Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2026

Setop Perang demi Kemanusiaan

Gambar
​ Dunia kembali terbangun dalam dekapan horor yang mencekam. Eskalasi konflik di Timur Tengah telah mencapai titik nadir yang paling mengkhawatirkan sejak pecahnya ketegangan AS-Israel melawan Iran. Serangan udara yang menargetkan jantung pemerintahan dan instalasi pertahanan di Teheran, yang kemudian dibalas dengan hujan rudal ke berbagai pangkalan militer di penjuru Teluk, bukan lagi sekadar gertakan geopolitik. Ini adalah lonceng kematian bagi stabilitas global. ​Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, bersama  Ali Shamkani, penasihat utama dan menjabat sebagai Sekretaris Dewan Pertahanan Iran, dikabarkan gugur dalam serangan tersebut.  Kantor resmi berita Iran, Islamic Republic News Agency (IRNA), juga melaporkan Panglima Teringgi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Mohammad Pakpour, turut tewas dalam serangan yang sama. Gugurnya ketiga pemimpin Iran seolah menjadi bahan bakar baru bagi api yang sudah membara.  Di satu sisi, ada sorak-sorai kemenangan yang menggaung dar...

Cermin Hudaibiyah; Damai di Atas Konfrontasi

Gambar
​Oleh: Temu Sutrisno ​Dalam hiruk-pikuk sejarah peradaban manusia, perang sering kali dianggap sebagai jalan pintas untuk menunjukkan dominasi. Namun, sejarah Islam mencatat sebuah paradoks yang indah, bahwa kekuatan sejati justru terletak pada kemampuan untuk menahan diri dan memilih jalan damai.  Sebuah adagium klasik mengatakan bahwa damai jauh lebih baik daripada perang. Apapun level perdamaian itu, tetap memiliki nilai intrinsik yang lebih tinggi daripada konflik yang menghancurkan. ​Secara teologis dan linguistik, Islam adalah agama yang mengakar pada kedamaian. Islam memanifestasikan dirinya sebagai penyerahan diri pada Tuhan yang membawa keselamatan, perdamaian, dan kesejahteraan sosial. Inti dari ajaran ini bukanlah penaklukan fisik, melainkan penaklukan hati melalui tatanan sosial yang harmonis. ​Salah satu fragmen paling krusial dalam sejarah Islam adalah Perjanjian Hudaibiyah (6 H/628 M). Peristiwa ini adalah contoh brilian dari visi strategis Rasulullah SAW yang mendah...

Menguji "Socrates" di Ruang Sidang; Antara Marwah Ahli dan Beban Pembuktian

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Gambar: The Writers ​Ruang sidang Pengadilan Negeri (PN) Surakarta baru-baru ini menyuguhkan drama intelektual yang unik. Dalam persidangan perkara Citizen Lawsuit (CLS), publik tidak hanya disuguhi adu argumen hukum, tetapi juga sebuah klaim eksistensial yang melampaui batas-batas akademis konvensional. ​Ketika kapasitasnya dipertanyakan oleh pihak Universitas Gadjah Mada (UGM) terkait absennya rekam jejak jurnal ilmiah, dr. Tifauzia Tyassuma, melontarkan pernyataan yang memantik diskusi panjang. Ia merasa tak butuh deretan jurnal secara administratif-akademis karena menganggap kapasitas intelektualnya setara dengan Socrates dan Plato. ​Di titik ini, kita perlu bertanya. Apakah ruang sidang adalah panggung diskursus filsafat tanpa batas, ataukah laboratorium hukum yang menuntut ketelitian dan pembuktian empiris? Tanpa mengurangi rasa hormat pada semua pihak dan/atau bermaksud menyerang pihak mana pun, izinkan saya turut berdiskusi melalui tulisan pendek ini.  S...

