Kita Bukan Mahkluk Pra-sejarah: Ayo Menulis!
Oleh: Temu Sutrisno
Dalam berbagai kesempatan mengisi pelatihan jurnalistik maupun saat menjadi dosen tamu, satu pesan yang tak pernah absen saya sampaikan kepada para peserta adalah, beranilah menulis! Tulislah ide, gagasan, atau sekadar serpihan fakta dan bacaan yang Anda ketahui. Pesan ini terdengar sederhana, namun di baliknya tersimpan urgensi eksistensial bagi kita sebagai manusia modern.
Alasan pertama mengapa saya selalu mendorong setiap orang untuk menulis adalah demi menjaga status kita sebagai makhluk sejarah. Dalam literatur antropologi, pembeda utama antara era sejarah dan pra-sejarah adalah tulisan. Sebelum manusia mengenal tulisan, jejak pemikiran mereka hilang ditelan zaman, hanya menyisakan artefak fisik yang bisu.
Saya meyakini bahwa setiap peserta pelatihan atau mahasiswa adalah makhluk sejarah. Kita bukan lagi manusia gua yang hanya meninggalkan cap tangan di dinding batu. Kita adalah manusia yang memiliki pikiran kompleks, visi, dan argumentasi. Jika kita tidak menulis, maka kita sedang secara sukarela melucuti identitas sejarah kita dan kembali ke era pra-sejarah, era di mana keberadaan kita tidak meninggalkan jejak intelektual bagi generasi mendatang.
Ancaman "Penyusutan Otak"
Alasan kedua berkaitan dengan realitas era digital. Saat ini, fenomena sharing (membagi ulang) konten jauh lebih mendominasi dibandingkan proses produksi konten itu sendiri. Kita lebih mahir menekan tombol "bagikan" daripada merangkai paragraf.
Tentu, membagikan konten kebaikan dan kebenaran adalah hal yang mulia. Namun, jika kita hanya menjadi penyalur tanpa pernah menjadi produser gagasan, ada risiko besar yang menanti. Dalam konteks ini, saya sering bercanda bahwa di masa depan, manusia mungkin akan berevolusi dengan bentuk fisik yang aneh: kepala mengecil karena volume otak menyusut akibat jarang digunakan untuk berpikir kritis, sementara jari tangan membesar karena terlalu sering digunakan untuk membagikan konten di media sosial.
Menulis adalah aktivitas kognitif yang menuntut kita untuk mencerna, memproses, dan menyusun ulang informasi. Tanpa menulis, kita hanya menjadi pipa yang menyalurkan air tanpa pernah tahu kualitas air tersebut.
Menulis yang Disukai
Hambatan klasik yang selalu muncul adalah rasa takut. "Sulit menyambung kata," atau "susah memulai," adalah keluhan yang paling sering saya dengar. Jawabannya sebenarnya sederhana: mulailah dari membaca.
Membaca adalah proses mengisi tangki bahan bakar, sedangkan menulis adalah proses mengendarai kendaraan tersebut. Seseorang tidak akan bisa menulis dengan baik jika tangki bacaannya kosong. Kurangnya perbendaharaan kata dan ketidaktahuan atas tema adalah musuh utama penulis pemula. Oleh karena itu, mulailah menulis dari hal-hal yang Anda sukai. Jika Anda menyukai kopi, tulislah tentang kopi. Jika Anda menyukai sejarah, mulailah dari sana. Menulis sesuatu yang kita kuasai akan terasa jauh lebih ringan karena kita sudah memiliki "tabungan" informasi di kepala.
Belajar dari Para Maestro Literasi
Kita harus menyadari bahwa tanpa tulisan, kita tidak akan pernah "berkenalan" dengan tokoh-tokoh besar dunia. Bagaimana kita bisa mengenal kemuliaan Nabi Muhammad, keteguhan Musa, keangkuhan Firaun, hingga kecerdasan Nuh membangun bahtera, jika tidak ada catatan sejarah yang ditinggalkan?
Kita bisa membayangkan betapa butanya kita terhadap masa lalu jika tradisi menulis tidak pernah ada. Generasi hari ini tidak akan pernah berkenalan dengan sosok-sosok besar seperti Cyrus, Hannibal, Newton, hingga Einstein. Kita juga tidak akan tahu siapa Sulaiman, Walmiki, Sidharta Gautama, Ratu Shima, Cleopatra, Gengis Khan, Sun Tzu, Syailendra, Albiruni, atau Ibnu Sina jika tidak ada tulisan sezaman yang ditinggalkan sebagai warisan.
Tanpa tulisan, kita mungkin tidak akan pernah tahu bahwa Ferdinand de Lesseps adalah sosok di balik kemegahan Terusan Suez dan Panama, atau David Livingstone yang menjadi pembuka keran informasi bagi Eropa untuk masuk ke Afrika Selatan. Sejarah mereka hidup karena ada tangan-tangan yang mencatatnya. Maka, mulailah dengan memperbanyak bacaan, lalu menulislah, persis seperti yang dilakukan oleh para tokoh besar masa lalu.
Cendekiawan Muslim pada era keemasan Islam adalah teladan nyata dalam produktivitas literasi. Mereka menghasilkan ribuan karya orisinal dalam berbagai disiplin ilmu yang menjadi fondasi sains modern dan menjadi rujukan di Eropa selama berabad-abad. Tokoh seperti Al-Biruni, misalnya, menulis lebih dari 100 buku tentang astronomi dan geografi. Ibnu Sina atau Avicenna menulis Al-Qanun fi al-Tibb yang menjadi kitab suci kedokteran dunia, serta kitab Asy-Syifa yang merangkum filsafat dan sains.
Tradisi ini diteruskan oleh Al-Khawarizmi yang merintis aljabar melalui bukunya Hisab al-jabr wa al-Muqabala, serta Al-Jahidz, seorang sastrawan yang menghasilkan lebih dari 200 karya lintas disiplin. Ada pula Ibnu Khaldun, sang maestro ilmu sosial yang namanya abadi lewat Muqaddimah, serta Ar-Razi yang pakar dalam pengobatan penyakit menular. Kita juga mengenal Ismail al-Jazari yang mendokumentasikan rancangan mesin otomatisnya, hingga Tsabit bin Qurrah yang mahir dalam geometri dan teori bilangan.
Menulislah Sekarang
Karya-karya monumental mereka mencakup spektrum ilmu yang sangat luas, mulai dari kedokteran hingga teknik mekanik. Semua itu membuktikan bahwa kontribusi signifikan terhadap peradaban dunia hanya bisa dicapai jika sebuah bangsa memiliki tradisi membaca yang kuat dan keberanian untuk menuliskan apa yang mereka ketahui.
Karya-karya para tokoh masa lalu tersebut membuktikan bahwa tulisan adalah bentuk keabadian yang paling nyata. Tulisan adalah cara kita berkomunikasi dengan generasi yang bahkan belum lahir.
Maka, jangan lagi beralasan. Perbanyaklah bacaan untuk memperkaya diksi dan wawasan, lalu mulailah menggerakkan jari untuk mencipta, bukan sekadar membagikan. Menulislah, agar dunia tahu bahwa kita pernah ada, pernah berpikir, dan pernah berkontribusi bagi peradaban.***

Komentar
Posting Komentar