Deepfake: Sisi Gelap Teknologi Digital
Oleh: Temu Sutrisno
Perkembangan teknologi digital telah membawa banyak kemudahan bagi kehidupan manusia. Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), membantu pekerjaan menjadi lebih cepat, akurat, dan efisien. Namun, di balik manfaat tersebut, ada sisi gelap yang perlu diwaspadai bersama. Salah satunya adalah teknologi deepfake.
Deepfake adalah
teknologi berbasis AI yang mampu membuat atau memanipulasi video, gambar, dan
suara sehingga terlihat dan terdengar sangat nyata, padahal sebenarnya palsu.
Wajah seseorang bisa ditempelkan ke tubuh orang lain, suara bisa ditiru dengan
sangat mirip, bahkan ekspresi dan intonasi dapat disesuaikan. Bagi orang awam,
membedakan mana yang asli dan mana yang palsu menjadi semakin sulit.
Ancaman dari deepfake
dan misinformasi kini sangat signifikan, terutama karena teknologi ini semakin
mudah diakses dan digunakan. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu,
tetapi juga organisasi, negara, bahkan sistem demokrasi secara keseluruhan.
Salah satu ancaman paling nyata adalah perusakan reputasi
individu dan organisasi. Video atau rekaman suara palsu dapat digunakan untuk
menyebarkan fitnah, kebohongan, atau tuduhan serius. Dalam hitungan menit, nama
baik seseorang bisa hancur, karier runtuh, dan kepercayaan publik hilang.
Deepfake juga
berpotensi besar digunakan untuk manipulasi opini publik, terutama menjelang kontestasi
politik. Bayangkan sebuah video palsu yang menampilkan seorang kandidat
melakukan tindakan tidak etis atau mengeluarkan pernyataan kontroversial. Meski
kemudian dibantah, dampaknya bisa telanjur menyebar luas dan memengaruhi
pilihan pemilih. Situasi ini sangat berbahaya karena dapat mengganggu proses
demokrasi dan mengikis kepercayaan masyarakat terhadap hasil kontestasi.
Ancaman berikutnya adalah keamanan siber dan finansial.
Deepfake kini menjadi senjata baru dalam penipuan digital. Pelaku kejahatan
dapat meniru suara atasan, pejabat, atau anggota keluarga untuk menipu korban
agar mentransfer uang atau membocorkan kode OTP (One-Time Password). Kode OTP adalah kode verifikasi numerik unik yang
hanya berlaku untuk satu kali penggunaan, dikirim ke perangkat Anda (SMS,
email, aplikasi) untuk mengautentikasi identitas saat masuk akun atau transaksi
online, berfungsi sebagai lapisan keamanan kedua yang sangat penting untuk
mencegah akses ilegal karena sifatnya yang sementara dan sekali pakai, mirip
kata sandi tapi dinamis. Penipuan berbasis suara (voice scam) bahkan menjadi salah satu ancaman siber terbesar pada
tahun 2025. Tidak sedikit korban yang kehilangan tabungan karena percaya pada
suara yang terdengar sangat meyakinkan.
Selain itu, deepfake mempercepat penyebaran hoaks dalam
skala besar. Konten palsu yang disertai video atau audio terasa lebih “nyata”
dibandingkan teks semata. Akibatnya, hoaks menjadi lebih mudah dipercaya dan
cepat viral di media sosial. Dalam hitungan detik, informasi palsu bisa
menyebar ke jutaan orang tanpa sempat diverifikasi kebenarannya.
Semua dampak tersebut bermuara pada satu persoalan besar,
yaitu krisis kepercayaan. Ketika masyarakat terus-menerus disuguhi informasi
palsu, muncul keraguan terhadap semua hal yang dilihat dan didengar. Orang
menjadi sulit percaya, bahkan pada informasi yang benar. Jika dibiarkan,
kondisi ini dapat memecah belah masyarakat dan mengganggu persatuan bangsa.
Menghadapi ancaman deepfake dan misinformasi, tidak ada
solusi tunggal. Diperlukan pendekatan menyeluruh yang melibatkan teknologi,
regulasi, dan kesadaran publik.
Langkah pertama dan paling mendasar adalah peningkatan
literasi digital. Masyarakat perlu dibekali kemampuan untuk berpikir kritis
terhadap informasi yang diterima. Pendidikan literasi digital harus mengajarkan
cara memeriksa sumber berita, mengenali ciri-ciri konten manipulatif, serta
waspada terhadap informasi yang terlalu sensasional atau memancing emosi.
Masyarakat yang cerdas secara digital adalah benteng utama melawan hoaks dan
deepfake.
Selain itu, perlu pemanfaatan teknologi deteksi. Saat ini
sudah berkembang berbagai alat pendeteksi deepfake berbasis AI. Penyelidik
forensik digital menggunakan teknologi ini untuk menemukan kejanggalan, seperti
ketidaksesuaian gerak wajah, bayangan, atau artefak digital tertentu. Meski
tidak sempurna, teknologi deteksi tetap penting sebagai alat bantu untuk
memverifikasi keaslian konten.
Aspek lain yang tidak kalah penting adalah regulasi dan
kebijakan yang kuat. Indonesia perlu mempercepat penyusunan dan penerapan
kerangka hukum yang jelas untuk menindak kejahatan berbasis deepfake. Penegakan
hukum harus memberikan efek jera bagi pelaku. Di sisi lain, penguatan lembaga
seperti Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) sangat diperlukan, agar negara
memiliki kapasitas yang memadai dalam menghadapi ancaman siber yang semakin
kompleks.
Di tingkat individu, masyarakat perlu membiasakan diri
melakukan verifikasi sumber informasi sebelum mempercayai atau membagikan
konten. Jangan mudah terpancing untuk menyebarkan video atau audio yang belum
jelas kebenarannya. Selain itu, penting juga menjaga jejak digital pribadi.
Semakin sedikit data pribadi yang tersebar di internet, semakin kecil peluang
dimanfaatkan untuk membuat deepfake
yang menargetkan kita.
Pada akhirnya, mengatasi ancaman deepfake dan misinformasi
bukan hanya tugas pemerintah atau aparat penegak hukum. Ini adalah tanggung
jawab bersama. Pemerintah, sektor swasta, akademisi, media, dan masyarakat luas
harus berkolaborasi menciptakan ekosistem digital yang aman dan terpercaya.
Teknologi akan terus berkembang, dan deepfake mungkin akan
semakin canggih. Namun, dengan kewaspadaan, literasi digital yang baik,
regulasi yang tegas, serta sikap kritis dalam mengonsumsi informasi, kita dapat
meminimalkan dampak buruknya. Teknologi seharusnya menjadi alat untuk memajukan
peradaban, bukan senjata yang merusak kepercayaan dan persatuan bangsa. Wallahu’alam bishawab. ***
Penulis
adalah Sekretaris PWI Sulteng, Pemerhati Etika Digital
.png)
Komentar
Posting Komentar