Postingan

Tidur juga Ibadah

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno  Pagi itu Om Uchen terlihat semringah. Senyum mengembang di bibirnya. Melihat Om Uchen gembira, Utam tak tahan untuk menggodanya. "Sepertinya Om Uchen lagi senang hati le? Habis dapat bonus dari kantor ya? Boleh traktir sama Mama Jena ini e" ujar Utam. "Hehehe...bukan soal bonus. Saya gembira, rupanya resep Tonakodi manjur untuk menghadapi maitua," jelas Om Uchen. Tidak hanya Utam, Aso juga ikut penasaran. "Oww..resep nuapa vai Om Uchen. Bagi-bagi kamari itu resep. Sapa tau kita juga bisa bapakai," sergah Aso. Beh..bukan resep apa ini, terang Om Uchen. "Minggu lalu saya ada bacarita sama Tonakodi. Biasa kalau libur, saya banyak tidur di rumah. Maitua protes, katanya jangan banyak tidur," Om Uchen mulai menyibak asal muasal resep Tonakodi. Tonakodi menyarankan untuk memberi tahu maitua, mesti bersyukur kalau suami tidur mengisi libur. Menurut Tonakodi, ia pernah mendengar kyai saat di madrasah, bahwa tubuh juga butuh istirahat....

Bersyukur Tanpa Menunggu

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno  Siang itu, Tonakodi bertemu sahabat lama. Sekira lima belas tahun keduanya tidak berjumpa. Komunikasi juga terputus. Keduanya kehilangan kontak. Pertemuan tanpa sengaja. Sang sahabat, Erlangga, sedang menunggu temannya di pelataran kantor Tonakodi beraktivitas sehari-hari. Saat turun dari motor bututnya, Tonakodi melihat Erlangga. Sontak Tonakodi menghampiri Erlangga seraya mengulurkan tangan bersalaman,"Ee...kodoyo habario utat o?" "Alhamdulillah, mopore uma.  Iko oyo habar," kata Erlangga menyambut salam Tonakodi. "Alhamdulillah," jawab Tonakodi Sejenak berbincang saling menanyakan kabar, Tonakodi mengajak Erlangga ke kantornya, sambil ngopi menunggu temannya. Keduanya akrab bercerita seputar aktivitas selama tidak bertemu. Dua kawan Tonakodi Aso dan Uchen pun bergabung, nimbrung meramaikan suasana. Apalagi Uchen dan Erlangga satu kampung dan saling mengenal. Pembicaraan menjadi makin mengalir. Waktu berlalu sekira sepeminuman teh, E...

Gemuruh Angin Subuh

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno     Atap berderit Tiang bergoyang Tersipu sapuan angin subuh di bulan Desember Mega hitam bergulung memeluk bintang timur Dedaunan meluruh Pohon meliuk Menyambut belaian Ilahi Kokok ayam bersahutan Kelelawar kembali ke peraduan Angin terus bergerak Menampar kesombongan Memberi kabar Hanya Tuhan yang maha besar Dalam ketertundukan Kusapa sang bayu yang kian menderu Jangan engkau rontokkan bunga Biarkan dia menggapai mimpi Cukuplah pertemukan putik dan serbuk sari Lahirkan buah masa depan Jangan engkau patahkan dahan Burung-burung membutuhkannya untuk pijakan Angin subuh Tumbuhkanlah pucuk baru Petiklah sesukamu Kuncup akan terus bermunculan Dari daun yang berguguran Angin subuh Banyak yang bergetar karenamu Lupa siapa penciptamu Tecekat ketakutan Abai siapa yang mengutusmu Angin subuh Dalam gemuruhmu Namanya akan selalu abadi Angin subuh Tiba-tiba berhenti Tersisa reruntuhan Semua kembali ...

