Menikmati Piala Dunia Tanpa Meninggalkan Merah Putih

Layar kaca di pertengahan tahun 1986 adalah sebuah gerbang keajaiban. Bagi saya, di situlah segalanya bermula. Meksiko menjadi panggung di mana sepak bola menjelma lebih dari sekadar 22 orang mengejar bola kulit. Di sana ada Diego Maradona yang menari melewati barisan pemain Inggris, dan ada Michel Platini yang memimpin orkestra lini tengah Prancis dengan keanggunan seorang maestro. Sejak musim panas penuh magis itu, hingga episode Piala Dunia 2026, kompetisi empat tahunan ini tak pernah gagal menyita perhatian saya.

​Berikutnya, panggung sepak bola terus bergerak dinamis dan melahirkan talenta dunia yang silih berganti memukau kita. 

Kita menyaksikan era Romario, Bebeto, Roberto Baggio, Alessandro Del Piero, Ruud Gullit, Marco van Basten, Lothar Matthäus, hingga sang mesin gol Gabriel Batistuta. Lalu giliran generasi Ronaldo Luis Nazario, Rivaldo, Ronaldinho, Davor Suker, Hakan Sukur, Ariel Ortega, Klinsmann, Klose, hingga playmaker flamboyan Juan Roman Riquelme yang mengambil alih romansa lapangan hijau. Tak lama setelah itu, giliran otak permainan seperti Xavi Hernandez, Andres Iniesta, Zinedine Zidane, Didier Drogba, Thierry Henry, Raul Gonzalez, Kaka, Thomas Müller, Wesley Sneijder, Zlatan Ibrahimovic, Luca Modric, ketangguhan Fabio Cannavaro, hingga rivalitas legendaris Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi. 

Sampai akhirnya, roda zaman kini membawa kita pada era Erling Haaland, Kylian Mbappe, dan sang fenomenal muda, Lamine Yamal.

​Sebagai penikmat sepak bola, saya memandang lapangan hijau sebagai kanvas. Taktik yang diracik pelatih bukan sekadar instruksi kaku, melainkan cetak biru dari sebuah karya seni. Formasi dinamis, umpan satu-dua yang presisi, hingga pertahanan gerendel yang rapat adalah seindah-indahnya simfoni. Di dalam ekosistem itu, wajar jika kita jatuh cinta pada gaya bermain pemain tertentu, mengagumi kelihaian gocekan mereka, dan secara alamiah mendukung negara tertentu untuk meraih juara. Ada kepuasan tersendiri melihat negara jagoan kita menang. 

Namun, di tengah riuh rendah demam Piala Dunia yang kerap melanda tanah air— banyak sudut-sudut kampung mendadak berubah menjadi perkampungan buatan Eropa atau Amerika Latin, saya memilih jalan yang berbeda.

​Saya tidak pernah, dan tidak akan pernah, mengibarkan bendera negara-negara tersebut.

​Bagi sebagian orang, mengibarkan bendera Prancis, Inggris , Belanda, Jerman, Brasil, Maroko atau Argentina mungkin hanya ekspresi kegembiraan seorang fans. Sebuah selebrasi musiman yang lumrah. Namun bagi saya, ini adalah soal batas tegas antara hiburan dan kehormatan bangsa. Kain berwarna-warni yang berkibar di atas tiang memiliki sakralitas yang melampaui batas permainan 90 menit.

Bendera adalah simbol kedaulatan dan bentuk penghormatan pada pahlawan bangsa, serta wujud kebanggaan mutlak pada Indonesia.

​Sepak bola boleh saja menjadi cinta universal yang melintasi batas geografis, tetapi ego kebangsaan kita harus tetap berdiri tegak tanpa kompromi. Ketika saya melihat tiang bendera di depan rumah, saya hanya ingin melihat satu warna yang berkibar di sana: Merah dan Putih. Itulah satu-satunya warna yang layak mendapatkan penghormatan tertinggi atas nama tanah air, tempat di mana kita lahir, hidup, dan berpijak.

​Piala Dunia akan selalu menjadi festival seni terakbar di bumi yang menguras emosi kita. Saya akan tetap duduk di depan layar, menikmati setiap jengkal taktik dan liukan magis para bintang dunia dari masa ke masa dengan antusiasme yang sama seperti tahun 1986. Namun, begitu peluit panjang berbunyi dan layar dimatikan, realitas kita kembali pulang. Mendukung sepak bola dunia adalah hobi, tetapi menjaga kehormatan bangsa adalah amanah nurani. TMU

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta di Antara Angkara

Pitutur Luhur: Gemi, Nastiti, Ngati-ati

Ombo; Kearifan Lokal Masyarakat Kaili Melestarikan Alam