin dislameti, iki malah kudu dislameti nganggo ati,” gumamnya.

Tanpa banyak mantra, Semar justru duduk bersila dan bercerita. Ia berkisah tentang dunia, tentang manusia yang jatuh bangun, tentang cinta yang tak selalu indah, tentang tawa yang sering lahir dari air mata. Ia menghibur dengan guyonan sederhana, hingga Kanistri tertawa kecil, tawa pertama setelah sekian lama.

Saat tawa itu pecah, kutukan pun luruh.

Kaniraras menunduk hormat dan memilih menjadi istri Resi Manumanasa. Sementara Kanistri memandang Semar lebih lama. Ia melihat bukan rupa, melainkan cahaya welas asih yang teduh.

“Apakah engkau tidak malu memiliki pasangan sepertiku?” tanya Semar suatu senja.

Kanistri tersenyum.“Malu itu di mata, bukan hati. Hatiku melihatmu utuh.”

Maka Kanistri, yang dikenal sebagai Kanastren, memilih turun ke dunia, hidup bersama Semar. Dari sanalah Semar bukan hanya pamomong para ksatria, tetapi juga suami yang belajar setia, ayah yang belajar sabar, dan manusia yang mengajarkan bahwa kebijaksanaan lahir dari penerimaan.

000

Di Hastina, Dewi Sembadra diliputi gundah. Ia mencintai Arjuna, ksatria pujaannya, namun gelisah menghadapi jalan hidup sebagai istri ksatria yang harus berbagi, menunggu, dan mengabdi tanpa banyak keluh.

Kanistri datang dengan langkah pelan, membawa kendi air dan senyum yang menenangkan.

“Kenapa wajahmu seperti mendung kesiangan, Putri?” tanya Kanistri.

Sembadra menunduk. "Cinta ini indah, Ibu Kanistri, tapi berat. Aku takut kehilangan diriku sendiri.”

Kanistri tertawa kecil. "Cinta itu bukan kehilangan diri, tapi menemukan diri yang lebih luas.”

Ia lalu berkata dengan lembut namun tegas,
“Mengabdi pada suami bukan berarti meniadakan akal dan nurani. Istri yang bijaksana adalah cermin kejernihan. Jika suami condong ke angkara, istri wajib menjadi penyeimbang dengan mengingatkan. Jika suami menempuh laku kebenaran, istri mendukung dengan segenap kebajikan.”

Kanistri mengajarkan bahwa kesetiaan bukan membuta, melainkan menuntun. Bahwa perempuan bukan bayang-bayang, melainkan cahaya yang berjalan berdampingan.

“Seperti Semar,” lanjut Kanistri sambil tersenyum,"ia sakti, tapi tetap mau mendengar. Ia pamomong para ksatria, tapi di rumah tetap mau ditegur kalau lupa sandal.”

Sembadra tertawa. Dari tawa itulah kegundahannya luruh. Ia memahami bahwa cinta sejati adalah pengabdian yang berlandaskan kebijaksanaan, bukan pengorbanan yang menghapus martabat.

000

Suatu sore, Gareng, Petruk, dan Bagong ribut di halaman. Gareng mengeluh nasibnya pincang, Petruk menyindir dunia yang menurutnya tak adil, sementara Bagong—seperti biasa—sibuk mencari alasan agar bisa makan lebih dulu.

Kanistri duduk di bale-bale bambu, memandang mereka dengan senyum sabar.

“Lho, kok rame kaya pasar sore?” tanyanya.

Bagong langsung menjawab,"Kami ini pengikut orang suci, tapi hidup kok tetap susah, Bu?”

Kanistri terkekeh."Lha, siapa bilang orang baik harus selalu enak hidupnya?”

Ia lalu menasihati mereka satu per satu.

Kepada Gareng, ia berkata,"Langkahmu pincang agar kau belajar hati-hati. Jangan iri pada yang jalannya lurus tapi sering tergelincir. Mereka kakinya normal dan lurus, tapi tidak melihat jalan kebenaran.”

Kepada Petruk,"Hidungmu panjang supaya kau peka mencium kebenaran. Jangan dipakai mencium kekuasaan. Kantongmu bolong, agar kau jujur ikhlas apa adanya, tidak menyembunyikan sesuatu.”

Kepada Bagong,"Perutmu besar bukan untuk menimbun, tapi untuk belajar berbagi. Kalau kenyang sendiri, itu bukan rezeki, itu rakus. Itu akan menjadi biang tamak, akan selalu merasa kurang. Di situ korupsi akan bersemayam. Teruslah merasa cukup dan berbagi pada sesama.”

Ketiganya terdiam, lalu tertawa bersama. Semar yang sejak tadi menguping hanya mengangguk puas.

Kanistri menutup nasihatnya, "Setialah pada jalan kebenaran. Jangan takut ditertawakan. Dunia memang sering menertawakan orang jujur, tapi kelak akan mencari mereka saat gelap.”

000

Kisah cinta Semar dan Kanistri bukan roman yang dipenuhi rayuan berlebihan, melainkan kisah penerimaan, kebijaksanaan, dan pengabdian. Di tengah guyonan dan kesederhanaan, mereka mengajarkan bahwa cinta sejati adalah keberanian menerima, kesediaan menuntun, dan kesetiaan pada nilai kebenaran.

Semar menjadi pamomong para ksatria, Kanistri menjadi guru kebijaksanaan para putri dan punakawan. Bersama, mereka adalah wajah lain dari cinta: tidak gemerlap, tetapi abadi.***

Tana Kaili, 25 Desember 2025k

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kedudukan DPRD Menurut UU Nomor 23 Tahun 2014

Cinta di Antara Angkara

Dewi Themis Menangis