Selebrasi Barang Bukti
Oleh: Temu Sutrisno
Ahad pagi itu cerah betul, seperti iklan kopi yang menjanjikan ketenangan hidup. Matahari belum tinggi, tapi sinarnya sudah cukup untuk memperlihatkan mana yang asli dan imitasi.
Di halaman samping rumah Tonakodi, di bawah pohon Talise yang daunnya lebar-lebar, berdiri dego-dego tua, gubuk sederhana dengan bangku kayu panjang yang sudah lama pensiun dari urusan pencitraan. Catnya terkelupas, tapi tidak pernah berbohong tentang usianya. Tidak seperti sebagian pejabat yang makin tua justru makin rajin tampak muda di baliho.
Di atas dego-dego terhidang kopi hitam, pisang, dan jagung rebus. Tidak ada katering. Tidak ada spanduk. Tidak ada kamera. Tapi anehnya, justru di tempat seperti inilah pembicaraan soal negara sering lebih jujur.
Tonakodi duduk di ujung. Perawakannya sedang, kulitnya sawo matang khas Nusantara, kaosnya tua tapi bersih. Ia menyeruput kopi pelan, seperti sedang mengukur jarak antara janji dan kenyataan.
“Ahad itu hari paling jujur,” katanya.
“Kenapa?” tanya om Uchen.
“Karena di Ahad orang tidak sibuk meyakinkan siapa-siapa,” jawab Tonakodi. “Tidak ada konferensi pers. Tidak ada pidato keberhasilan. Semua libur.”
Om Uchen tertawa. “Kalau begitu, Senin hari paling penuh make-up,” katanya. “Bedak kebijakan, lipstik pencapaian.”
Di seberang mereka, om Uly mengangguk. Rambutnya yang menipis dan kaca mata minus, membuat om Uly tampak kharismatik seperti pejuang masa kemerdekaan.
“Sekarang orang tidak malu pamer,” kata om Uly pelan. “Yang malu justru kalau tidak kelihatan.”
Ami datang sambil membawa ponsel. Anak muda berkulit bersih itu duduk, mengambil jagung, lalu langsung membuka berita.
“Komiu lihat?” katanya. “Uang sitaan dipamerkan. Banyak sekali. Triliunan."
Tonakodi menoleh. “Dipamerkan bagaimana?”
“Ditumpuk sampai memenuhi ruangan. Semua uang merah. Difoto. Seperti mau lomba. Malah katanya belum semua uang sitaan diperlihatkan. Coba Tonakodi bayangkan, kalau semua uang sitaan setiap kasus hukum ditumpuk di situ, pasti dengan gedungnya tertimbun uang," cerocos Ami.
Om Uchen menghela napas panjang. “Kalau uang bisa bicara, mungkin sudah minta istirahat.”
Tonakodi tersenyum miris. “Triliunan itu berat. Bukan cuma di timbangan, tapi juga di pertanyaan. Tapi, mungkin lebih berat beban hidup rakyat kecil.”
Mereka tertawa kecil. Tawa yang muncul karena ironi, bukan karena lucu.
“Aku senang maling besar ditangkap,” kata Tonakodi. “Itu kabar baik. Negara memang perlu kabar baik.”
“Terus?” tanya Ami.
“Tapi kenapa harus dipentaskan?” lanjut Tonakodi. “Seperti keberhasilan itu harus diyakinkan lewat dekorasi.”
Ami mengangkat bahu. “Katanya biar transparan.”
Om Uly menyela, suaranya datar tapi kena.
“Transparan itu laporan. Kalau sudah pakai lampu sorot, itu pertunjukan.”
Tonakodi mengangguk. “Aku takut transparansi berubah jadi selebrasi. Kita disuruh kagum, bukan diajak paham dan mengerti.”
Om Uchen ikut menimpali. "Kalau rakyat sudah kagum, biasanya lupa bertanya.”
“Bertanya apa?” sahut Ami.
“Berapa yang dicuri, berapa yang kembali, dan siapa yang masih bebas pakai jas rapi.”
Angin pagi menggerakkan daun Talise. Sunyi sebentar. Sunyi yang lebih jujur daripada jumpa pers.
Tonakodi tertawa kecil.
“Iya,” ujar Tonakodi. “Sekarang klarifikasi sering kalah viral dari foto.”
Ia mengelus dego-dego tua.
“Dego-dego ini tidak pernah dicat ulang,” katanya. “Tapi kuat. Karena tidak sibuk kelihatan baru.”
Om Uly menimpali. "Kalau terlalu sering dicat, kayunya malah cepat lapuk. Hehehe.”
Ami menatap mereka satu per satu.
“Jadi pamer barang bukti korupsi atau penyelamatan uang negara itu salah?”
“Bukan salah,” jawab Tonakodi hati-hati. “Tapi sering kebablasan niat.”
“Keterbukaan itu kewajiban,” lanjutnya. “Tapi kalau berubah jadi ajang unjuk prestasi antara satu instansi dengan instansi lainnya, itu sudah beda urusan.”
Ia menyeruput kopi. "Orang kecil tidak minta ditunjukkan tumpukan uang. Kami minta keadilan berjalan sampai ujung, bukan berhenti di panggung.”
Om Uchen mengangguk keras.
“Rakyat tidak perlu drama. Kami perlu hasil nyata.”
Ami tersenyum. “Komiu iini sederhana, tapi bahaya bagi yang suka sandiwara.”
Tonakodi tertawa kecil.
“Karena hidup kami tidak pakai naskah. Berjalan apa adanya.”
Matahari makin tinggi. Tidak ada closing statement. Tidak ada tepuk tangan.
Sebelum bubar, Tonakodi berdiri dan berkata pelan, seperti menitipkan pesan pada negara yang sering lupa mendengar.
“Keterbukaan itu cahaya. Tapi kalau terlalu silau, orang justru tidak dapat melihat apa-apa, tidak tahu lubang di depan mata. Lebih baik terang secukupnya, asal semua tahu ke mana harus melangkah.”
Om Uchen, om Uly, dan Ami pamit pulang ke rumah masing-masing.
Dego-dego tua tetap di bawah pohon Talise, tanpa kamera, tanpa mikrofon, menyimpan percakapan orang kecil. Mereka tahu negara bukan panggung, dan keadilan bukan properti pertunjukan. ***
Palu, 26 Desember 2025

Komentar
Posting Komentar