Menata Hati di Ahad Pagi
Oleh: Temu Sutrisno
Ahad pagi bergulir dalam dekap cuaca yang agak mendung. Langit di atas kampung seperti kanvas abu-abu yang menahan rindu pada matahari. Udara dingin sisa hujan semalam masih menggelayut, memaksa orang-orang untuk meringkuk lebih lama di balik selimut. Namun tidak bagi Tonakodi dan Om Uly. Dengan langkah yang tenang dan cenderung santai, keduanya menyusuri lorong sepi menuju ke rumah Om Uchen.
Kabar burung yang berembus kemarin sore membawa berita kurang mengenakkan: Om Uchen mengalami kecelakaan tunggal. Sepeda motor matik kesayangannya tergelincir saat ia hendak menghindari seekor kucing yang melintas mendadak. Akibatnya, kaki kanannya harus dibalut perban tebal karena terkilir dan luka parut.
Sesampainya di teras rumah Om Uchen, Om Uly mengetuk pintu dengan ritme yang hangat. Tak lama, pintu terbuka, memperlihatkan sosok Om Uchen yang tengah meringis sambil memegang sebilah tongkat kayu di tangan kanannya.
"Eh, Tonakodi, Uly... Masuk, masuk! Maaf ya, penyambutannya agak pincang begini," seloroh Om Uchen dengan tawa khasnya yang renyah, berusaha menyembunyikan rasa sakit di kakinya.
Om Uly langsung maju, menyambut tangan sahabatnya itu dengan senyuman hangat penuh empati. "Aduh, Uchen... Bagaimana ceritanya bisa sampai begini? Padahal kamu kan pembalap paling hati-hati se-kecamatan."
Mereka bertiga kemudian duduk di ruang tamu yang aromanya masih kental dengan minyak urut. Om Uchen meluruskan kaki kanannya yang bengkak ke atas kursi kecil.
"Ya begitulah, Uly. Kucingnya selamat, motornya lecet, yang punya motor malah sukses mendarat darurat di aspal. Untung kepala aman, cuma kaki ini saja yang rasanya seperti habis ikut lomba lari maraton keliling pulau," sahut Om Uchen, masih sempat-sempatnya becanda.
Tonakodi, yang sejak tadi duduk dengan tenang, tersenyum lembut. Tatapannya teduh, memancarkan kedalaman jiwa seorang yang selalu memandang setiap peristiwa dengan kacamata makrifat. Ia membetulkan posisi duduknya, lalu berkata dengan suara yang sangat tenang.
"Sakit kalau dimaknai untuk istirahat dan banyak istighfar, maka ada ibadah di sana, Om Uchen. Jika dijalani dengan mengeluh, bisa jadi menjauhkan dari ridha Allah."
Tonakodi berhenti sejenak, memberikan ruang bagi kata-katanya untuk meresap ke dalam hati kedua sahabatnya. Suasana ruang tamu yang tadinya penuh tawa instan, mendadak berubah menjadi khidmat, sesejuk hembusan angin basah yang dibawa awan.
"Dua orang yang sama-sama tidur," lanjut Tonakodi, "bisa jadi yang satu mendapat pahala dan yang lain tidak. Sebab, yang satu tidur dengan niat beristirahat agar ketika bangun energinya kembali dan dapat melakukan kegiatan ibadah dengan optimal, sedangkan yang lain tidur asal tidur."
Om Uly manggut-manggut, meresapi setiap untaian kalimat filosofis yang keluar dari mulut Tonakodi. Sementara Om Uchen, meski sifat humorisnya membubung, terdiam dan mendengarkan dengan takzim. Kata-kata Tonakodi seolah menjadi obat penenang yang lebih ampuh daripada minyak urut di kakinya.
Tak hanya memberi contoh soal tidur, Tonakodi kemudian mengalihkan pandangannya ke luar jendela, menembus mendung yang kian menebal. Pikirannya melayang pada fenomena sosial yang lebih luas, termasuk pernyataan orang-orang yang berpolitik yang belakangan ini kerap menghiasi layar kaca.
"Niat yang menjadi standar sah dan kualitas amal itu, muncul dari hati, bukan dari mulut," ucap Tonakodi lagi, memecah keheningan. "Seorang politisi bisa saja menyatakan bahwa perbuatannya didasarkan atas niat yang baik, niat ibadah, dan mungkin orang-orang yang mendengarnya percaya. Tetapi siapa sangka itu hanya sekadar ucapan manis di mulut tapi lain di hati."
Om Uly menghela napas pendek, menyetujui arah pembicaraan Tonakodi. Sifat ramahnya membuat ia selalu peka terhadap isu-isu kemanusiaan.
"Maka tak mengherankan jika masih banyak pemimpin di negara ini yang korupsi, menipu, dan lebih mementingkan diri sendiri daripada kepentingan rakyat," sambung Tonakodi dengan nada yang tetap lembut, tanpa kepahitan ataupun kemarahan. "Itu karena sejak awal niatnya bukan murni mengabdi, melainkan menguasai."
Om Uchen menggeser posisi duduknya sedikit, rasa ngilu di kakinya sejenak terlupakan. "Betul juga ya. Kadang kita ini terlalu silau dengan apa yang kelihatan di luar."
"Urusan niat ini kelihatannya sederhana, tapi sebenarnya tidak, Om Uchen, Om Uly," tutur Tonakodi lagi sembari menatap kedua sahabatnya bergantian. "Hanya diri sendiri dan Tuhan yang tahu niat seseorang. Terkadang, perbuatan yang tampak duniawi, lantaran niat yang benar, memiliki nilai ibadah. Sebaliknya, ada amalan yang tampaknya ibadah, lantaran niat yang salah, menjadi sekadar perbuatan duniawi yang tak ada pahalanya, bahkan bisa berbalik menjadi kedurhakaan."
Tonakodi tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kearifan sufistik yang menyejukkan hati.
"Seperti membaca al-Quran dengan niat mendapat piala, tentu tidak sama dengan niat mendapat pahala," celetuk Om Uchen.
Ruangan itu kembali hening untuk beberapa saat. Pembicaraan pagi itu menggantung di udara bagai embun yang menyejukkan. Om Uly tersenyum hangat, lalu menepuk pundak Om Uchen pelan.
"Nah, Chen. Berarti jatuhmu dari motor kemarin, kalau niatnya diubah jadi ajang penggugur dosa dan waktu untuk tafakur, malah jadi panen pahala," ujar Om Uly, mencairkan suasana.
Om Uchen terkekeh, meski kali ini tawanya lebih diiringi rasa syukur. "Iya le, Uly. Betul kata Tonakodi. Berarti mulai hari ini, niat saya rebahan di kasur adalah untuk mengistirahatkan tubuh ciptaan-Nya, bukan karena malas karena tidak bisa jalan-jalan. Niatnya ibadah!"
Tonakodi ikut tertawa kecil mendengarnya. Di luar, rintik gerimis akhirnya mulai turun satu demi satu, membasahi bumi Ahad pagi itu. Namun di dalam ruangan tersebut, hati mereka terasa begitu hangat, tercerahkan oleh sebuah obrolan sederhana tentang arah sepotong niat di dalam dada.
"Uchen, ngomong-ngomong mana maitua le?" tanya Om Uly.
"Macam te ada kopi keluar ini ee."
"Astaghfirullah," Om Uchen menepuk jidatnya.
Ketiga sahabat tertawa. ***
Tana Kaili, 5 Juli 2026

Komentar
Posting Komentar