Diam pada Kejahatan

 Oleh: Temu Sutrisno



Ahad pagi, langit di atas Kota Palu membentang bersih, menyisakan warna biru yang jernih setelah semilir angin teluk menyapu sisa-sisa embun. Di sebuah sou-sou, pondok kecil di samping rumah Om Uly, tiga sahabat karib sedang menikmati awal pekan dengan ketenangan yang langka. Asap tipis mengepul dari cangkir-cangkir mereka. Om Uchen dan Om Uly memilih kopi hitam pekat khas Kaili yang harumnya menggoda selera, sementara Tonakodi setenang biasanya, menggenggam secangkir teh hangat dengan senyuman tipis yang tak pernah lepas dari wajahnya.

Baru saja mereka kembali dari masjid di lorong sebelah untuk menunaikan salat Subuh berjemaah. Riuh rendah kicau burung di pohon mangga seolah menjadi musik pengiring obrolan mereka.

"Uly, kopimu ini betul-betul membangkitkan semangat," kata Om Uchen memecah keheningan sembari menyeruput kopinya hingga berbunyi nyaring. "Tapi, kalau minum kopi begini terus tiap pagi tanpa pisang goreng, jiwaku rasanya terancam. Bisa stres sel-sel otakku karena kurang karbohidrat!"

Om Uly tertawa renyah, menepuk bahu sahabatnya itu. "Ah, kau ini, Uchen. Baru juga jam enam lewat, sudah menuntut pisang goreng. Nikmati dulu ketenangan pagi ini. Liang-liang hati kita ini perlu diisi ketenangan, bukan cuma perut."

Tonakodi hanya mengangguk pelan, tatapannya teduh memandang uap teh yang perlahan menghilang di udara. "Ketenangan itu seumpama air jernih, Om Uly. Jika hatimu tenang, kau bisa melihat dasar kolamnya. Di situlah letak kebijaksanaan."

Tak lama kemudian, pagar halaman berderit pelan. Dokter Dion, tetangga Om Uly yang baru beberapa bulan kembali ke Palu setelah bertahun-tahun mengabdi di daerah perbatasan terpencil, melangkah mendekat. Ia mengenakan pakaian kasual namun tetap bersahaja, membawa sebuah gawai di tangannya.

"Selamat pagi, Om. Assalamu’alaikum," sapa Dokter Dion dengan senyum hormat.

"Wa’alaikumussalam, Dokter. Mari, mari bergabung. Kebetulan kopinya masih hangat, atau mau teh seperti Tonakodi?" sambut Om Uly dengan kehangatan khasnya, segera menggeser duduk agar Dokter Dion mendapat tempat yang nyaman.

"Terima kasih, Om Uly. Teh saja kalau tidak merepotkan," jawab Dokter Dion sembari duduk. Ia memandang ketiganya, lalu menghela napas panjang. "Saya tadi sedang membaca opini di media digital  ulasannya menarik sekali, tapi bikin merenung. Mengapa banyak orang baik memilih diam saat menyaksikan kejahatan? Padahal berita kejahatan di mana-mana. Belum lama ini ada pejabat diduga terlibat korupsi triliunan. Kemarin, kasus lainnya dalam penggeledahan ditemukan uang ratusan miliar dan banyak emas batangan. Belum lagi tindak pidana lainnya, yang hampir tiap hari menghiasi pemberitaan."

Tak lama berselang istri Om Uly membawa baki berisi dua piring pisang dan ubi rebus.

Om Uchen langsung menegakkan duduknya, matanya berbinar jenaka. "Nah, ini dia yang ditunggu!"

"Kenapa orang baik diam? Kalau saya diam, itu artinya dua hal, Dokter. Pertama, saya sedang mengantuk. Kedua, istri saya sedang memegang sapu di rumah. Itu mekanisme bertahan hidup paling sahih," cerocos Om Uchen santai.

Tawa ringan meledak di sou-sou itu, termasuk dari Dokter Dion. Namun, sang dokter segera melanjutkan dengan nada yang lebih reflektif. "Secara neurosains, tebakan Om Uchen itu sebenarnya tidak salah. Otak manusia itu ternyata dirancang pertama-tama bukan untuk menjadi pahlawan, melainkan untuk bertahan hidup. Ketika kita melihat ketidakadilan atau kejahatan, bagian otak yang bernama amygdala langsung mendeteksi itu sebagai ancaman. Takut dimusuhi, takut kehilangan status, atau dikucilkan. Sinyal emosional ini berjalan sangat cepat, langsung melompati korteks otak yang rasional."

