Kemandirian Dewi Aswani

 Oleh: Temu Sutrisno/Wakil Sekretaris Paguyuban Kesenian Eko Wandowo Sulawesi Tengah


 

Dewi Aswani dikenal sebagai putri tercantik dan paling lemah lembut di Suralaya.Wajahnya memancarkan kedamaian seperti purnama, suaranya setenang gemericik air dari pancuran kahyangan. Banyak dewa dan ksatria memuja kecantikannya, memohon agar ia menerima hati mereka. Namun Aswani bukan perempuan yang silau oleh pujian. Ia adalah putri yang cerdas, teguh, dan memiliki jiwa seperti baja yang diselimuti sutra.

Takdir cinta Aswani justru jatuh pada Kumbakarna, raksasa perkasa dari Alengka, adik Prabu Dasamuka. Kumbakarna bukanlah ksatria tampan seperti para pangeran kahyangan. Tubuhnya menjulang bagai gunung, suaranya menggemuruh seperti guntur. Namun hatinya bersih, jujur, dan penuh keberanian yang jarang dimiliki manusia maupun dewa.

Dalam pernikahan mereka, banyak yang berbisik keheranan.
“Bagaimana mungkin putri indah kahyangan bersedia menjadi istri raksasa Alengka?”
“Apakah ia rela meninggalkan kemegahan Suralaya demi hidup dalam gelapnya kerajaan perang?”

Tapi Aswani hanya tersenyum. Cinta baginya bukan rupa, bukan kekuasaan, bukan kedudukan. Cinta adalah kesediaan untuk berjalan bersama, saling menopang, dan menerima kekurangan yang paling dalam.

000

Kehidupan di Alengka sangat berbeda dari Suralaya. Istana yang dahulu sunyi tentram, kini digantikan benteng tinggi berbau besi, suara latihan perang yang menggema, dan denting senjata yang tak pernah berhenti. Kumbakarna, suaminya, adalah panglima perang yang hampir setiap saat dipanggil untuk memimpin barisan prajurit.

Setiap kali kembali dari medan laga, tubuh besar Kumbakarna penuh luka dan keringat. Setelah makan banyak untuk memulihkan tenaga, ia akan terlelap dalam tidur panjang berhari-hari, seakan seluruh dunia tenggelam bersama dengkurnya yang memenuhi istana.

Di saat seperti itu, Aswani tak pernah mengeluh. Ia merawat luka-lukanya dengan lembut, mengusap keningnya sambil berdoa pelan, “Semoga para dewa menjaga langkahmu, Kumbakarna…”

Ia memahami bahwa suaminya bukanlah prajurit yang haus perang. Kumbakarna berperang bukan demi ambisi, melainkan karena kesetiaan dan tanggung jawab menjaga negerinya. Ia sering berkata dengan suara berat namun jernih:

“Aswani, andai aku diberi pilihan, kutinggalkan semua senjata. Aku ingin hidup tenang memelukmu dan anak-anak. Namun negeri ini butuh pelindung. Aku adalah pelindung itu.”

Aswani menggenggam tangannya, kecil dan lembut dibandingkan jemari suaminya yang keras dan penuh bekas sabetan senjata.
“Pergilah dengan tenang, Kumba
karna. Di sini aku akan menjaga rumah kita. Tidak ada yang perlu engkau cemaskan.”

000

Tak lama setelah mereka menikah, lahirlah dua anak yang manis, Kumba-kumba dan Aswanikumba. Wajah mereka mewarisi ketegasan ayahnya dan kelembutan ibunya. Rumah kediaman Aswani penuh tawa dan keceriaan, meski di luar tembok istana terdengar denting perang.

Saat Kumbakarna terlelap dalam tidurnya yang panjang, Aswani memikul peran ganda,  sebagai ibu, sebagai pendidik, sekaligus pemangku rumah tangga. Ia bangun sebelum fajar, menyiapkan keperluan keluarga, mengajar kedua anaknya ilmu kepandaian, tata krama, serta ajaran moral bahwa kekuatan tanpa kebijaksanaan hanya akan menjadi kesia-siaan.

Ia tidak ingin anak-anaknya tumbuh sebagai sosok bengis yang hanya memahami pedang dan perang.

Setiap sore, ia membawa kedua putranya memandang jauh ke arah bukit di luar istana Alengka yang dipenuhi ladang-ladang hijau. “Lihatlah, anak-anak,” katanya lembut, “kekuatan yang sesungguhnya adalah merawat kehidupan. Bukan merampasnya.”

Kumba-kumba bertanya polos, “Ibu, apakah Ayah pergi untuk merampas kehidupan?”

