Tarian Tikus Kotor
Oleh: Temu Sutrisno
Di atas kertas, angka-angka membusuk
Anggaran sosial menguap jadi asap, bahkan jelaga juga disikat
Beras rakyat diperas, terkuras hingga akar padi terakhir
Sementara di istana, pesta tak pernah senyap.
Katanya negeri ini kaya raya,
Tapi mengapa mangkuk tua di pinggir trotoar hanya terisi angin dan debu jalanan?
Dana sekolah disunat, obat-obatan dipangkas, orang miskin dipaksa iuran dan bayar pajak
Jalan desa retak, air bersih jadi barang mahal, sawah menjerit kering kerontang
Uang rakyat merayap ke kantong-kantong jas
Milik mereka yang menyebut diri wakil rakyat dan pejabat berkelas.
***
Korupsi seperti racun di sumur tua
Membuat ekonomi berbiaya tinggi tak terkira
Harga beras melambung, dapur warga menjerit papa. Entah apa yang harus dimasak untuk sekadar berdamai dengan lambung
Sepiring nasi dibayar dengan keringat sehari, tanpa tahu apakah besok dapat makan apalagi
Layanan publik lumpuh, gedung sekolah roboh, atap bocor menyiram cita-cita anak bangsa
Di saat yang sama, pejabat membangun istana dari proyek yang ditata semena-mena,
Mereka tersenyum dari tirai kendaraan mewah, menepuk dada bangga mengelabui rakyat tanpa jeda.
***
Mengapa penyakit ini tak pernah mati? Mengapa hukum memilih korban?
Menghujam tajam ke rakyat kecil yang mencuri ubi,
Tumpul di hadapan para pangeran dan pemilik brankas sebesar gudang
Ada tali-temali rahasia di balik meja, main mata antara penguasa dan pengusaha nakal
Saling kunci, saling lindungi, saling membagi rezeki, tak peduli rakyat menahan lapar tersedak ludah sendiri
Mereka membangun jejaring perompakan di atas penderitaan abadi
Rasa malu sudah dilelang di pasar gelap, menjadi jimat sakti para pejabat
Keserakahan menjelma jadi agama baru, tanpa adab, menggarong dengan langkah tegap
Selama hukum bisa dibeli dan moral makin gelap membunuh kalbu
Di lantai dansa penuh kotoran, tikus-tikus kerah putih akan terus menari tanpa ragu.***
Tana Kaili, 25 Juli 2026

Komentar
Posting Komentar