Pancasila
Oleh: Temu Sutrisno
Di
negeri yang lahir dari doa-doa panjang, dari
air mata dan darah para
pejuang,
terpancang lima cahaya gemilang, yang
tak pernah selesai dibaca zaman.
Lima menjadi satu, perekat yang bercerai berai, pengikat perbedaan dari hilir hingga hulu, petunjuk jalan pulang bagi tumpah darah negeri. Itulah Pancasila.
ooo
Satu: Ketuhanan Yang Maha Esa
Di langit Nusantara, azan bersahutan dengan lonceng
gereja, mantra
berbaur dengan kidung,
sutra dan
doa-doa melayang dari
rumah-rumah ibadah berbeda nama.
Tuhan tidak pernah meminta manusia membangun tembok kebencian. Tetapi manusia sering lupa, mengangkat keyakinan menjadi senjata, menjadikan surga sebagai alasan
untuk saling melukai mengagungkan perbedaan warna.
Tuhan hadir dalam
tangan yang menolong, dalam
hati yang lapang, dalam
kesediaan menghormati jalan
ibadah yang beragam.
Tuhan Yang Maha Esa bukan milik satu golongan, Tuhan cahaya
yang menerangi seluruh kehidupan. Biarlah
masjid tetap makmur dalam syiar, gereja damai, pura
tetap teduh, vihara hening, klenteng dalam ketenangan.
ooo
Dua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Setiap manusia lahir dengan
tangis yang sama. Tidak
ada bayi yang datang
membawa pangkat, jabatan, atau garis keturunan yang membuatnya lebih mulia.
Di
tengah perjalanan, manusia
menciptakan sekat-sekat, mengukur
harga sesama
dengan kekayaan dan kekuasaan. Ada
yang dipuja karena hartanya, ada
yang diinjak karena kemiskinannya.
Kemanusiaan bukan soal siapa yang berdiri lebih tinggi, melainkan siapa yang bersedia merunduk mengangkat mereka yang jatuh dan tersakiti.
Adab adalah wajah kemanusiaan. Ketika yang kuat melindungi yang lemah, ketika hukum membela yang benar, ketika hati masih mampu merasa pedih atas penderitaan sesama.
Bangsa yang kehilangan kemanusiaan akan tampak megah dari luar, tetapi rapuh di dalam. Karena peradaban tidak dibangun oleh gedung-gedung tinggi, melainkan oleh hati yang
menghargai martabat manusia seperti menyayangi diri
sendiri.
ooo
Tiga: Persatuan Indonesia
Negeri ini dibentangkan oleh ribuan pulau, ratusan
bahasa, dan
berjuta perbedaan. Laut
memisahkan daratan, tetapi
cita-cita menyatukan perjalanan.
Ada yang lahir di ujung Sumatra, ada yang besar di Jawa, ada
yang tumbuh di Papua, ada
yang mengakar di Sulawesi, ada
yang bernafas di Kalimantan. Namun
merah putih
menjadi rumah bagi semuanya.
Persatuan bukan berarti seragam. Persatuan adalah kesediaan untuk tetap berjalan bersama meski langkah tak selalu sama.
Hari ini, ancaman
terbesar bukan datang dari luar. Ia
tumbuh dari dalam:
prasangka, fanatisme, dan kepentingan sempit yang ingin mengalahkan kepentingan bangsa.
Bukankah
Indonesia berdiri karena
para pendiri negeri memilih
"kita" daripada
"aku". Memilih
Indonesia Raya daripada
golongan dan suku.
ooo
Empat: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan dan Perwakilan
Demokrasi bukan suara yang paling keras. Demokrasi adalah kebijaksanaan
yang lahir dari kesediaan mendengar. Musyawarah
bukan arena untuk
saling mengalahkan, bukan
panggung bagi
mereka yang merasa paling benar.
Musyawarah adalah meja panjang tempat ego ditanggalkan, tempat kepentingan bersama diletakkan lebih tinggi daripada kepentingan pribadi.
Tetapi zaman sering tergelincir. Kebenaran dibeli, suara
rakyat diperjualbelikan, jabatan
menjadi rebutan, dan
amanah berubah wajah serakah. Kebijaksanaan
tenggelam di
bawah gelombang kepentingan.
Ingatlah,
setiap keputusan akan
dimintai pertanggungjawaban, bukan
hanya oleh sejarah, tetapi
juga oleh Tuhan. Kekuasaan
sejati bukan
kemampuan memerintah, tetapi keberanian
berlaku bijaksana.
ooo
Lima: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Di negeri yang kaya raya, masih ada anak-anak yang
belajar di bawah atap bocor. Masih
ada petani yang
menanam harapan, namun
memanen kesulitan. Masih
ada nelayan yang
berlayar di lautan luas, tetapi
pulang membawa kecemasan.
Di satu sudut, kemewahan
menjulang tinggi. Di
sudut lain, kemiskinan
bertahan hidup
dengan sisa-sisa dan nestapa.
Keadilan bukan sekadar angka pertumbuhan, bukan laporan yang indah di atas meja kekuasaan.
Keadilan adalah ketika nikmat negeri ini dirasakan semua orang, ketika hak dan kewajiban berjalan seimbang, ketika gotong royong lebih
kuat daripada keserakahan, ketika
tangan yang kuat tidak
memeras mereka yang tanpa daya.
Keadilan adalah ketika
kerja keras lebih
dihargai daripada kedekatan, ketika
kemajuan
tidak hanya dinikmati segelintir orang, tetapi
menjadi cahaya yang
menerangi seluruh negeri, dari tengah lautan hingga ujung
daratan.
ooo
Pancasila bukan masa lalu. Pancasila adalah cermin yang
setiap hari menanyakan:
Apakah kita masih bertuhan
di tengah kebencian?
Apakah kita masih manusia
di tengah carut marut peradaban?
Apakah kita masih bersatu
di tengah perbedaan?
Apakah kita masih bermusyawarah
di tengah kerakusan kekuasaan?
Apakah kita masih memperjuangkan keadilan
di tengah kesenjangan?
Lima sila itu tetap berdiri, seperti mercusuar di tengah badai. Setia menunggu
bangsa ini, bukan
sekadar menghafalnya, tetapi
menghidupkannya.
Indonesia tidak akan besar oleh kekayaan alamnya. Indonesia akan besar ketika Pancasila hidup
dalam perilaku warganya.***

Komentar
Posting Komentar