Aswani tersenyum, menunduk, dan mengusap rambut anak itu. “Ayahmu pergi untuk melindungi yang lemah. Ia mempertaruhkan hidup demi orang lain. Itu merupakan keberanian yang agung.”

Namun beban hidup di Alengka tak selalu mudah. Ada masa ketika perang berkecamuk lebih dahsyat, membuat Kumbakarna harus mengangkat senjata lebih sering. Ia pulang dalam keadaan semakin letih, wajahnya semakin pucat, dan tidurnya semakin panjang.
Kadang Aswani merasa kesepian, berdiri di ambang pintu istana memandang bulan sambil memeluk kedua anaknya.

Ada malam ketika air matanya jatuh tanpa suara, bukan karena menyesal, tapi karena rindu dan cemas akan keselamatan suaminya.

Namun setiap kali ia merasa lemah, ia menguatkan hatinya sendiri. “Aku adalah putri Suralaya, bukan bunga yang mudah layu. Aku adalah pasangan seorang ksatria. Aku harus tegar.”

Ia tidak menggantungkan kebahagiaannya pada kehadiran suaminya. Ia bangkit, berbuat, dan mengisi hari dengan karya.

Ia mengumpulkan para wanita Alengka, mengajari mereka membuat anyaman, pakaian, dan kerajinan. Ia mengubah kesedihan banyak istri prajurit menjadi kekuatan untuk bertahan. Mereka memanggilnya: Ibu Aswani, cahaya di tengah kegelapan perang.

Aswani merasa hidupnya memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar menunggu.

000

Sampai suatu hari, perang besar pecah antara Alengka dan kerajaan Kiskinda. Aliansi Rama-Sugriwa dengan balatentara wanara menyerbu Alengka. Dunia diguncang. Istana dipenuhi suara panik dan gemuruh langkah prajurit. Para peramal berkata bahwa peperangan ini akan menjadi perang penentu nasib.

Kumbakarna dipanggil ke garis depan. Ia tahu betul bahwa ia mungkin tak akan kembali.

Malam itu, ia memandang Aswani, menahan napas panjang seolah ingin menyimpan seluruh kehangatan sekaligus. “Aswani, jika aku tidak kembali, jangan tangisi kepergianku. Aku hidup untuk kehormatan. Aku mati pun untuk kehormatan.”

Aswani menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca, namun suaranya mantap. “Kumbakarna, aku tidak pernah mengikatmu dengan air mata. Pergilah sebagai ksatria. Aku akan tetap menjaga apa yang harus dijaga.”

Kumbakarna berlutut, lalu mencium kening istrinya, yang terakhir kalinya.

Air mata Aswani bercucuran, mengalir lembut seperti air Gangga menetes dari rikma Siwa. 

Ia teringat dua putranya yang masih remaja, telah mendahului menjadi kusuma bangsa. Keduanya gugur mempertahankan negara, meski tidak setuju dengan watak Rahwana yang menculik Sinta.

000

Kumbakarna maju ke medan laga dengan gagah berani. Ia tahu, dirinya akan gugur di tangan Rama. Bagi Kumbakarna, mati di tangan Avatar Wisnu merupakan kehormatan. Ia merasakan berkah di akhir hayatnya. 

Kumbakarna rebah diterjang panah Guwawijaya milik Rama. Ia tersenyum, meninggalkan marcapada sebagai ksatria utama.

Berita kepergian Kumbakarna dari medan perang membuat seluruh Alengka berduka. Ia gugur dengan gagah berani, bertarung hingga tetes darah terakhir.

Aswani menerima berita itu dengan hati yang remuk, tapi wajah tetap tegak. Ia menangis dalam diam, bukan meratap, bukan menjerit. Ia berbisik pada dirinya sendiri, “Saya akan terus berdiri. Karena keberanian terbesar adalah berdiri setelah kehilangan.”

Sejak hari itu, Aswani hidup seorang diri. Ia mandiri, tegar, dan tetap menjaga martabat sebagai istri seorang ksatria. Ia menjadi teladan bagi wanita Alengka, bahwa cinta sejati tidak selalu berakhir dengan bersama, tapi dengan kesetiaan untuk tetap melanjutkan hidup dengan kepala tegak.

Dewi Aswani memilih jalan terjal namun penuh kemuliaan. Perempuan mandiri yang memikul dunia tanpa kehilangan kelembutannya. Perempuan yang membuktikan bahwa kesetiaan bukanlah ketergantungan, melainkan keberanian untuk berjalan tegak walau harus sendirian. Cinta tidak membuatnya rapuh, cinta memberikan kekuatan luar biasa.***

 

Tana Kaili, 11 Desember 2025

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kedudukan DPRD Menurut UU Nomor 23 Tahun 2014

Cinta di Antara Angkara

Dewi Themis Menangis