Bersyukurlah Menjadi Hamba
Oleh: Temu Sutrisno
Seringkali kita merasa beban hidup ini begitu berat,
seolah-olah seluruh galaksi sedang menindih pundak kita yang mungil ini.
Kita mengeluh soal cicilan, soal pasangan yang kurang peka, hingga soal koneksi
internet yang putus-nyambung seperti hubungan remaja labil. Namun, pernahkah
kita berhenti sejenak dan berpikir, "Untung saya ini cuma hamba”?
Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, Sang Arsitek Agung alam
semesta, sebenarnya memberikan kita jabatan yang paling keren sekaligus paling
santai di seluruh kosmos, yaitu jabatan Hamba. Tapi dasar manusia, kita
seringkali merasa lebih "bos" daripada Sang Maha Besar.
Perlu kesadaran spiritual yang lumayan tinggi dan sedikit
selera humor, untuk
menyadari bahwa tidak semua makhluk punya "privilese" menjadi hamba.
Bayangkan menjadi batu. Tugasnya hanya diam, kena panas, kena hujan, dan
sesekali ditendang anak kecil. Tidak ada dinamika spiritualnya.
Dalam sejarah "rekrutmen" langit, tercatat ada
tiga kandidat utama. Malaikat,
Iblis, dan Manusia.
Malaikat adalah hamba teladan. Mereka tidak punya keinginan untuk protes. Kalau
disuruh sujud, ya sujud sampai kiamat tiba. Hidup mereka lurus, stabil. Dalam konteks kemanusiaan, —mohon
maaf—agak kurang bumbu karena tidak punya pilihan untuk nakal.
Iblis adalah mantan hamba berprestasi,
yang mendadak kena penyakit senioritas. Ketika manusia (si makhluk baru) diciptakan, Iblis merasa
lebih senior karena terbuat dari api. Dia sombong, lalu resign dari barisan
hamba dan memilih jalur oposisi yang abadi.
Manusia, nah ini dia bintang utamanya. Kita diciptakan
dengan paket komplit. Manusia
memiliki nafsu yang membara, tapi punya akal yang kadang-kadang nyala. Kita diberikan
keistimewaan untuk memilih. Mau jadi hamba yang taat, atau mau jadi hamba yang
agak "tersesat" tapi hobinya minta ampun bertaubat.
Manusia itu lucu. Allah memberikan kebebasan untuk ingkar
atau beriman. Ini adalah bentuk demokrasi paling hakiki di alam semesta. Allah
tidak butuh penyembahan kita—karena tanpa kita pun, Dia tetap Tuhan. Tapi kita?
Tanpa status hamba, kita ini cuma tumpukan karbon dan kalsium yang bingung arah
jalan pulang.
Bayangkan jika kita tidak menjadi hamba. Kita mungkin akan
mencoba menjadi "tuhan-tuhan kecil". Jujur saja, mengurus hidup sendiri saja
kita sering pening dan rontok
rambut. Apalagi mau
mengurus peredaran planet? Menjadi hamba berarti kita menyerahkan "urusan
operasional" alam semesta kepada Allah, dan kita cukup fokus pada bagian tugas kehambaan dan kekhalifahan
dengan segala pilihan kebebasan.
Lucunya, manusia seringkali baper (bawa perasaan)
berlebihan. Padahal, kalau manusia
lalai menjadi hamba, matahari tetap terbit, ayam tetap berkokok, dan angin tetap berhembus. Tuhan tetaplah Tuhan. Status
hamba sebenarnya adalah perlindungan bagi kita, agar tidak gila karena merasa harus
mengendalikan segalanya.
Allah tidak sekadar memberi kita status hamba, tapi juga
memberikan opsi upgrade. Dari level "Beriman" (yang penting percaya),
naik menjadi "Takwa" (yang selalu waspada).
Dalam kacamata sufistik yang jenaka, orang takwa itu
seperti orang yang sedang berjalan di jalanan penuh kotoran ayam dengan memakai
sepatu putih baru. Dia akan sangat berhati-hati, melompat sana-sini, dan penuh
konsentrasi agar tidak terkena najis. Itulah takwa: seni menjaga diri agar
tidak "terpeleset" dalam drama dunia yang fana ini.
Menjadi takwa bukan berarti kita harus bermuka masam dan
berhenti tertawa. Justru, seorang hamba yang takwa adalah mereka yang paling
bahagia. Mengapa? Karena mereka tahu rahasia besarnya: Semua sudah ada yang
mengatur.
"Tuhan, saya sudah berusaha maksimal, hasilnya silakan Engkau yang tentukan. Izinkan, saya mau ngopi sejenak."
Kalimat itu terdengar santai, tapi mengandung kedalaman
tawakal yang luar biasa. Itulah puncak dari menjadi hamba.
Jadi, berhentilah meratapi nasib seolah-olah Anda adalah
makhluk paling menderita. Ingatlah bahwa Iblis sudah dipecat dari jabatan hamba
karena kesombongannya. Malaikat tetap di posisinya tanpa variasi rasa.
Sedangkan kita? Kita bisa berbuat salah, menangis, tertawa, lalu bertaubat
sambil curhat.
Bersyukur menjadi hamba berarti menyadari bahwa kita punya
tempat untuk mengadu. Menjadi hamba berarti kita tidak perlu memikirkan
bagaimana cara memutar bumi besok pagi. Tugas kita cuma satu: menyadari bahwa
kita butuh Allah, sementara Allah sama sekali tidak butuh kita.
Sungguh sebuah komedi yang indah, bukan? Kita yang butuh,
tapi kita yang sering jual mahal. Namun, Allah dengan kasih sayang-Nya tetap
menunggu kita di pintu pertaubatan.
Maka, nikmatilah status kehambaan Anda. Jangan terlalu
serius memikirkan dunia, karena sejatinya kita hanyalah tamu yang sedang mampir
minum, lalu kembali pulang ke pelukan Sang Pemilik Semesta. Wallahu’alam bishawab. ***

Komentar
Posting Komentar