Salah Jalan

Gambar
  Oleh: Temu Sutrisno   Saat malam tergelicir fajar Bunyi jangkrik mengetuk nalar Semribit angin menerjang pembaringan Aku bertarung melawan kantuk Memandikan mata agar kembali bersinar Dalam pergulatan gelap dan terang Samar terdengar Suara mendayu melantunkan firman Menghentak menyadarkan Tidakkah ingat Namrud? Raja yang mengudeta Tuhan Mati terhina karena serangga masuk lubang pernapasan Lupakah pada Firaun? Maharaja tiga benua Pasukan tak terhitung jumlahnya Mati tenggelam jadi tontonan Qarun manusia terkaya Sombong dengan hartanya Terhimpit tanah  Ringkih tak mampu membeli keselamatan Bayangkan wajah Haman Manusia cerdik Selalu merasa pintar Mengaku paling benar Memandang yang lain dungu tanpa wawasan Keangkuhannya membawa derita berkepanjangan Dia tergilas bersama sang majikan Tidakkah semua menjadi pelajaran Bagi orang-orang berakal? Dengarlah kisah kekufuran Kanaan putra kesayangan Sang Nabi  Pembuat bahtera...

Meneladani Rasulullah Mengagungkan Martabat Manusia

Gambar
Suatu hari Rasulullah mendapati rombongan yang mengangkut jenazah lewat di hadapan beliau. Nabi pun berdiri menghormati. Sahabat beliau segera memberi tahu dengan nada seolah protes, “Itu jenazah orang Yahudi.” “Bukankah ia juga manusia?” sahut Rasulullah. Dialog singkat ini bisa dijumpai dalam hadits shahih Imam Bukhari. Sifat lain dari Rasulullah yang perlu diteladani dalam kehidupan sehari-hari yakni ramah tamah. Nabi dalam sebuah hadis berkata kepada istrinya, Aisyah RA: "Hai Aisyah, bertakwalah kepada Allah SWT, dan bersikaplah ramah. Sesungguhnya keramahan jika ditempatkan di manapun, ia akan menghiasinya, dan tidak dilepas dari mana pun kecuali ia akan menjadikannya buruk". (HR Muslim) Ada seorang pengemis buta di sudut pasar Madinah. Pengemis Yahudi tersebut merasa jijik dan muak bila mendengar orang menyebut nama Muhammad. Bahkan, ia menuduh Nabi Muhammad SAW sebagai tukang sihir dan pembohong besar. Pengemis itu sering berkata bahwa siapa pun mesti mewaspadai sosok ...

Demokrasi orang-orang mati

Gambar
  sumber: media indonesia     Oleh: Temu Sutrisno     Menceritakan segala kebaikan Menutup semua keburukan Itulah tradisi kematian Kabarkan kelebihan Abaikan kekurangan Itulah tradisi kematian Ajaran kemuliaan Mengakar budaya Menghiasi wajah bangsa Tapi kini Anak-anak negeri memanipulasi Mengglorifikasi diri sendiri Mencitrakan diri suci Menutup noktah Memoles daki Hanya untuk pertarungan demokrasi Beribu kata disusun Kalimat dirangkai menganak sungai Pengaruhi pemilih Dari urban hingga pedesaan Sembunyikan data diri Jangan tercium Jangan jadi duri Penghambat mahkota di ujung dahi   Menceritakan segala kebaikan Menutup semua keburukan Itulah tradisi kematian Citra palsu tanpa kejujuran menyeruak memengaruhi pilihan Itulah demokrasi kematian Demokrasi orang-orang mati. ***   Tana Kaili, 29 Juli 2024

Nol Koma

Gambar
  Oleh: Temu Sutrisno     Di sebuah taman Ku pandang bunga dan rerumputan Sejengkal Sedepa Kiri Kanan Depan Menoleh ke belakang Satu Dua Nama bunga Nama rerumputan Pepohonan Aku tahu Aku hapal Selebihnya asing tanpa pengetahuan Ukuran sejengkal Jangkauan sedepa Aku menyerah tak tahu apa-apa Bahkan manusia lalu lalang Tak semua aku mengenalnya Pengetahuanku Hanya setitik debu Kecil Teramat kecil Dari semesta yang tak terkira Ku terus berjalan Ku eja Ku baca dengan segala daya Bunga Rerumputan Batuan Bumi Langit Lautan Kupandang jauh ke depan Makin aku sadar Hanya sedikit Sangat sedikit yang aku mengerti Terngiang lantunan bait suci "Dan tidaklah kamu diberi ilmu melainkan hanya sedikit" Aku terjebak dalam ketidaktahuan Nol koma sekian Entah berapa banyak nol di belakang koma Nol Nol Nol Nol Nol Nol Sebelum berakhir pada angka Satu Ku sadar Nol w ujud ketiadaan Satu s umber kehidupan Dia...