Tahiyat; Dialog Cinta di Sidratul Muntaha

Oleh: Temu Sutrisno

Pernahkah Anda membayangkan sebuah pertemuan paling eksklusif sepanjang sejarah alam semesta? Sebuah undangan VVIP yang hanya diberikan kepada satu orang, di tempat yang bahkan malaikat Jibril pun tidak diizinkan melangkah lebih jauh? Itulah peristiwa Mikraj, saat Nabi Muhammad SAW menghadap Allah SWT di Sidratul Muntaha.

​Secara logika manusia, saat seseorang mencapai puncak kesuksesan atau berada di hadapan "Sang Raja Seluruh Alam" dalam suasana yang begitu intim, cenderung akan fokus pada dirinya sendiri. Ia mungkin akan meminta kemuliaan untuk pribadinya atau kenyamanan bagi dirinya. Namun, di sinilah letak keindahan spiritual Nabi SAW. Beliau adalah pribadi yang paling tidak egois. Sosok yang sangat peduli dan mencintai umatnya. 

Dialog yang Agung

Diriwayatkan banyak ulama dalam beragam kitab, ​ketika sampai di hadapan Allah, Nabi Muhammad SAW menghaturkan penghormatan yang luar biasa indah. 

"At-tahiyyaatul mubaarakaatush shalawaatuth thoyyibaatulillaah."

(Segala kehormatan, keberkahan, rahmat, dan kebaikan hanyalah kepunyaan Allah)

​Ini adalah adab tingkat tinggi. Nabi tidak datang dengan daftar tuntutan, melainkan dengan pengakuan akan keagungan Tuhan. 

Allah SWT kemudian membalas sapaan kekasih-Nya dengan salam yang sangat personal yang sangat juga luar biasa indah. 

"As-salaamu'alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullaahi wabarakaatuh."

(Keselamatan, rahmat, dan berkah-Ku tercurah atasmu, wahai Nabi)

​Bayangkan perasaan Nabi saat itu. Beliau disapa langsung oleh Sang Pencipta dengan penuh kasih sayang. Namun, di sinilah "ketidak-egoisan" Nabi muncul secara ajaib. Beliau tidak ingin keselamatan itu berhenti di pundaknya sendiri. Beliau tidak ingin menjadi satu-satunya orang yang selamat dan bahagia.

Menarik Umat ke dalam Rahmat

​Mendengar salam dari Allah, Nabi Muhammad SAW langsung teringat pada kita umatnys. Kita yang sering lalai, kita yang penuh dosa, dan kita yang masih berjuang di bumi. Beliau menjawab:

​"Assalaamu'alaina wa'alaa ibaadillaahishaalihiin."

(Keselamatan juga semoga tercurah atas kami, dan atas hamba-hamba Allah yang saleh.)

​Kata "Alaina" (atas kami) adalah kunci sufistik yang sangat dalam. Nabi "menarik" kita semua masuk ke dalam percakapan suci tersebut. Beliau seolah-olah berkata, "Ya Allah, jangan hanya aku, tapi sertakan juga umatku dan hamba-hamba-Mu yang berusaha hidup baik. Sungguh aku sangat mencitai umatku."

​Inilah alasan mengapa dalam setiap salat, kita mengulang dialog ini dalam tahiyat. Kita sebenarnya sedang merayakan momen di mana Nabi Muhammad SAW merangkul nama kita umatnya dalam pertemuan paling rahasia di langit ketujuh. Beliau memastikan bahwa pintu keselamatan tidak terkunci hanya untuk para Nabi, tapi terbuka lebar bagi siapa saja yang berusaha menjadi hamba yang saleh. Nabi membuktikan kasih, sayang, dan cintanya pada umat. Nabi menjadi rahmat untuk alam semesta. 

Kekaguman Para Malaikat

​Melihat pemandangan yang begitu mengharukan, seorang manusia yang tetap memikirkan sesamanya di saat ia sendiri sedang dimuliakan setinggi-tingginya oleh Allah, para malaikat di sekitar Sidratul Muntaha tidak tahan untuk tidak bersaksi. Mereka serentak mengucapkan syahadat. 

"Asyhaduallaa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammad rasuulullaah."

