Memaksa Takdir

Oleh: Temu Sutrisno 



Gerimis tipis sisa subuh masih menyisakan embun tebal di dedaunan pohon Talise. Angin dingin khas Lembah Palu berhembus perlahan, membawa aroma tanah basah yang menenangkan. Semerbak wangi kopi arabika menyatu dengan uap pisang sepatu dan ubi kayu yang baru saja diangkat dari rebusan.

Di sou-sou— gazebo kayu samping rumahnya—Tonakodi duduk bersila dengan tenang. Sarung bernuansa gelap melingkar rapi di pinggangnya, sementara jemarinya perlahan mengelus butir-butir tasbih kayu Ebony. Di sekeliling meja kayu bundar, tiga kawan setianya sudah berkumpul: Om Uchen, Om Uly, dan Ami.

"Pagi begini, kalau di Palu begini pe sejuk, pisang rebus pakai sambal dabu-dabu memang tiada tandingan," ujar Om Uchen sambil tertawa terkekeh. Tangan kirinya memegang ubi rebus yang masih ngebul, sementara tangan kanannya sibuk menepis asap kopi. "Cuma satu masalahnya, Om Uly dari tadi lihat jam terus. Seperti mau kejar pesawat ke Jakarta!"

Om Uly tergelak hangat, menepuk bahu Om Uchen. "Bukan kejar pesawat, Uchen. Saya ini cuma agak resah. Proyek renovasi drainase di lorong depan harusnya selesai kemarin sore. Tapi tukangnya tiba-tiba tidak datang karena urusan keluarga. Jadi tertunda lagi."

Ami, anak muda bernetra jernih yang duduk di samping Tonakodi, menyimak seraya menyeruput teh hangatnya. Dengan santun ia menimpali, "Tapi Om Uly, bukankah kalau dipaksakan kerja kemarin pas hujan deras, malah semennya rusak dan kerjaan jadi sia-sia?"

"Nah! Itu Ami betul," celutuk Om Uchen lagi. "Kau ini Uly, maunya semua jadi sesuai jadwalmu. Padahal langit Palu saja tahu kapan dia mau menangis, kapan mau tersenyum."

Tawa kecil terdengar di sou-sou itu. Tonakodi hanya tersenyum tipis, matanya menatap lembut ke arah jalan setapak di lorong sebelah masjid. Dari sana, terlihat sesosok pria berbadan tambun berjalan agak tergesa-gesa dengan wajah yang mengatup tegang.

"Assalamu’alaikum..." suara salam terdengar. Itu Ryan anak muda yang dikenal vokal dan energik.

"Wa’alaikumsalam warahmatullah. Mari, Ryan. Duduk, mumpung pisang rebus masih hangat," sambut Tonakodi dengan kehangatan khasnya.

Ryan duduk, namun raut wajahnya belum juga melunak. Ada beban yang berat menggantung di dahinya. "Terima kasih, Tonakodi, Om Uly, Om Uchen. Mohon maaf saya mengganggu pagi-pagi. Saya cuma... agak sesak dada."

"Penyakit orang zaman sekarang itu, Ryan," seloroh Om Uchen mencoba mencairkan suasana. "Dada sesak bukan karena masuk angin, tapi karena rencana tidak sesuai kenyataan."

Ryan menghela napas panjang, lalu menatap Tonakodi yang tetap tenang di tempat duduknya. "Begitulah, Om Uchen. Saya barusan dihubungi keluarga, sepupu yang tinggal di Tentena. Mereka sudah merencanakan pernikahan anaknya sejak tahun lalu. Semua jadwal sudah rapi, persiapan sudah dilakukan. Tapi tiba-tiba ada kendala karena persoalan teknis, yang menurut kami urusan kecil. Semuanya jadi kacau. Kenapa hal baik yang sudah kita rencanakan matang-matang justru terhambat seperti ini?"

Ami memiringkan kepalanya sedikit, menatap Ryan dengan pandangan kritis namun penuh rasa hormat. "Roa, izin bertanya. Apakah yang kita anggap 'kacau' itu memang benar-benar kekacauan, atau hanya karena waktu terjadinya tidak cocok dengan kalender yang kita buat sendiri?"

Ryan terdiam sejenak mendengarkan pertanyaan Ami.

Suasana sou-sou mendadak hening. Hujan gerimis di luar seolah ikut menyimak. Tonakodi meletakkan tasbihnya perlahan di atas meja, lalu menuangkan kopi hitam ke cangkir Ryan.

"Ryan yang baik..." suara Tonakodi mengalir, sangat lembut, mirip aliran air jernih yang menyejukkan hati yang panas. "Sering kali kita menganggap diri kita bijaksana karena telah merencanakan sesuatu dengan rapi. Namun, ada batas yang sangat tegas antara berikhtiar dan memaksa takdir."