Momentum Detoksifikasi Nasional

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno ​Marhaban ya Ramadan 1447 Hijriah. Bulan suci yang penuh rahmat kembali menyapa umat Islam di seluruh penjuru Tanah Air. Di balik ritus tahunan yang penuh gempita ini, terselip harapan kolektif agar ibadah dapat dijalankan dengan kekhusyukan dan kedamaian. Namun, menatap realitas tahun 2026, gerbang Ramadan kali ini tidaklah sunyi dari tantangan. Masyarakat kita tengah berdiri di persimpangan, antara kerinduan spiritual yang mendalam dan beban ekonomi yang kian menghimpit. ​Secara filosofis, puasa adalah proses detoksifikasi, pembersihan racun dari dalam tubuh dan jiwa, atau penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Namun, dalam konteks bernegara, Ramadan seharusnya naik kelas menjadi momentum detoksifikasi nasional. Kita membutuhkan pembersihan besar-besaran, bukan hanya dari residu kolesterol, melainkan dari "racun-racun" kultural dan struktural yang selama ini menghambat kemajuan bangsa. ​ Penyakit Kronis Korupsi ​Salah satu penyakit kronis yang paling melukai ...

Kita Bukan Mahkluk Pra-sejarah: Ayo Menulis!

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno ​Dalam berbagai kesempatan mengisi pelatihan jurnalistik maupun saat menjadi dosen tamu, satu pesan yang tak pernah absen saya sampaikan kepada para peserta adalah, beranilah menulis! Tulislah ide, gagasan, atau sekadar serpihan fakta dan bacaan yang Anda ketahui. Pesan ini terdengar sederhana, namun di baliknya tersimpan urgensi eksistensial bagi kita sebagai manusia modern. ​Alasan pertama mengapa saya selalu mendorong setiap orang untuk menulis adalah demi menjaga status kita sebagai makhluk sejarah. Dalam literatur antropologi, pembeda utama antara era sejarah dan pra-sejarah adalah tulisan. Sebelum manusia mengenal tulisan, jejak pemikiran mereka hilang ditelan zaman, hanya menyisakan artefak fisik yang bisu. ​Saya meyakini bahwa setiap peserta pelatihan atau mahasiswa adalah makhluk sejarah. Kita bukan lagi manusia gua yang hanya meninggalkan cap tangan di dinding batu. Kita adalah manusia yang memiliki pikiran kompleks, visi, dan argumentasi. Jika kita tidak ...

Semangat RJ dalam Kode Etik Advokat Indonesia

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno ​Dalam diskursus hukum modern di Indonesia, Restorative Justice (RJ) atau keadilan restoratif bukan lagi sekadar alternatif, melainkan telah menjadi paradigma utama dalam transformasi sistem peradilan pidana maupun perdata. Paradigma ini bergeser dari pendekatan retributif (pembalasan) menuju pemulihan keadaan semula. RJ sejalan dengan hukum yang progresif, di mana penegakan hukum harus mempertimbangkan kemanfaatan dan kebahagiaan sosial, bukan sekadar penerapan kaku peraturan perundang-undangan. RJ sejatinya berakar pada nilai-nilai musyawarah, empati, dan pendekatan kemanusiaan (humanistik). Namun demikian, keberhasilan RJ bergantung pada partisipasi sukarela dari para pihak (korban dan pelaku) untuk berdialog.  Menariknya, jauh sebelum istilah RJ populer di berbagai peraturan teknis lembaga penegak hukum, semangat ini sebenarnya telah berakar kuat dalam Kode Etik Advokat Indonesia (KEAI) dan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat. ​Profesi advoka...

Perbedaan yang Menyejukkan

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Langit di ufuk timur masih menyisakan rona jingga tipis yang malu-malu. Sisa embun subuh menggelayut di pucuk-pucuk daun angsana di halaman masjid. Di teras samping yang beralaskan ubin sejuk, Tonakodi duduk bersila, menyandarkan punggungnya pada tiang beton yang kokoh. Di sampingnya, Om Uchen sedang sibuk membetulkan letak sarung samarnya, sementara Om Uly menyelonjorkan kaki sambil sesekali memijat betisnya sendiri. ​Suasana tenang. Hanya ada suara sapu lidi marbot yang menyapu halaman dan deru pelan kendaraan yang mulai melintas di kejauhan. ​"Tadi itu, kalau dipikir-pikir, hebat ya kita," buka Om Uly sambil tersenyum menampakkan deretan giginya yang masih utuh dan putih. "Ibadahnya sama, Tuhannya sama, tapi kalau sudah urusan hilal, kok ya bisa kayak nonton pertandingan bola yang wasitnya ada dua." ​Om Uchen terkekeh, suara tawa seraknya memecah kesunyian. "Ah, kau ini, Uly. Jangan disamakan dengan bola. Kalau bola kan ada VAR, nah ka...

