Cermin Hudaibiyah; Damai di Atas Konfrontasi
Oleh: Temu Sutrisno
Dalam hiruk-pikuk sejarah peradaban manusia, perang sering kali dianggap sebagai jalan pintas untuk menunjukkan dominasi. Namun, sejarah Islam mencatat sebuah paradoks yang indah, bahwa kekuatan sejati justru terletak pada kemampuan untuk menahan diri dan memilih jalan damai.
Sebuah adagium klasik mengatakan bahwa damai jauh lebih baik daripada perang. Apapun level perdamaian itu, tetap memiliki nilai intrinsik yang lebih tinggi daripada konflik yang menghancurkan.Secara teologis dan linguistik, Islam adalah agama yang mengakar pada kedamaian. Islam memanifestasikan dirinya sebagai penyerahan diri pada Tuhan yang membawa keselamatan, perdamaian, dan kesejahteraan sosial. Inti dari ajaran ini bukanlah penaklukan fisik, melainkan penaklukan hati melalui tatanan sosial yang harmonis.
Salah satu fragmen paling krusial dalam sejarah Islam adalah Perjanjian Hudaibiyah (6 H/628 M). Peristiwa ini adalah contoh brilian dari visi strategis Rasulullah SAW yang mendahulukan sulh (perdamaian) di atas konfrontasi fisik. Saat itu, rombongan umat Islam yang rindu akan tanah kelahiran dan Baitullah dihadang oleh kaum Quraisy di perbatasan Mekah. Ketegangan memuncak, dan pedang nyaris terhunus. Namun, Nabi memilih meja perundingan daripada medan laga.
Secara lahiriah, perjanjian ini tampak sangat memojokkan umat Islam. Sebagian sahabat, sempat merasa sedih, kecewa, dan terhina. Bagaimana mungkin sebuah agama yang benar harus tunduk pada butir-butir kesepakatan yang sekilas tidak adil?
Ada tiga poin utama yang saat itu dianggap merugikan kekuatan Islam.
Pertama, gagal umrah. Kaum Muslimin dilarang masuk ke Mekah tahun itu dan harus kembali ke Madinah, padahal mereka sudah mengenakan kain ihram dan menempuh perjalanan jauh.
Kedua, ketidaksetaraan hukum. Jika ada warga Quraisy masuk Islam tanpa izin wali lalu lari ke Madinah, ia harus dikembalikan ke Mekah. Sebaliknya, jika ada Muslim yang murtad dan kembali ke Mekah, pihak Quraisy tidak wajib mengembalikannya.
Ketiga, gencatan senjata. Adanya penghentian perang selama sepuluh tahun yang dianggap memberi napas bagi kaum pagan Quraisy yang mulai terdesak.
Logika Langit di Balik Pilihan Damai
Mengapa Rasulullah SAW tetap istiqamah mengambil jalan damai meski ditekan? Di sinilah letak kecerdasan sosial dan politik Nabi Muhammad SAW. Beliau tidak melihat dengan mata dan pikiran emosi sesaat, melainkan dengan kacamata strategi jangka panjang.
Kemenangan diplomasi yang tidak dilihat sebagian sahabat adalah: pertama, pengakuan kedaulatan. Melalui perjanjian ini, untuk pertama kalinya kaum Quraisy mengakui secara resmi bahwa Islam dan Madinah adalah entitas politik yang setara, bukan lagi sekadar kelompok pemberontak. Ini adalah kemenangan diplomasi yang luar biasa.
Kedua, dakwah tanpa hambatan. Tanpa adanya bayang-bayang peperangan, energi umat Islam tidak lagi habis untuk memanggul senjata. Masa damai digunakan untuk menyebarkan risalah Islam ke seluruh penjuru Jazirah Arab melalui dialog, akhlak, dan perdagangan. Dalam suasana damai, pesan-pesan Islam lebih mudah meresap ke dalam akal sehat manusia dibandingkan dalam suasana ketakutan.
Ketiga, konsolidasi internal. Masa gencatan senjata memberi ruang bagi umat Islam untuk membenahi ekonomi, politik, dan kekuatan internal. Tanpa gangguan eksternal, Madinah bertransformasi menjadi pusat peradaban yang solid.
Kemenangan yang Nyata
Keputusan Rasulullah terbukti tepat secara historis. Al-Qur'an bahkan menyebut peristiwa Hudaibiyah ini sebagai Fathan Mubina, kemenangan yang nyata. Mengapa disebut menang padahal mereka "mengalah"? Data sejarah menunjukkan bahwa dalam dua tahun masa damai setelah Hudaibiyah, jumlah orang yang memeluk Islam jauh lebih banyak dibandingkan belasan tahun sebelumnya. Orang-orang Mekah yang awalnya memusuhi Islam mulai berinteraksi secara terbuka. Mereka melihat keindahan akhlak Muslim tanpa tertutup debu peperangan. Akhirnya, jalan menuju Fathul Makkah (Pembebasan Kota Mekah) terbuka lebar. Uniknya, pembebasan itu merupakan revolusi terbaik dalam sejarah dunia, dilakukan tanpa pertumpahan darah sedikit pun.
Relevansi Masa Kini
Pelajaran dari Hudaibiyah sangat relevan bagi konteks sosial kita hari ini. Di tengah dunia yang mudah tersulut konflik identitas dan ego kelompok, pilihan untuk berdamai sering kali disalahartikan sebagai kelemahan. Padahal, berdamai membutuhkan keberanian yang lebih besar daripada berperang. Dibutuhkan kebesaran jiwa untuk menekan ego demi kemaslahatan yang lebih luas.
Damai bukan berarti kalah. Damai adalah strategi untuk menghimpun kekuatan. Dalam konteks berbangsa, perdamaian adalah prasyarat utama pembangunan. Tanpa kedamaian, kesejahteraan sosial hanyalah utopia.
Perjanjian Hudaibiyah mengajarkan kita bahwa perdamaian adalah investasi masa depan. Kesabaran dalam merajut harmoni akan membuahkan hasil yang jauh lebih manis daripada kemenangan yang diraih lewat kekerasan. Islam, melalui teladan Rasulullah Muhammad SAW, telah membuktikan bahwa inti dari kekuatan sosial adalah kedamaian. Sebab, di dalam damai, kebenaran tidak perlu dipaksakan. Kebenaran akan menemukan jalannya sendiri ke dalam hati manusia.
Adagium menyatakan, untuk hidup damai harus siap untuk perang. Namun, perdamaian tanpa peperangan jauh lebih indah dan menentramkan. Wallahu'alam bishawab. ***

Komentar
Posting Komentar