Dokter Dion memandang Tonakodi, lalu beralih ke Om Uly. "Makanya, melawan kejahatan itu berat sekali. Bukan karena tidak ada orang baik, tapi karena rasa takut yang diproduksi amygdala sering kali memenangkan pertempuran di dalam kepala kita. Belum lagi ada yang namanya bystander effect dalam psikologi sosial, makin banyak orang yang melihat pelanggaran, makin kita berharap orang lain yang bertindak duluan. Akhirnya, semua orang diam."

Om Uly mangut-mangut, raut wajahnya berubah serius. "Betul juga ya, Dokter. Di lingkungan kita kadang begitu. Ada tetangga yang tahu ada yang tidak beres, misalnya ada pungli atau perundungan, tapi milih pura-pura tidak lihat. Alasannya klasik: 'Daripada cari musuh, lebih baik cari selamat.' Padahal dalam hati mereka tahu itu salah."

"Itulah ironinya, Om Uly," sahut Dokter Dion. "Diam akhirnya menjadi bentuk persetujuan yang tidak diucapkan."

Suasana mendadak hening. Angin pagi berembus pelan, menggoyangkan daun-daun mangga. Semua mata kini perlahan tertuju pada Tonakodi, yang sejak tadi mendengarkan dengan saksama tanpa memotong. Ia meletakkan cangkir tehnya dengan sangat perlahan, seolah setiap gerakannya adalah bagian dari zikir.

"Penjelasan Dokter sungguh membuka mata," ucap Tonakodi dengan suara yang lembut, mengalun tenang namun sarat makna. "Secara jasmani, Allah memang melengkapi kita dengan alat pertahanan diri berupa otak yang peka terhadap bahaya. Namun, wahai sahabat-sahabatku, manusia bukan hanya seonggok daging dan anyaman saraf. Di dalam diri kita ada tiupan ruh suci, ada fitrah yang bersifat hanif."

Tonakodi memandang Om Uchen yang kini mendengarkan dengan takzim, hilangnya sifat jenaka sesaat dari wajahnya.

"Manusia yang hanif adalah manusia yang secara alami condong pada kebaikan dan kebenaran," lanjut Tonakodi. "Agama kita, Islam yang indah ini, tidak membiarkan kita tunduk begitu saja pada ketakutan jasmani yang dihasilkan oleh amygdala tadi. Rasulullah SAW bersabda dengan sangat tegas tentang bagaimana kita harus bersikap di hadapan kemungkaran. Jika melihat keburukan, ubahlah dengan tanganmu, artinya dengan kekuasaan atau tindakan nyata. Jika tidak mampu, maka dengan lisanmu. Bersuaralah, jangan diam. Jika itu pun belum mampu karena lemahnya diri, maka dengan hatimu. Tolaklah keburukan itu dalam batinmu, dan itulah selemah-lemahnya iman."

Dokter Dion tampak terpana, meresapi kata-kata sufistik dari pria di hadapannya.

"Mengapa agama memerintahkan demikian?" tanya Tonakodi retoris, tersenyum lembut. "Karena ketika orang baik memilih diam, mereka sedang membiarkan debu-debu kegelapan menutupi cermin fitrah mereka. Menetapi kebenaran memang membutuhkan keberanian, dan keberanian itu adalah saat akal dan ruh kita mampu menundukkan ketakutan ego kita sendiri. Bersuara melawan ketidakadilan bukan hanya tentang menyelamatkan orang lain, melainkan tentang menjaga agar jiwa kita sendiri tidak mati sebelum jasad kita dikuburkan."

Om Uchen menghela napas dalam-dalam, lalu tersenyum tipis. "Aduh, Tonakodi... kata-katamu ini langsung menembus korteks otaknya saya. Bikin kopi hitam ini rasanya makin dalam."

Om Uly tersenyum hangat, menatap langit Palu yang kian terang. "Terima kasih, Tonakodi. Pagi ini kita tidak hanya mengenyangkan pikiran dengan ilmu dari Dokter Dion, tapi juga memberi makan pada jiwa kita."

Dokter Dion mengangguk setuju, merasa beruntung bisa ikut nimbrung di sou-sou pagi itu. Di bawah hangatnya matahari pagi Kota Palu, mereka menemukan bahwa kebaikan sejati memang bukan sekadar tidak berbuat jahat, melainkan keberanian untuk tetap menyalakan pelita di tengah kegelapan, sekecil apa pun cahaya yang mampu mereka berikan.

Matahari merembet naik. Silaturahim sou-sou bubar, dengan keyakinan melawan ketidakadilan dengan cara masing-masing. Setidaknya memulai dari diri sendiri dan keluarga terdekat, menolak melakukan hal yang tidak baik, bertentangan dengan kebenaran dan keadilan. ***


Tana Kaili, 12 Juli 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta di Antara Angkara

Pitutur Luhur: Gemi, Nastiti, Ngati-ati

Ombo; Kearifan Lokal Masyarakat Kaili Melestarikan Alam