Ramadan: Menipiskan Hijab, Menemukan Melodi Ilahi

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno ​Ramadan bukan sekadar perpindahan jam makan atau menahan dahaga di bawah terik matahari. Bagi jiwa yang rindu, Ramadan adalah sebuah perjalanan pulang. Ramadan adalah undangan khusus dari Sang Khalik agar makhluk-Nya menanggalkan sejenak "pakaian dunia" yang berat dan kumal, untuk kemudian masuk ke dalam ruang sunyi di mana hanya ada hamba dan Tuhannya. ​Di dalam tradisi sufistik, Ramadan dipandang sebagai proses menipiskan hijab (penghalang). Selama ini, hijab yang menghalangi kita melihat "Wajah" Allah bukanlah jarak yang jauh, melainkan tebalnya ego, tumpukan nafsu, dan keterikatan kita pada selain-Nya. Ramadan hadir untuk mengikis itu semua. ​Maulana Rumi sering menggambarkan manusia sebagai sebuah seruling bambu. Agar seruling dapat mengeluarkan nada yang indah dan menyentuh sukma, bagian dalamnya harus kosong. Jika seruling itu penuh dengan tanah atau sumbatan, ia hanya akan menjadi sepotong kayu yang bisu. ​Begitu pula dengan diri kita. P...

Ramadan, Ketakwaan, dan Kesalehan Sosial

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Setiap tahun, kedatangan bulan Ramadan disambut dengan gegap gempita ritualistik. Masjid-masjid penuh, pasar takjil menjamur, dan diskursus mengenai tata cara puasa memenuhi ruang publik. Namun, seringkali kita terjebak pada dimensi lahiriah semata, menahan lapar dan dahaga dari fajar hingga magrib, tanpa menyentuh substansi terdalam dari takwa. Padahal, Ramadan sejatinya adalah sebuah kawah candradimuka untuk membentuk manajemen nafsu yang bermuara pada kesalehan sosial. ​ Melampaui Ritualisme Simbolis ​Secara teologis, tujuan akhir puasa adalah menjadi pribadi yang bertakwa (la’allakum tattaqun). Namun, takwa sering kali disempitkan maknanya sebatas hubungan vertikal antara hamba dan Sang Pencipta. Kita sering melihat fenomena kontradiktif, seseorang yang rajin berpuasa dan salat tarawih, namun di siang hari tetap melakukan praktik pungli, menyebarkan hoaks, atau bersikap eksklusif terhadap tetangga yang berbeda keyakinan. ​Di sinilah letak tantangannya. Ramadan s...

Dialog Cinta di Sidratul Muntaha

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno ​Pernahkah Anda membayangkan sebuah pertemuan paling eksklusif sepanjang sejarah alam semesta? Sebuah undangan VVIP yang hanya diberikan kepada satu orang, di tempat yang bahkan malaikat Jibril pun tidak diizinkan melangkah lebih jauh? Itulah peristiwa Mikraj, saat Nabi Muhammad SAW menghadap Allah SWT di Sidratul Muntaha. ​Secara logika manusia, saat seseorang mencapai puncak kesuksesan atau berada di hadapan Sang Raja Seluruh Alam dalam suasana yang begitu intim, cenderung akan fokus pada dirinya sendiri. Ia mungkin akan meminta kemuliaan untuk pribadinya atau kenyamanan bagi dirinya. Namun, di sinilah letak keindahan spiritual Nabi SAW. Beliau adalah pribadi yang paling tidak egois. Sosok yang sangat peduli dan mencintai umatnya.  ​ Dialog yang Agung Diriwayatkan banyak ulama dalam beragam kitab, ​ketika sampai di hadapan Allah, Nabi Muhammad SAW menghaturkan penghormatan yang luar biasa indah.  ​ " At-tahiyyaatul mubaarakaatush shalawaatuth th...

