Memahami Perkembangan Digital dalam Posthumanisme Sophia Roosth
Oleh: Temu Sutrisno
Perkembangan teknologi digital dalam beberapa dekade terakhir telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Kehadiran internet, media sosial, kecerdasan buatan (artificial intelligence), big data, hingga bioteknologi tidak hanya menghadirkan kemudahan dalam berkomunikasi dan bekerja, tetapi juga mengubah cara manusia memahami dirinya sendiri dan hubungannya dengan dunia. Dalam konteks inilah pemikiran Sophia Roosth, seorang akademisi di bidang Science and Technology Studies (STS), menjadi penting untuk dipahami.
Roosth menawarkan perspektif yang berbeda dalam melihat perkembangan teknologi. Jika selama ini teknologi sering dipandang sebagai alat yang diciptakan dan dikendalikan manusia, maka melalui pendekatan posthumanisme, teknologi tidak lagi diposisikan sekadar sebagai instrumen pasif. Teknologi dipahami sebagai bagian dari jaringan yang turut membentuk kehidupan sosial, budaya, ekonomi, bahkan identitas manusia itu sendiri.
Menuju Pemahaman Baru
Pemikiran Roosth berangkat dari tradisi Studi Sains dan Teknologi (STS) yang berkembang sejak tahun 1970-an. Pada masa awal, para peneliti STS berusaha membongkar anggapan bahwa ilmu pengetahuan berkembang secara objektif dan bebas dari pengaruh sosial. Mereka meneliti berbagai kontroversi ilmiah untuk menunjukkan bahwa fakta-fakta ilmiah lahir melalui proses perdebatan, negosiasi, dan interaksi antaraktor yang memiliki kepentingan berbeda.
Melalui pendekatan tersebut, sains tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang berdiri di luar masyarakat. Sebaliknya, sains merupakan bagian dari praktik sosial yang dipengaruhi oleh budaya, politik, ekonomi, dan kekuasaan.
Perkembangan pemikiran ini kemudian melahirkan kesadaran bahwa teknologi pun tidak berkembang secara otomatis berdasarkan logika ilmiah semata. Teknologi dibentuk oleh kebutuhan masyarakat, pilihan politik, kepentingan ekonomi, serta nilai-nilai budaya yang hidup dalam suatu zaman.
Era Digital dan Kaburnya Batas Manusia
Masuknya era digital menghadirkan tantangan baru bagi teori sosial. Kehidupan manusia semakin terhubung dengan perangkat teknologi. Telepon pintar menjadi perpanjangan tangan manusia. Algoritma media sosial menentukan informasi yang diterima setiap hari. Mesin pencari membantu proses berpikir. Kecerdasan buatan bahkan mulai mengambil alih berbagai pekerjaan yang sebelumnya hanya dapat dilakukan manusia.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan mendasar: apakah manusia masih menjadi pusat kehidupan sosial?
Menurut Roosth, pertanyaan tersebut tidak dapat dijawab dengan cara berpikir tradisional yang memisahkan manusia dan teknologi secara tegas. Dalam kehidupan digital, keduanya telah saling terhubung dan saling membentuk. Keputusan manusia dipengaruhi oleh teknologi, sementara teknologi juga dibentuk oleh pilihan manusia.
Ketika seseorang membuka media sosial, misalnya, apa yang dilihatnya bukan sepenuhnya hasil pilihan pribadi. Algoritma bekerja menentukan informasi yang dianggap relevan. Dengan kata lain, proses komunikasi tidak lagi hanya melibatkan manusia, tetapi juga sistem digital yang berperan aktif dalam membentuk pengalaman sosial.
Gagasan utama yang dikembangkan Roosth adalah posthumanisme. Istilah ini sering disalahpahami sebagai upaya menggantikan manusia dengan mesin. Padahal, posthumanisme tidak bertujuan menghapus manusia, melainkan mengkritik pandangan lama yang menempatkan manusia sebagai pusat segala sesuatu.
Dalam tradisi humanisme klasik, manusia dianggap sebagai satu-satunya agen yang memiliki kemampuan berpikir, menentukan tindakan, dan mengendalikan lingkungan. Namun perkembangan teknologi digital menunjukkan bahwa berbagai entitas non-manusia juga memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan sosial.