​Syahadat para malaikat ini adalah bentuk kekaguman atas ketulusan hati Rasulullah. Langit bergetar bukan hanya karena kehadiran Tuhan, tapi karena meluapnya sifat kasih sayang dari hati Muhammad SAW.

Menyambung Tali Sejarah 

​Tidak berhenti di situ, sifat tidak egois Nabi juga terlihat dari bagaimana beliau menghormati "ayah spiritualnya", Nabi Ibrahim AS. Dalam ibadah salat yang menjadi oleh-oleh Mikraj tersebut, Nabi menyertakan nama Nabi Ibrahim dalam selawatnya.

​Nabi Muhammad mengajarkan kita untuk mendoakan keberkahan yang sama seperti yang diberikan kepada keluarga Ibrahim. Ini adalah ajaran tentang kesinambungan dan kerendahan hati. Meskipun beliau adalah penutup para Nabi (Khatamun Nabiyyin), beliau tetap menjunjung tinggi jasa para pendahulunya. Beliau mengajarkan bahwa spiritualitas bukan tentang siapa yang paling hebat, tapi tentang bagaimana kita saling mendoakan dalam lingkaran cahaya yang sama.

​Secara sufistik, jika Mikraj adalah perjalanan Nabi menemui Allah, maka salat adalah Mikraj bagi orang mukmin.

​Nabi membawa "oleh-oleh" salat agar kita memiliki cara untuk berkomunikasi langsung dengan Allah, tanpa perantara. Saat kita melakukan tahiyat, kita sebenarnya sedang merekonstruksi ulang dialog cinta di Sidratul Muntaha itu. Kita diingatkan bahwa kita tidak sendirian. Nabi sudah menjamin keselamatan bagi hamba yang saleh di hadapan Allah.

Nabi juga mengajarkan bahwa Islam adalah ajaran penuh kasih sayang. Jika Nabi saja tidak egois di hadapan Allah, mengapa kita masih egois kepada sesama manusia di bumi? Dialog yang kemudian menjadi bacaan tahiyat menunjukkan bahwa Nabi tidak ingin ajaran IsIam berhenti pada ibadah ritual, namun juga menjelma menjadi kesalehan sosial. Doa Nabi mencakup "hamba-hamba yang saleh". Ini memotivasi kita untuk terus memperbaiki diri agar layak masuk dalam jangkauan doa Rasulullah tersebut.

Menjadi Pribadi Bermanfaat

​Nabi Muhammad SAW adalah teladan nyata bahwa semakin tinggi maqam (kedudukan) seseorang di hadapan Allah, maka akan semakin besar pula rasa cintanya kepada makhluk-Nya. Beliau tidak menyimpan kemuliaan untuk dirinya sendiri. ​Lewat bacaan tahiyat yang kita ucapkan setiap hari, kita diingatkan bahwa kita memiliki seorang pemimpin yang sangat peduli. Seorang pemimpin yang, bahkan di puncak langit, tetap memanggil-manggil nama kita dalam doa keselamatannya. Tugas kita sekarang adalah membalas cinta itu dengan mengikuti jejak sifatnya, menjadi pribadi yang bermanfaat, penuh kasih, dan tidak egois terhadap sesama. 

Assalamu’alaika yaa Rasulallah. Assalamu’alaika yaa Nabiyyallah. Assalamu’alaika yaa Aminallah. Assalâmu’alaika yaa Habîballâh. Assalamu’alaika yaa Shafwatallâh. Assalamu’alaika yaa khaira khalqillah. 

Yaa Rasulullah terima kasih atas kasih sayangmu. Kami yang sering alpa. Kami yang naik turun iman di dada. Kami yang tak kunjung bertobat saat berdosa. Engkau rangkul kami dalam doa. Engkau janjikan syafaat saat perhitungan di akhirat tiba. 

Yaa Nabiullah bagaimana kami menjawab kasih sayangmu. Salawat salam kami seperti bulir pasir. Sementara rahmatmu meliputi seluruh alam. Bahkan melampaui waktu dan ruang yang pasti berakhir. 

Yaa Habiballah jika bukan karena senyum dan pelukanmu. Jika bukan karena cintamu. Sungguh, kami merasa malu dan tidak pantas berdiri di barisanmu. ***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta di Antara Angkara

Dewi Themis Menangis

Kedudukan DPRD Menurut UU Nomor 23 Tahun 2014