Pilihan Kata, Isi Kepala, dan Etika
Oleh: Temu Sutrisno
Era kebebasan bersuara yang dinikmati masyarakat saat ini sesungguhnya memberikan ruang yang luas bagi setiap orang untuk menyampaikan gagasan, kritik, maupun pandangannya terhadap berbagai persoalan. Namun di balik kebebasan tersebut, ada satu hal yang sering terlupakan, yakni tanggung jawab moral dalam menggunakan bahasa.
Fenomena yang cukup memprihatinkan adalah munculnya banyak figur yang ditokohkan masyarakat atau bahkan mengaku sebagai tokoh publik, tetapi justru gemar menggunakan kata-kata kasar, merendahkan, mencaci, dan menghina pihak lain. Perilaku semacam ini dapat dengan mudah ditemukan di berbagai platform media sosial, kanal video, hingga forum diskusi publik. Alih-alih menghadirkan argumentasi yang mencerahkan, sebagian orang justru lebih memilih menyerang pribadi lawan bicara dengan bahasa yang buruk.
Padahal, pilihan kata atau diksi merupakan cerminan langsung dari isi kepala seseorang. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga jendela yang memperlihatkan cara berpikir, tingkat pengetahuan, kematangan emosi, serta kualitas karakter seseorang. Apa yang keluar dari lisan atau tulisan pada dasarnya adalah refleksi dari apa yang tersimpan dalam pikiran.
Dalam ilmu bahasa, diksi memiliki peran penting dalam menyampaikan pesan secara tepat. Seseorang yang memiliki kemampuan literasi yang baik akan mampu memilih kata yang sesuai dengan konteks, tujuan, dan audiens yang dihadapinya. Ia memahami bahwa setiap kata memiliki makna, nuansa, dan dampak yang berbeda.
Misalnya, terdapat perbedaan makna yang cukup jelas antara kata "melihat", "mengamati", "memandang", "mengintip", "mengerling", "menatap", atau "memelototi". Semuanya berhubungan dengan aktivitas menggunakan mata, tetapi masing-masing mengandung nuansa yang berbeda. Kemampuan memilih kata yang tepat menunjukkan keluasan kosakata sekaligus kedalaman pemahaman seseorang terhadap bahasa.
Lebih dari itu, pilihan kata juga menunjukkan etika. Kesantunan berbahasa adalah salah satu ukuran kematangan seseorang dalam berinteraksi sosial. Orang yang beretika akan berusaha menjaga perasaan lawan bicara tanpa harus mengurangi ketegasan pendapatnya. Ia mampu mengkritik tanpa menghina, berbeda pendapat tanpa merendahkan, dan menyampaikan kebenaran tanpa harus melukai martabat orang lain.
Sebaliknya, penggunaan kata-kata kasar sering kali menunjukkan kemiskinan argumentasi. Ketika seseorang kehabisan alasan dan data, tidak jarang ia menggantinya dengan makian. Dalam kondisi seperti itu, bahasa tidak lagi berfungsi sebagai sarana pertukaran gagasan, melainkan berubah menjadi alat pelampiasan emosi.
Literasi yang baik sesungguhnya tidak hanya ditandai oleh banyaknya buku yang dibaca, tetapi juga oleh kemampuan mengolah pengetahuan menjadi komunikasi yang bijaksana. Orang yang terbiasa membaca dan belajar umumnya memiliki kosakata yang lebih kaya sehingga tidak perlu menggunakan kata-kata kasar untuk mengekspresikan ketidaksetujuannya. Ia mampu menyampaikan kritik dengan elegan dan tetap tajam tanpa kehilangan kesantunan.
Dalam perspektif agama, pentingnya menjaga lisan mendapat perhatian yang sangat besar. Islam mengajarkan bahwa perkataan merupakan bagian dari akhlak yang akan dipertanggungjawabkan. Rasulullah Muhammad SAW secara tegas melarang umatnya mencaci, menghina, maupun melaknat orang lain.
Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa mencaci seorang Muslim termasuk kefasikan. Rasulullah Muhammad SAW juga menyontohkan sikap yang sangat mulia ketika menghadapi orang-orang yang memusuhinya. Beliau tidak membalas keburukan dengan keburukan, melainkan dengan kesabaran, doa, dan akhlak yang baik.
Al-Qur'an pun berkali-kali memerintahkan umat manusia untuk berkata baik. Bahkan ketika menghadapi perbedaan keyakinan, Islam melarang umatnya mencela sesembahan agama lain agar tidak menimbulkan permusuhan dan balasan yang lebih buruk. Ini menunjukkan bahwa etika berbahasa bukan hanya persoalan sopan santun, melainkan juga instrumen untuk menjaga kedamaian sosial.
Selain itu, Allah SWT melarang pemberian julukan buruk kepada orang lain. Sebuah panggilan yang merendahkan martabat seseorang dapat meninggalkan luka psikologis yang mendalam. Karena itu, Islam mengajarkan penghormatan terhadap kehormatan dan harga diri setiap manusia.
Di tengah derasnya arus informasi dan kebebasan berekspresi saat ini, masyarakat perlu kembali menyadari bahwa kualitas seseorang tidak hanya terlihat dari yang dipikirkannya, tetapi juga dari cara mengungkapkannya. Kata-kata yang baik lahir dari pikiran yang jernih, hati yang bersih, dan wawasan yang luas. Sebaliknya, kata-kata yang penuh kebencian sering kali menjadi tanda sempitnya cara pandang dan dangkalnya pemahaman.
Karena itu, sebelum berbicara atau menulis, sebaiknya setiap orang bertanya kepada dirinya sendiri, apakah kata-kata yang akan disampaikan membawa manfaat atau justru menimbulkan mudarat? Apakah kritik yang disampaikan bertujuan memperbaiki atau sekadar melukai?
Pilihan kata adalah cermin isi kepala. Semakin baik kualitas pikiran, semakin baik pula bahasa yang digunakan. Semakin baik bahasa yang digunakan, semakin besar peluang terciptanya ruang publik yang sehat, beradab, dan mencerahkan bagi semua.***

Komentar
Posting Komentar