Renungan Jumat: Makin Bertakwa, Semakin Memuliakan Manusia
Oleh: Temu Sutrisno
Jumat adalah momentum yang tepat untuk merenungkan kembali kualitas ketakwaan kita. Bukan hanya seberapa rajin kita beribadah, tetapi juga seberapa besar ibadah itu membentuk cara kita memperlakukan sesama manusia. Sebab dalam Islam, ketakwaan yang sejati tidak berhenti pada hubungan dengan Allah SWT, melainkan harus terwujud dalam penghormatan terhadap harkat dan martabat manusia.
Di era digital saat ini, refleksi tersebut menjadi semakin penting. Kemajuan teknologi informasi telah membuka ruang komunikasi yang sangat luas. Dalam hitungan detik, seseorang dapat menyampaikan pendapat, menyebarkan informasi, bahkan memengaruhi jutaan orang. Namun, di balik manfaat yang besar, dunia digital juga melahirkan berbagai kecenderungan yang justru menggerus nilai-nilai kemanusiaan.
Fenomena perundungan siber (cyberbullying), ujaran kebencian, fitnah, penyebaran hoaks, hingga budaya saling menghina menjadi pemandangan yang kian lazim. Banyak orang merasa bebas melukai orang lain hanya karena berlindung di balik layar gawai. Kata-kata yang mungkin tidak akan diucapkan secara langsung justru dengan mudah dituliskan di media sosial.
Di sinilah ketakwaan diuji. Sebab ketakwaan bukan hanya soal seseorang berdiri dalam salat, tetapi juga kemampuan menjaga lisannya, termasuk "lisan digital". Jari-jari yang mengetik di telepon genggam sejatinya juga akan dimintai pertanggungjawaban. Setiap komentar, unggahan, dan pesan yang disebarkan adalah bagian dari amal yang dicatat.
Allah SWT telah memuliakan manusia tanpa membedakan suku, bangsa, warna kulit, status sosial, maupun latar belakang ekonomi. Islam hadir untuk menghapus kesombongan dan diskriminasi yang pernah menjadi budaya masyarakat jahiliah. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang bukan terletak pada keturunan, kekayaan, atau jabatan, melainkan pada ketakwaannya.
Sayangnya, budaya digital sering kali mendorong manusia kembali pada perilaku yang menyerupai praktik jahiliah dalam bentuk baru. Sebagian orang merasa lebih unggul karena jumlah pengikut yang banyak, status sosial yang tinggi, atau popularitas yang dimiliki. Tidak sedikit pula yang gemar merendahkan orang lain demi memperoleh perhatian dan respons publik. Flexing menjadi tontonan setiap hari.
Cancel culture, penghakiman massal, dan kecenderungan membenci seseorang hanya karena perbedaan pilihan politik, keyakinan, kelompok, atau pandangan merupakan gejala yang perlu diwaspadai. Ketika manusia lebih sibuk menyerang sesama daripada memahami, maka nilai kemanusiaan sedang mengalami kemunduran.
Tren lain yang patut menjadi perhatian adalah hilangnya empati akibat banjir informasi. Setiap hari masyarakat disuguhi berbagai berita tentang bencana, konflik, kemiskinan, hingga penderitaan manusia. Ironisnya, semakin sering melihat penderitaan, sebagian orang justru menjadi semakin kebal secara emosional. Kesedihan orang lain hanya menjadi konten yang dilewati dengan satu gerakan jari.
Padahal salah satu tanda ketakwaan adalah hadirnya rasa kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama. Orang bertakwa tidak menjadikan penderitaan orang lain sebagai hiburan, bahan candaan, atau komoditas untuk meraih popularitas. Sebaliknya, ketakwaan mendorong untuk membantu, mendoakan, dan memberikan solusi sesuai kemampuan.
Momentum Jumat mengajak kita melakukan muhasabah. Apakah media sosial yang kita gunakan selama ini menjadi sarana menyebarkan manfaat atau justru memperbanyak mudarat? Apakah unggahan kita menghadirkan keteduhan atau malah memperkeruh suasana? Apakah komentar yang kita tulis menjaga martabat orang lain atau justru melukai mereka?
Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Misi itu tetap relevan hingga hari ini, termasuk dalam ruang digital. Akhlak yang baik tidak hanya ditunjukkan saat berhadapan langsung dengan orang lain, tetapi juga ketika berinteraksi melalui layar dan jaringan internet.
Semakin tinggi ketakwaan seseorang, semakin besar penghormatannya terhadap manusia. Orang bertakwa tidak mudah menyebarkan aib, tidak gemar menghakimi, tidak menikmati konflik, dan tidak menjadikan kebencian sebagai identitas. Apalagi untuk mengejar algoritma dan engagement penghasil cuan. Orang bertakwa sadar bahwa setiap manusia adalah makhluk yang dimuliakan Allah dan berhak diperlakukan dengan hormat.
Karena itu, di tengah derasnya arus digitalisasi, mari menjadikan ketakwaan sebagai kompas moral. Jangan sampai teknologi yang seharusnya mendekatkan manusia justru menjadi alat untuk merusak persaudaraan. Jangan sampai kemajuan informasi diiringi kemunduran akhlak.
Semoga setiap salat Jumat yang kita tunaikan mampu memperkuat hubungan kita dengan Allah, sekaligus memperhalus hubungan kita dengan sesama manusia. Sebab ukuran ketakwaan tidak hanya tampak di masjid, tetapi juga terlihat dalam jejak digital yang kita tinggalkan setiap hari. Makin bertakwa, semestinya makin memuliakan manusia.***
Tana Kaili, Jumat 5 Juni 2026

Komentar
Posting Komentar