Komputer, jaringan internet, algoritma, data digital, satelit komunikasi, bahkan mikroorganisme dalam penelitian bioteknologi menjadi bagian dari sistem yang memengaruhi kehidupan manusia. Oleh karena itu, teori sosial tidak lagi cukup menjelaskan hubungan antarmanusia semata, tetapi juga harus memahami hubungan manusia dengan berbagai aktor non-manusia.
Bagi Roosth, dunia modern merupakan jaringan kompleks yang terdiri atas manusia, teknologi, benda-benda material, organisme biologis, dan lingkungan yang saling terhubung. Tidak ada satu aktor tunggal yang sepenuhnya mengendalikan sistem tersebut.
Kehidupan Digital sebagai Jaringan Relasi
Dalam perspektif posthumanisme, kehidupan digital dapat dipahami sebagai jaringan relasi yang terus bergerak. Setiap aktivitas daring melibatkan banyak unsur yang bekerja secara bersamaan.
Ketika seseorang mengirim pesan melalui aplikasi percakapan, misalnya, proses tersebut tidak hanya melibatkan pengirim dan penerima pesan. Di dalamnya terdapat perangkat keras, perangkat lunak, server, jaringan internet, algoritma keamanan, pusat data, dan berbagai sistem digital lainnya. Semua unsur tersebut berkontribusi terhadap keberhasilan komunikasi.
Pandangan ini mengubah cara kita memahami teknologi. Teknologi bukan lagi sekadar alat bantu, tetapi bagian dari ekosistem sosial yang membentuk tindakan manusia.
Karena itu, perkembangan digital tidak hanya menghasilkan perubahan teknis, melainkan juga perubahan sosial dan budaya. Cara manusia berinteraksi, belajar, bekerja, berpolitik, bahkan membangun identitas diri kini semakin dipengaruhi oleh teknologi digital.
Tantangan Etika di Era Posthumanisme
Pemikiran Roosth juga mengingatkan bahwa perkembangan digital membawa berbagai persoalan etis yang perlu mendapat perhatian serius. Pengumpulan data pribadi, pengawasan digital, manipulasi informasi, penyebaran disinformasi, hingga penggunaan kecerdasan buatan dalam pengambilan keputusan merupakan contoh tantangan yang muncul dalam masyarakat digital.
Dalam kondisi seperti ini, teknologi tidak dapat dipandang netral. Setiap sistem digital mengandung nilai, kepentingan, dan konsekuensi sosial tertentu. Oleh sebab itu, masyarakat perlu memahami bagaimana teknologi bekerja dan siapa yang memperoleh keuntungan dari penggunaannya.
Kesadaran tersebut penting agar perkembangan teknologi tidak hanya menghasilkan efisiensi, tetapi juga tetap menjunjung nilai kemanusiaan, keadilan, dan tanggung jawab sosial.
Masa Depan yang Terhubung
Pemikiran Sophia Roosth memberikan pelajaran berharga bahwa perkembangan digital bukan sekadar cerita tentang kemajuan perangkat teknologi. Kejadian sesungguhnya adalah transformasi cara manusia memahami dunia dan dirinya sendiri.
Di era kecerdasan buatan, internet of things, bioteknologi, dan komputasi berbasis data, batas antara manusia dan teknologi semakin sulit dipisahkan. Kehidupan sosial tidak lagi dibentuk oleh manusia semata, melainkan oleh jaringan hubungan yang melibatkan berbagai entitas manusia maupun non-manusia.
Melalui teori sosial posthumanis, Roosth mengajak kita melihat dunia digital secara lebih kritis dan menyeluruh. Teknologi bukan hanya alat yang digunakan manusia, tetapi juga kekuatan yang ikut membentuk cara manusia berpikir, bertindak, dan membangun masa depannya. Dengan memahami hubungan yang semakin kompleks tersebut, masyarakat dapat lebih siap menghadapi berbagai perubahan yang terus hadir dalam peradaban digital abad ke-21.***

Komentar
Posting Komentar