Dakwah Kultural NU dan Muhammadiyah Menjaga Indonesia

 Oleh: Temu Sutrisno

 

Tidak banyak tokoh agama yang mampu menjelaskan hubungan Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah dengan cara sederhana, jenaka, tetapi mengandung kedalaman makna sebagaimana KH. A. Mustofa Bisri atau Gus Mus.

Dalam sebuah forum kebudayaan, ia pernah melontarkan kalimat yang kini menjadi semacam "pepatah" di kalangan warga kedua organisasi.

"Orang Muhammadiyah yang tinggi ilmunya akan semakin mirip NU. Orang NU yang tinggi ilmunya akan semakin mirip Muhammadiyah."

Sekilas kalimat itu terdengar seperti gurauan. Namun, semakin direnungkan, semakin tampak bahwa Gus Mus sedang menggambarkan kedewasaan beragama. Semakin luas ilmu seseorang, semakin kecil fanatismenya terhadap identitas organisasi. Yang menguat justru penghargaan terhadap substansi ajaran Islam.

Pandangan itu pernah dijelaskan kembali oleh Ulil Abshar Abdalla. Menurutnya, pada tingkat kematangan intelektual, seorang Muhammadiyah akan memahami mengapa NU mempertahankan tradisi melalui kaidah-kaidah usul fikih dan maqashid syariah. Sebaliknya, seorang NU juga akan memahami pentingnya tajdid (pembaruan), pemurnian akidah, dan tata kelola organisasi modern yang menjadi ciri Muhammadiyah. Perbedaan tidak lagi dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai kekayaan khazanah keilmuan Islam.

Fenomena tersebut kini semakin mudah dijumpai. Batas-batas amaliah yang dahulu terasa tegas perlahan mencair. Warga NU tidak lagi canggung bersekolah di lembaga Muhammadiyah. Sebaliknya, warga Muhammadiyah semakin akrab dengan berbagai tradisi sosial-keagamaan yang hidup di tengah masyarakat.

Pernyataan Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu'ti, beberapa waktu lalu menjadi ilustrasi menarik. Ia menyampaikan bahwa tahlilan bukan lagi sesuatu yang asing di lingkungan Muhammadiyah. Di berbagai daerah, warga Muhammadiyah ikut menghadiri, bahkan menyelenggarakan tahlilan sebagai bentuk empati kepada keluarga yang berduka sekaligus menjaga hubungan sosial di tengah masyarakat tanpa harus terikat pada hari kematian 1, 3, 7, dan seterusnya.

Pernyataan itu bukan berarti Muhammadiyah mengubah manhaj tarjihnya. Tetapi yang berkembang adalah cara berdakwah. Tradisi tidak lagi dipandang semata-mata dari aspek ritual, melainkan juga sebagai ruang silaturahmi, pendidikan sosial, dan penguatan ukhuwah. Di sinilah dakwah kultural menemukan relevansinya. Islam hadir bukan dengan memutus budaya, melainkan dengan menyaring, meluruskan, lalu mengisinya dengan nilai-nilai tauhid.

Sesungguhnya, kedekatan NU dan Muhammadiyah bukanlah fenomena baru. Sejarah mencatat bahwa KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy'ari sama-sama dibentuk oleh tradisi pesantren Nusantara di bawah bimbingan Kyai Sholeh Darat Semarang dan sama-sama menimba ilmu di Makkah. Keduanya memang memilih jalan dakwah yang berbeda, tetapi memiliki cita-cita yang sama, yakni membangkitkan umat melalui pendidikan, akhlak, dan penguatan kehidupan keagamaan.

Hubungan personal yang hangat juga tampak pada KH. Abdul Wahab Chasbullah dan KH. Mas Mansur. Keduanya bersahabat sejak muda, pernah belajar bersama di Tanah Suci, berdiskusi tentang pembaruan umat, dan tetap menjaga hubungan baik meski kemudian berada di organisasi yang berbeda. Sejarah para pendiri ini menunjukkan bahwa perbedaan metode dakwah tidak pernah menghalangi persaudaraan.

NU Adaptif, Muhammadiyah Semakin Luwes

Perjalanan waktu pun memperlihatkan proses saling belajar. Muhammadiyah semakin luwes dalam memandang budaya lokal selama tidak bertentangan dengan prinsip tauhid. Dakwah kultural yang dahulu lebih identik dengan NU kini juga menjadi bagian dari pendekatan Muhammadiyah dalam merawat harmoni sosial.

