Menyemai Asa Anak Indonesia

Oleh: Temu Sutrisno 

Di sudut ruang temaram,

jemari kecil itu menari di atas kaca bersemut.

Bukan mengeja alfabet atau menggambar pelangi,

melainkan mempertaruhkan masa depan yang belum dimengerti.

Ada seratus ribu pasang mata polos,

bahkan yang usianya belum genap sepuluh tahun,

terjebak dalam labirin judi digital yang dingin.

Di mana rumah yang dulu teduh?

Mengapa sekolah yang seharunya merawat asa, justru menyimpan bayang-bayang luka?

Ketika selaksa jeritan menembus dinding sunyi,

kita sadar, benteng teraman itu telah retak di dalam.

Di antara layar yang menyilaukan dan ruang yang bungkam,

anak-anak kita menatap masa depan dengan mata yang letih.


***


Di luar sana,

jutaan langkah kecil terhenti di tepi jalan.

Mereka tak pernah menggenggam kapur tulis,

tak pernah merasakan wangi buku di pagi hari.

Hampir empat juta anak berdiri di luar gerbang,

memandang kelas yang terkunci rapat dari segala angan.

Di sudut lain negeri ini,

seorang ibu menatap tubuh mungil buah hatinya.

Satu dari lima anak kita tumbuh dalam cengkeraman bayang-bayang raga yang layu sebelum sempat mekar,

karena gizi yang tak kunjung sampai di piring makan.

Jika hari ini kita memilih berpaling dan membisu,

maka mimpi besar Indonesia Emas bukanlah manisnya puncak kejayaan,

melainkan bom waktu yang siap meledak dalam penyesalan.


***


Namun, 

malam tak pernah bertahan selamanya.

Kesadaran ini adalah ketukan pintu di dada kita semua:

Bahwa menyelamatkan mereka hari ini,

adalah satu-satunya cara menyelamatkan diri kita di masa depan.

Kini, saatnya merapatkan barisan.

Rumah menjadi benteng pertahanan,

sekolah kembali menjadi taman yang hangat,

Barisan masyarakat berdiri menjaga setiap jengkal ruang tumbuh mereka.

Mari kita ganti layar gelap itu dengan genggaman tangan yang erat.

Kita isi piring-piring yang kosong dengan suapan penuh kasih sayang,

kita buka kembali ruang belajar yang tertutup dengan sejuta harapan,

Kita pulihkan jiwa-jiwa muda yang terluka dengan dayacita matahari dan mahkota rembulan.

Sadarlah!

Indonesia tak dibangun dari angka-angka dingin di balik layar retak,

di atas kertas buram dan retorika di atas mimbar,

melainkan dari tawa, dan mimpi anak-anak yang kita rawat bersama hari ini dengan segala jiwa dan cinta.***



Tana Kaili, 23 Juli 2026

Selamat Hari Anak Nasional





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pitutur Luhur: Gemi, Nastiti, Ngati-ati

Cinta di Antara Angkara

Ombo; Kearifan Lokal Masyarakat Kaili Melestarikan Alam