Bersyukur Menjadi Hamba

Gambar
 ​Oleh: Temu Sutrisno ​ Seringkali kita merasa beban hidup ini begitu berat, seolah-olah seluruh galaksi sedang menindih pundak kita yang mungil ini. Banyak orang sering mengeluh soal cicilan, soal pasangan, pekerjaan, persoalan yang bukan urusannya, harga bawang, hingga soal koneksi internet yang putus-nyambung seperti hubungan remaja labil. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan berpikir , "Untung saya ini cuma hamba ” ? ​Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, Sang Arsitek Agung alam semesta, sebenarnya memberikan kita jabatan yang paling keren sekaligus paling santai di seluruh kosmos, yaitu jabatan Hamba. Tapi dasar manusia, kita seringkali merasa lebih "bos" daripada Sang Maha Besar. ​​Perlu kesadaran spiritual yang lumayan tinggi dan sedikit selera humor , untuk menyadari bahwa tidak semua makhluk punya "privilese" menjadi hamba. Bayangkan menjadi batu. Tugasnya hanya diam, kena panas, kena hujan, dan sesekali ditendang anak kecil. Tidak ada dinamik...

Metamorfosis Iblis; dari Makhluk Menjadi Sifat

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno   ​Dalam narasi penciptaan, Iblis bukanlah sosok yang datang dari ruang hampa ketaatan. Ia adalah "sang pakar" ibadah, makhluk yang konon pernah menghuni barisan terdepan para malaikat. Namun, sejarah mencatatnya sebagai kegagalan teologis terbesar sepanjang masa. Bukan karena ia berhenti memercayai Tuhan, melainkan karena ia gagal memahami bahwa cinta kepada Sang Khalik tidak bisa dipisahkan dari penghormatan terhadap makhluk-Nya. ​Iblis adalah representasi dari sebuah tragedi spiritual . S osok yang terpeleset di puncak pendakiannya sendiri dan jatuh ke dalam jurang keingkaran yang berbalut jubah ketauhidan. ​​Tragedi ini bermula ketika Allah memerintahkan Iblis untuk bersujud (sebagai bentuk penghormatan, bukan penyembahan) kepada Adam. Di sini Iblis melakukan sebuah "kesalahan logika" yang fatal. I blis memaknai tauhid secara kaku dan buta. Dalam nalar Iblis, ketertundukan hanya boleh diberikan kepada Allah semata. Ia merasa menjadi ...

Ketika Kebencian Mengalahkan Keahlian

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno D i era ketika setiap orang dapat menjadi penyiar, penulis, analis, bahkan "pakar" dalam sekejap, kita menyaksikan gejala yang mengkhawatirkan, kebencian yang dibungkus dengan keahlian. Memanfaatkan beragam platform media, kebencian tidak lagi hadir dalam bentuk teriakan kasar atau makian vulgar. Namun tampil rapi, sistematis, dengan bahasa yang terukur dan diksi yang terdengar ilmiah. Di permukaan, tampak seperti kritik yang sah atau analisis yang tajam. Namun di dalamnya, bersemayam dendam, amarah, dan prasangka. Fenomena ini terasa mengemuka dalam dua tahun terakhir. Jika sebelumnya kepakaran perlahan tergerus oleh disrupsi informasi digital—ketika opini pribadi kerap diperlakukan setara dengan riset akademik—kini wajah kepakaran bahkan melantai di dasar intelektualitas karena kebencian. Gelar akademik, pengalaman profesional, atau reputasi publik dijadikan tameng untuk menyampaikan narasi yang sesungguhnya didorong oleh kekecewaan, ambisi yang gagal, a...