Ramadan: Menipiskan Hijab, Menemukan Melodi Ilahi
Oleh: Temu Sutrisno
Ramadan bukan sekadar perpindahan jam makan atau menahan dahaga di bawah terik matahari. Bagi jiwa yang rindu, Ramadan adalah sebuah perjalanan pulang. Ramadan adalah undangan khusus dari Sang Khalik agar makhluk-Nya menanggalkan sejenak "pakaian dunia" yang berat dan kumal, untuk kemudian masuk ke dalam ruang sunyi di mana hanya ada hamba dan Tuhannya.
Di dalam tradisi sufistik, Ramadan dipandang sebagai proses menipiskan hijab (penghalang). Selama ini, hijab yang menghalangi kita melihat "Wajah" Allah bukanlah jarak yang jauh, melainkan tebalnya ego, tumpukan nafsu, dan keterikatan kita pada selain-Nya. Ramadan hadir untuk mengikis itu semua.
Maulana Rumi sering menggambarkan manusia sebagai sebuah seruling bambu. Agar seruling dapat mengeluarkan nada yang indah dan menyentuh sukma, bagian dalamnya harus kosong. Jika seruling itu penuh dengan tanah atau sumbatan, ia hanya akan menjadi sepotong kayu yang bisu.
Begitu pula dengan diri kita. Perut yang selalu kenyang dan keinginan yang selalu dituruti sering kali menyumbat pendengaran batin kita. Puasa adalah cara kita mengosongkan diri dari "makanan bumi" agar kita bisa diisi dengan "makanan langit". Saat rasa lapar mulai menyapa, di situlah ego kita melemah. Saat fisik kita merapuh karena haus, di situlah ruh kita mulai menguat. Dalam kekosongan itulah, melodi Ilahi mulai terdengar.
Mendaki Tangga Puasa
Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin membagi puasa ke dalam tiga tingkatan yang sangat indah untuk kita renungkan. Pertama,Puasa Awam. Puasa ini adalah tingkat dasar, di mana kita hanya menahan perut dan kemaluan. Kita lulus secara fikih, namun mungkin belum menyentuh esensi.
Kedua, Puasa Khusus. Di level ini, bukan hanya perut yang berpuasa, tapi juga seluruh panca indera. Mata berpuasa dari melihat yang buruk, lisan berpuasa dari ghibah dan amarah, serta telinga berpuasa dari mendengar kesia-siaan. Inilah awal mula penipisan hijab.
Ketiga, Puasa Khusus al-Khusus. Inilah puasanya para pecinta. Hatinya berpuasa dari memikirkan selain Allah. Baginya, mengingat dunia di tengah puasa adalah sebuah "pembatalan" makna. Fokusnya total (fana) hanya pada Sang Khalik.
Meniru Sifat Sang Samad
Puasa adalah ibadah yang sangat unik karena Allah berfirman dalam hadis qudsi: "Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya."
Mengapa demikian? Karena dalam puasa, manusia sedang berlatih Takhalluq atau berakhlak dengan sifat-sifat Allah. Allah itu Ash-Samad, Yang Maha Mandiri dan tidak membutuhkan makan serta minum. Saat kita berpuasa, kita sedang melepas sifat yang selalu butuh pada sesuatu yang material, untuk sejenak mendekat pada sifat-sifat malakut dan ketuhanan.
Dengan mengurangi ketergantungan pada materi, kita sedang memperhalus frekuensi jiwa kita. Semakin sedikit kita bergantung pada dunia, semakin ringan jiwa kita terbang menuju hadirat-Nya.
Menyapu Debu di Cermin Hati
Bayangkan hati kita adalah sebuah cermin. Selama setahun, cermin itu terkena debu dosa, asap kesombongan, dan noda keserakahan. Ramadan adalah kain lap yang dibasahi dengan air mata tobat dan zikir.
Proses penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) ini memang terkadang menyakitkan. Menahan amarah saat dizalimi atau tetap berbagi saat sedang butuh adalah proses pengamplasan ego. Namun, seiring dengan terkikisnya kotoran tersebut, cermin hati kita menjadi bening kembali.
Ketika hati sudah bening, akan mampu memantulkan cahaya Tuhan. Inilah yang disebut dengan Makrifatullah—mengenal Allah bukan lagi sekadar dari buku atau teori, melainkan melalui rasa (dzauq) dan penyaksian hati (musyahadah).
Menembus Tabir Cahaya
Hijab bagi seorang hamba ada dua, yakni hijab kegelapan (maksiat) dan hijab cahaya (amal saleh yang dibanggakan). Ramadan mengajarkan kita untuk menembus keduanya. Kita meninggalkan maksiat, namun kita juga diajak untuk tidak sombong dengan amal kita.
Melalui Muqarabah (merasakan kehadiran Allah), kita sadar bahwa yang berpuasa sesungguhnya bukan "kita", melainkan kekuatan dari Allah yang mengizinkan kita bertahan. Di sinilah hijab keakuan (ego) runtuh. Kita merasa sangat kecil, sangat fakir, dan di saat itulah Allah menjadi sangat dekat. Sebagaimana firman-Nya: "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat." (QS. Al-Baqarah: 186).
Menjadi Fitrah
Ramadan yang datang tiap tahun, secara periodik dalam kalender akan berlu. Namun perjalanan hakiki Ramadan tidak boleh berhenti. Target akhirnya adalah kembali kepada Fitrah, kesucian asal saat kita pertama kali diciptakan.
Mari kita manfaatkan hari-hari Ramadan untuk terus menipiskan hijab. Jangan biarkan Ramadan hanya menjadi ritual menunda makan. Jadikan Ramadan momentum untuk meruntuhkan dinding-dinding keakuan yang kita bangun sendiri.
Biarkan diri kita menjadi seruling yang kosong, agar nafas cinta-Nya bisa mengalir melalui kita, membawa kedamaian bagi alam semesta. Saat hijab itu menipis, kita akan menyadari bahwa Dia tidak pernah jauh; kitalah yang selama ini tertutup oleh bayang-bayang diri sendiri. Wallahu'alam bishawab. ***

Komentar
Posting Komentar