Tonakodi memandang dedaunan yang basah di halaman. "Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam kitab Al-Hikam pernah memberikan peringatan yang sangat indah sekaligus menohok nurani kita. Beliau berkata 'Tidak ada sedikit pun tanda kebodohan yang lebih nyata daripada seseorang yang menghendaki terjadinya sesuatu pada waktu yang berbeda dari apa yang telah Allah tetapkan.'"

Om Uly mengangguk-angguk pelan, meresapi kata-demi-kata. Om Uchen yang biasanya penuh canda kini mendengarkan dengan khidmat.

"Tanda kebodohan?" bisik Ryan pelan.

"Ya," lanjut Tonakodi dengan tatapan penuh kearifan. "Sebab, ketika kita gelisah dan marah karena sesuatu tidak berjalan sesuai kehendak kita, secara tidak sadar kita sedang merasa lebih tahu daripada Allah. Kita ingin keinginan kita wujud sekarang, padahal Allah Mengetahui bahwa waktu yang terbaik adalah nanti, atau bahkan dalam bentuk yang lain."

Tonakodi menyandarkan punggungnya pada tiang bambu sou-sou. "Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Ar-Rahman ayat 29: 'Setiap waktu Dia berada dalam kesibukan.' Para ulama menjelaskan, dalam setiap detik-Nya, Allah sibuk mengangkat derajat suatu kaum, merendahkan yang lain, memberi rezeki, mengabulkan doa, dan menunda sesuatu demi hikmah yang Maha Luas. Tidak ada satu pun daun yang gugur di Lembah Palu ini tanpa presisi ilmu-Nya."

Ami menimpali lembut, "Sepeti ayat dalam Surah Al-Baqarah ayat 216 ya, Tonakodi? '...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.'"

"Tepat sekali, Ami," Tonakodi tersenyum bangga pada pemuda itu. "Pengetahuan kita ini sangat sempit. Ibarat melihat dunia dari lubang kunci. Kita hanya melihat apa yang ada di depan mata hari ini, sementara Allah melihat seluruh garis waktu kehidupan kita."

Om Uchen menyeruput kopinya, lalu berkata pelan, "Berarti kalau tukang cat saya tidak datang kemarin, bisa jadi Allah mau lindungi dia dari bahaya di jalan, atau mau lindungi cat supaya tidak luntur kena hujan, ya?"

"Bisa jadi begitu, Uchen," sahut Om Uly sambil tersenyum hangat. "Kita yang terlalu terburu-buru menghakimi keadaan."

Tonakodi memandang Ryan yang wajahnya mulai mengendur. "Rasulullah pernah bersabda dalam hadis riwayat Muslim, 'Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Seluruh urusannya adalah kebaikan. Jika mendapat nikmat ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ditimpa musibah ia bersabar, maka itu pun baik baginya.'"

"Tugas kita sebagai hamba," sambung Tonakodi, "bukanlah memaksa takdir agar bertekuk lutut pada keinginan kita. Tugas kita adalah menyempurnakan ikhtiar, memperbanyak doa, lalu melapangkan dada untuk menerima kapan pun dan bagaimana pun Allah menjawabnya. Bersabar menunggu waktu terbaik-Nya."

Ryan menarik napas dalam-dalam, kali ini terasa jauh lebih ringan. Beban di wajahnya perlahan sirna, berganti dengan senyuman tulus. "Masya Allah... Saya terlalu fokus pada 'target' saya, sampai lupa siapa Penentu Takdir yang sebenarnya. Terima kasih, Tonakodi. Pembicaraan pagi ini benar-benar menampar sekaligus mengobati hati saya."

"Jangan ukur kebahagiaan atau keberhasilan dari cepat atau lambatnya doa dikabulkan," ujar Tonakodi menutup penjelasannya dengan kehangatan yang meresap. "Ukurlah dari seberapa besar kepercayaan dan keridhaan hati kita terhadap kebijaksanaan Allah. Apa yang Allah tetapkan pasti yang terbaik, meskipun belum tentu sesuai dengan keinginan kita saat ini."

Matahari pagi mulai menyelinap di balik awan mendung, membiaskan cahaya keemasan di atas meja sou-sou. Om Uchen tertawa kecil sambil menyodorkan piring ubi rebus ke arah Ryan

"Nah, Ryan, karena hatinya sudah lapang, sekarang perutnya yang harus diisi. Makan ubi ini sebelum dingin!"

Gelak tawa pun pecah di sou-sou kecil itu. Diiringi aroma kopi dan hangatnya persaudaraan, pagi di Palu terasa begitu damai. Suasana pagi yang berjalan tepat sebagaimana yang telah ditakdirkan.***



Tana Kaili, 23 Juli 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pitutur Luhur: Gemi, Nastiti, Ngati-ati

Cinta di Antara Angkara

Ombo; Kearifan Lokal Masyarakat Kaili Melestarikan Alam