Penilaian Tidak Adil untuk Messi dan Argentina
Oleh: Temu Sutrisno
"Jangan karena kebencian pribadi atau fanatisme buta terhadap rivalitas tertentu, lantas kita berbuat tidak adil dan menutup mata terhadap keindahan sejarah sepak bola."
Dunia sepak bola selalu melahirkan perdebatan, namun beberapa perdebatan terasa lahir dari rasa sinisme yang dipaksakan. Salah satunya adalah narasi miring yang terus diembuskan kepada megabintang Argentina, Lionel Messi. Ketika ia akhirnya berhasil menggapai puncak tertinggi dunia, alih-alih apresiasi mutlak, yang muncul justru riak-riak tuduhan miring.
Legenda sepak bola Belanda, Marco van Basten, pernah dengan tegas mengungkapkan bahwa hanya orang yang tidak mengerti sepak bola yang bersikap negatif pada Messi. Bagi Van Basten, Messi adalah sebuah anugerah—tipe pemain genius yang tidak akan muncul dalam setiap lima puluh atau seratus tahun sekali dalam jagat sepak bola.
Nada pembelaan yang sama, meski dibalut dengan gaya yang berbeda, juga dikemukakan oleh Zlatan Ibrahimovic. Mantan bomber AC Milan dan Timnas Swedia ini secara satir menyatakan "berdukacita" kepada para pembenci Messi, karena apa pun yang mereka katakan tidak akan mengubah kenyataan kehebatan sang La Pulga.
Narasi "Anak Emas" dan Sinisme Global
Namun, di tengah pengakuan para pencinta sepak bola sejati, tak sedikit pihak yang tetap keras kepala melabeli Messi dan Argentina sebagai "anak emas" FIFA. Keberhasilan Argentina di Qatar kerap dituduh sebagai hasil sebuah skenario besar.
Salah satu kritikan paling keras datang dari pelatih Mesir, Hossam Hassan. Dengan nada berapi-api, ia menyemprot FIFA dengan kalimat yang tajam:
"Terasa semua diatur tidak lebih untuk kepentingan marketing. Kalau memang Piala Dunia ini ditujukan untuk Argentina juara, buat apa mengajak negara lain ikut main?"
Tuduhan semacam ini jelas merupakan sebuah penilaian yang tidak adil. Mengerdilkan perjuangan sebuah tim dan seorang individu menjadi sekadar "strategi marketing" adalah bentuk pengabaian terhadap fakta sejarah dan keringat yang bercucuran di lapangan hijau.
Jejak Darah dan Air Mata
Mereka yang menuduh Argentina dianakemaskan tampaknya menderita amnesia sejarah. Messi tidak mendapatkan trofi Piala Dunia lewat sebuah karpet merah yang dihamparkan oleh FIFA. Ia berkembang, jatuh, hancur, dan bangkit kembali melalui proses yang sangat menyakitkan.
Argentina tidak pernah kekurangan talenta luar biasa sejak mereka terakhir kali juara pada tahun 1986 bersama Diego Maradona. Namun, bakat-bakat hebat itu selalu membentur dinding tebal kegagalan. Messi sendiri harus menderita sejak keikutsertaan pertamanya di Piala Dunia 2006. Empat episode Piala Dunia dilewatinya dengan air mata dan kekecewaan mendalam.
2006 dan 2010, Argentina dikandaskan oleh Jerman. Lagi-lagi 2014, kalah tragis di partai final oleh lawan yang sama. Piala Dunia 2018, tersingkir prematur di babak 16 besar oleh Prancis.
Belum lagi ditambah penderitaan beruntun di Copa America, di mana ia sempat frustrasi hingga menyatakan pensiun dini dari tim nasional. Ironisnya, selama belasan tahun penderitaan dan kegagalan itu, tidak ada satu pun dari para kritikus ini yang berteriak bahwa Messi dan Argentina adalah "anak haram" FIFA yang sengaja disingkirkan. Mengapa saat mereka kalah semua dianggap wajar, tetapi saat mereka menang semua dianggap setelan pabrik?
Buah Kerja Keras
Keberhasilan di Qatar 2022 bukanlah hasil kongkalikong di atas meja birokrat, melainkan buah dari kecerdasan taktik. Lionel Scaloni bersama koleganya di tim kepelatihan berhasil membangun Timnas Argentina dengan mengoptimalkan potensi Messi secara tepat. Mereka menciptakan ekosistem di mana para pemain muda bertarung habis-habisan untuk Messi, dan Messi memimpin mereka dengan magisnya.
Sangat disayangkan jika kolektivitas, taktik yang matang, dan mentalitas baja Tim Tango harus direduksi oleh suara-suara sumbang yang meragukan keunggulan mereka. Sepak bola adalah olahraga yang jujur di atas lapangan selama 90 menit. Olahraga yang menjunjung sportifitas dan mengabaikan prasangka.
Jangan karena kebencian pribadi atau fanatisme buta terhadap rivalitas tertentu, lantas kita berbuat tidak adil dan menutup mata terhadap keindahan sejarah yang telah diukir oleh salah satu pesepak bola terbesar sepanjang masa.
Berpikirlah dengan jernih.***

Komentar
Posting Komentar