Tiga Wajah Kekuasaan

 

Oleh:Temu Sutrisno

Sore itu, lantai dua kantor perkumpulan profesi terasa hangat. Hujan tipis baru saja reda. Angin dari jendela terbuka membawa aroma tanah basah yang bercampur dengan harum kopi hitam. Suara kha Iwan Fals menyanyikan lagu Tikus-tikus Kantor, mengalun pelan dari komputer Pak Aslam.

Di atas meja tersaji rengginang Morowali, kacang kulit sangrai, dan pisang Manado kuning ranum.

Tonakodi duduk di kursi rotan. Wajahnya tenang. Matanya teduh seperti danau yang tak terusik angin. Ia menyesap kopi perlahan seolah sedang membaca rahasia kehidupan dari kepulan uap yang naik ke udara.

Di sebelahnya, Om Uchen sedang sibuk mengunyah kacang.

"Kacang ini hebat," katanya sambil tertawa. "Kulitnya keras, tapi isinya lembut. Mirip pejabat kalau lagi kampanye."

Semua tertawa.

Om Uly yang terkenal blak-blakan langsung menyahut.

"Jangan begitu. Ada juga pejabat yang baik."

"Ada," jawab Om Uchen cepat. "Tapi jumlahnya kadang lebih sedikit daripada kacang yang isinya utuh."

Tawa kembali pecah.

Ami dan Agung yang duduk di ujung meja saling berpandangan. Mereka menikmati percakapan itu sambil memainkan sesuatu  atau mencari informasi di telepon genggam mereka.

Ami, pemuda berkulit putih bersih bertanya santun, "Tonakodi, sebenarnya apa bedanya pejabat, negarawan, dan penjahat? Kadang orang dan kita semua sulit membedakannya."

Tonakodi meletakkan cangkirnya.

Ia memandang keluar jendela beberapa saat sebelum menjawab, melihat taman yang berisi bola batu, tanpa bunga harum menawan.

"Perbedaan mereka bukan pada pakaian, bukan pada jabatan, bahkan bukan pada pidato-pidato yang terdengar indah dan menggelegar."

"Lalu pada apa?" tanya Agung.

"Pada arah hatinya."

Ruangan mendadak hening.

Tonakodi melanjutkan. "Pejabat berpikir tentang masa jabatannya. Negarawan berpikir tentang masa depan bangsanya. Sedangkan penjahat berpikir tentang dirinya sendiri."

Om Uchen mengangkat rengginang.

"Kalau rengginang ini berpikir tentang dirinya sendiri, dia tidak mau dimakan. Hehehe."

Semua tertawa lagi.

Tonakodi tersenyum. "Benar. Karena hidup adalah memberi manfaat. Sesuatu yang hanya ingin menyelamatkan dirinya sendiri akhirnya kehilangan makna keberadaannya."

Om Uly mengangguk. "Itu sebabnya banyak orang kehilangan pengaruh setelah tidak menjabat."

"Karena yang dihormati orang, jabatannya, bukan diri pejabat itu," jawab Tonakodi.

Ami tampak berpikir. "Jadi negarawan tetap dibutuhkan meski tidak punya jabatan?"

Tonakodi mengangguk pelan.

"Seperti pohon tua yang tetap memberi keteduhan walaupun tidak lagi berbuah lebat. Orang tetap datang kepadanya untuk berteduh."

Agung yang terkenal cerdik menimpali.

"Berarti negarawan tidak tergantung kursi."

"Tepat."

Tonakodi mengambil sebutir kacang sangrai.

"Lihat kacang ini. Ketika masih mentah, ia mengira kulitnya adalah segalanya. Setelah disangrai, kulit itu mudah dilepas. Jabatan juga demikian. Jabatan hanya kulit luar."

Om Uchen langsung menambahkan.

"Makanya jangan menikahi jabatan. Nanti saat pensiun jadi duda politik."

Gelak tawa kembali memenuhi ruangan.

Namun beberapa saat kemudian, Agung bertanya lebih serius.

"Kalau penjahat, bagaimana cirinya?"

Tonakodi terdiam sejenak.

"Penjahat tidak selalu membawa senjata. Kadang ia membawa senyum."

Ruangan kembali sunyi.

"Penjahat ingin untung sendiri walaupun rakyat rugi. Ia merasa paling benar. Ia suka mengintervensi. Ia menyembunyikan maksud sebenarnya. Ia memanfaatkan bangsa dan negara sebagai kendaraan menuju kepentingannya."

Om Uly menghela napas. "Banyak juga yang seperti itu."

"Banyak, sejak zaman dahulu," jawab Tonakodi.

"Lalu bagaimana mengenalinya?" tanya Ami.

Tonakodi menatap mereka satu per satu.

"Lihat ketika ia tidak mendapatkan keuntungan. Jika kemarahannya lebih besar daripada kepeduliannya kepada rakyat, maka berhati-hatilah."

Om Uchen mengangkat pisang Manado.

"Banyak orang marah saat tidak dapat bagian. Semua ingin menikmati kue kekuasaan untuk kekayaan. Istilahnya hujan tidak merata, hehehe."

"Itu lapar, bukan jahat," kata Om Uly sambil mengupas pisang.

Hujan mulai turun lagi di luar. Butir-butir air memantulkan cahaya lampu jalan yang mulai menyala.

Tonakodi memandang ke arah hujan.

"Dalam perjalanan hidup, seseorang bisa menjadi pejabat. Itu biasa. Seseorang bisa menjadi kaya. Itu juga biasa."

"Lalu yang luar biasa?" tanya Agung.

"Menjadi manusia yang tetap berpikir untuk orang lain ketika tidak lagi memiliki kuasa. Bahkan ia tetap memberikan manfaat pada sesama, meski tidak kaya."

Mereka terdiam.

"Kekuasaan adalah ujian. Jabatan adalah titipan. Sedangkan pengabdian adalah pilihan."

Ami mengangguk pelan. Kalimat itu terasa menancap dalam hatinya.

Tonakodi lalu menutup percakapan sore itu dengan suara lembut.

"Sejarah tidak terlalu lama mengingat siapa yang pernah duduk di kursi. Tetapi sejarah selalu mengingat siapa yang menyalakan pelita ketika banyak orang memilih menjadi bayangan."

Hujan semakin deras.

Kopi di cangkir tinggal sedikit. Rengginang hampir habis. Kulit pisang dan kacang telah menumpuk.

Namun di lantai dua kantor perkumpulan profesi itu, mereka merasa mendapatkan sesuatu yang lebih mengenyangkan daripada makanan di atas meja.

Sebuah pelajaran sederhana.

Bahwa pejabat akan berakhir ketika masa jabatannya selesai.

Negarawan tetap hidup dalam pikiran dan tindakan untuk bangsanya meski tanpa jabatan.

Sedangkan penjahat, betapapun tinggi kedudukannya, akan selalu dikenang sebagai orang yang sibuk membangun dirinya sendiri di atas kerugian banyak orang. Bahkan tidak peduli, jika harus korupsi.

Sore itu, di antara aroma kopi, rengginang Morowali, kacang sangrai, dan pisang Manado, hujan seolah ikut mengamini kebijaksanaan yang mengalir dari hati Tonakodi bersama para sahabat yang erat seperti keluarga sendiri. ***



Tana Kaili, 4 Mei 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta di Antara Angkara

Pitutur Luhur: Gemi, Nastiti, Ngati-ati

Ombo; Kearifan Lokal Masyarakat Kaili Melestarikan Alam