Sebaliknya, NU semakin adaptif terhadap perkembangan zaman. Melalui metodologi hukum Islam (manhaj) yang dibangun di atas usul fikih, qawa'id fikih, maqashid syariah, dan tradisi bahtsul masail, NU mampu merespons isu-isu kontemporer, mulai dari ekonomi syariah, teknologi digital, kecerdasan buatan, hingga persoalan kebangsaan tanpa kehilangan akar tradisi pesantren.

Dalam kajian Azyumardi Azra, salah satu kekuatan Islam Indonesia terletak pada kemampuannya mempertemukan ajaran normatif Islam dengan realitas budaya Nusantara. Islam berkembang bukan melalui konfrontasi budaya, melainkan melalui proses akulturasi yang damai. Karena itu, Islam Indonesia dikenal lebih moderat dibandingkan banyak kawasan lain.

Gagasan serupa juga dikemukakan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Menurutnya, pribumisasi Islam bukanlah upaya mengubah ajaran agama, melainkan cara agar nilai-nilai Islam dapat hidup secara alami di tengah kebudayaan masyarakat. Agama dan budaya saling berdialog tanpa harus saling meniadakan.

Di sisi lain, Muhammadiyah melalui gagasan Islam Berkemajuan menegaskan pentingnya ijtihad, penguasaan ilmu pengetahuan, pendidikan modern, pelayanan kesehatan, serta pemberdayaan sosial sebagai bagian dari dakwah. Dengan demikian, Muhammadiyah tidak hanya berbicara mengenai purifikasi akidah, tetapi juga membangun peradaban.

Islam Wasathiyah: Jangkar Penyeimbang

Pertemuan antara fleksibilitas kultural NU dan rasionalitas pembaruan Muhammadiyah inilah yang melahirkan wajah Islam Wasathiyah yang sesungguhnya. Islam yang teguh dalam akidah, tetapi santun terhadap budaya. Islam yang terbuka terhadap ilmu pengetahuan, tetapi tetap berpijak pada tradisi keilmuan para ulama.

Konsep wasathiyah sendiri berakar pada firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 143 yang menyebut umat Islam sebagai ummatan wasathan—umat yang mengambil jalan tengah. Dalam konteks Indonesia, jalan tengah itu bukan sekadar sikap moderat, tetapi kemampuan memadukan teks agama, akal, budaya, dan realitas kebangsaan secara proporsional.

Di era media sosial, sikap wasathiyah semakin dibutuhkan. Arus informasi yang deras sering kali melahirkan polarisasi. Di satu sisi muncul kelompok yang mudah membid'ahkan tradisi lokal. Di sisi lain berkembang paham yang terlalu liberal hingga mengaburkan batas-batas ajaran agama.

Dalam situasi seperti ini, NU dan Muhammadiyah tampil sebagai jangkar penyeimbang. Keduanya sama-sama menolak ekstremisme, radikalisme, dan kekerasan atas nama agama. Keduanya juga sama-sama meneguhkan komitmen terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia, Pancasila, dan konstitusi sebagai konsensus kebangsaan.

Karena itu, yang perlu terus dirawat bukanlah memperbesar perbedaan, melainkan memperkuat titik temu. Kedewasaan beragama justru tampak ketika seseorang mampu memahami alasan orang lain menjalankan amaliah yang berbeda tanpa kehilangan keyakinannya sendiri.

Barangkali di situlah makna terdalam guyonan Gus Mus. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin luas cakrawala berpikirnya. Ia tidak lagi sibuk memperdebatkan persoalan-persoalan cabang (furu'iyah), tetapi mengutamakan tujuan besar syariat: menjaga agama, akal, jiwa, harta, kehormatan, sekaligus menghadirkan kemaslahatan bagi sesama.

Muslin Indonesia mau qunut atau tidak, mau tahlilan atau tidak, semuanya tetap berada dalam wilayah ikhtilaf yang telah lama dikenal dalam khazanah fikih Islam. Pohon besarnya tetap sama: tauhid, akhlak mulia, persaudaraan, dan cinta kepada Indonesia.

Bukankah dalam kehidupan sehari-hari warga NU dan Muhammadiyah tetap salat menghadap kiblat yang sama, bersujud kepada Tuhan yang sama, serta bergotong royong membangun bangsa yang sama? Saat Ramadan, mereka juga memburu takjil yang sama, tanpa pernah bertanya pada penjualnya: NU atau Muhammadiyah? Di sanalah wajah Islam Indonesia yang sesungguhnya. Berlomba-lomba dalam kebaikan, tanpa menjelek-jelekkan. Berbeda dalam cara, tetapi bersatu dalam tujuan. Wallahualam Bishawab.***

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta di Antara Angkara

Pitutur Luhur: Gemi, Nastiti, Ngati-ati

Ombo; Kearifan Lokal Masyarakat Kaili Melestarikan Alam