Kecerdikan Messi Hancurkan Taktik Super Defense Tuchel
Thomas Tuchel tampaknya harus membayar mahal sebuah arogansi taktik yang pendek ingatan. Pelatih tim nasional Inggris tersebut rupanya sama sekali tidak belajar dari bagaimana cara Mesir dan Swiss bertekuk lutut di hadapan Argentina. Ketika sebuah tim mencoba mempersempit ruang tembak di depan gawang, Lionel Messi tidak akan kehabisan akal. Sang Magician akan mundur ke lini kedua, bertransformasi menjadi gelandang pengatur serangan, atau bergerak melebar menjadi pemain sayap. Dari posisi tak terduga itulah, Messi membuka ruang bagi kompatriotnya dan mengirimkan umpan manja yang mematikan.
Tragedi taktis itu kembali terulang. Hanya delapan menit sebelum laga usai, Messi secara cerdas bergeser menjadi pemain sayap tanpa perlu 'diminta' oleh sang pelatih, Lionel Scaloni. Hasilnya luar biasa. Mega bintang dunia tersebut mengkreasi dua gol balasan yang dicetak oleh Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez. Dua gol kilat di menit-menit akhir ini sekaligus mengandaskan mimpi 60 tahun publik Inggris untuk mengangkat trofi bergengsi, setelah sebelumnya sempat berada di atas angin dengan keunggulan 1-0.
Sejak peluit pertama dibunyikan, pertandingan berjalan dengan tensi sangat tinggi dan cenderung ketat. Kedua tim sama-sama memperagakan disiplin posisi yang luar biasa, membuat peluang bersih sangat sulit tercipta. Inggris sempat mengancam lebih dulu melalui skema bola mati saat sundulan John Stones melambung tipis di atas mistar Emiliano Martinez.
Argentina tidak tinggal diam. Enzo Fernandez mencoba memecah kebuntuan lewat tembakan spekulasi jarak jauh yang sayangnya masih menyamping tipis dari gawang Jordan Pickford. Hingga turun minum, papan skor tetap menunjukkan angka kacamata 0-0.
Memasuki paruh kedua, jalannya pertandingan menjadi lebih terbuka. Inggris sukses mengejutkan sang jawara dunia melalui skema serangan balik cepat yang sangat rapi pada menit ke-55.
Menit 55, berawal dari aksi individu menawan Morgan Rogers di sisi kanan pertahanan Argentina, ia melepaskan umpan silang akurat ke area tiang jauh.
Anthony Gordon yang berlari bebas menyambut bola dengan penyelesaian sempurna, menjebol gawang Emiliano Martinez. Skor berubah 1-0 untuk keunggulan Inggris.
Tersengat oleh gol tersebut, Albiceleste langsung menaikkan intensitas serangan. Giuliano Simeone sempat melakukan tusukan berbahaya ke dalam kotak penalti. Namun, bek Inggris Djed Spence melakukan jegalan bersih (clean tackle) pada momen krusial untuk mengamankan gawang Pickford.
Inggris bahkan harus berterima kasih kepada Jordan Pickford yang melakukan penyelamatan gemilang menjelang fase akhir babak kedua, saat ia mementahkan bola sundulan terarah dari Nicolas Gonzalez.
Blunder Taktik Super Defense Tuchel
Bencana bagi Inggris dimulai ketika rasa nyaman mulai melanda. Merasa di atas angin, Thomas Tuchel mengambil keputusan krusial yang pada akhirnya berujung fatal. Tuchel memutuskan menerapkan taktik super defense dengan memasukkan tiga pemain bertahan sekaligus Ezri Konsa, Dan Burn, dan Nico O'Reilly. Ironisnya, ia justru menarik keluar pemain yang menjaga keseimbangan tim, yakni Anthony Gordon, Declan Rice, dan Reece James.
Langkah Tuchel menumpuk pemain di lini pertahanan justru menjadi blunder besar. Strategi ini mengundang gempuran Argentina yang datang kian deras bak air bah, sementara Inggris kehilangan daya pukul untuk melakukan serangan balik.
Pertahanan gerendel Inggris akhirnya runtuh pada menit 85. Berawal dari situasi sepak pojok, nyaris seluruh pemain Inggris menumpuk di dalam kotak penalti mereka sendiri. Hal ini membuat Enzo Fernandez berdiri relatif bebas di luar kotak terlarang. Melihat celah tersebut, Messi dengan cerdik menyodorkan umpan pendek yang langsung disambar Enzo dengan tembakan melengkung jarak jauh. Bola meluncur deras tanpa mampu diantisipasi Pickford. Skor menjadi imbang 1-1.
Magis Injury Time Sang Kapten
Saat pertandingan tampak hampir pasti akan berlanjut ke babak perpanjangan waktu, drama sesungguhnya tercipta pada masa injury time (90+2'). Berawal dari tembakan keras Alexis Mac Allister yang membentur tiang gawang, bola liar kembali dikuasai oleh Messi yang melebar di sisi kanan.
Dengan ketenangan luar biasa, kapten Argentina itu melewati kawalan ketat pemain Inggris sebelum mengirimkan umpan silang yang sangat akurat ke tiang jauh. Lautaro Martinez yang berdiri di posisi yang tepat menyambut umpan matang tersebut dengan sundulan mematikan. Pickford kembali tak berdaya, dan Argentina berbalik unggul 2-1.
Tuchel sempat panik dan berusaha membayar kesalahannya dengan memasukkan dua penyerang, Marcus Rashford dan Ivan Toney, menggantikan Spence dan Stones. Namun, nasi telah menjadi bubur. Sisa waktu yang terlampau singkat tidak cukup bagi Inggris untuk mengubah keadaan. Peluit panjang berbunyi, Argentina menang 2-1, dan kecerdikan Messi sekali lagi terbukti mampu menghancurkan tembok pertahanan paling kokoh sekalipun. TMU

Komentar
Posting Komentar