Hancur karena Pesta
Oleh: Temu Sutrisno
Di tengah konstelasi global yang membuat ekonomi pasang surut, banyak daerah di Indonesia sedang menghadapi tekanan fiskal yang tidak ringan. Defisit anggaran membayangi, penerimaan daerah tidak selalu sesuai target. Sementara pemerintah pusat menerapkan kebijakan efisiensi dan melakukan penyesuaian terhadap sejumlah dana transfer ke daerah.
Dalam situasi seperti ini, publik tentu berharap para pemimpin daerah menunjukkan kepekaan, kehati-hatian, dan kemampuan mengelola prioritas. Ada yang berteriak keras pada pemerintah pusat. Ada yang kreatif menyesuaikan anggaran. Namun ada juga kepala daerah yang menganggarkan kendaraan mewah. Ada pula yang rajin melakukan perjalanan ke luar negeri, menggelar perayaan besar, dan menyelenggarakan berbagai kegiatan seremonial yang menghabiskan energi serta sumber daya. Tidak jarang pula kegiatan tersebut dikaitkan dengan organisasi tertentu yang memiliki kedekatan dengan lingkar kekuasaan, bahkan organisasi yang dipimpin anggota keluarganya sendiri. Malah tidak segan menghilangkan anggaran hibah untuk organisasi lainnya. Untuk mengaburkan modusnya, seluruh anggota dewan diberikan jaminan program melalui anggaran pokok pikiran. Media dan buzzer pun kecipratan sedikit anggaran untuk pencitraan.
Lebih mengkhawatirkan, pembiayaan kegiatan semacam itu sering kali melibatkan para pengusaha. Atas nama dukungan, sponsorship, atau tanggung jawab sosial perusahaan, kalangan bisnis diminta ikut menalangi berbagai kebutuhan acara. Secara hukum mungkin tidak selalu salah. Apalagi jika aparat hukum tutup mata. Tetapi secara etika pemerintahan, praktik semacam ini membuka ruang lahirnya hubungan transaksional yang berbahaya, antara penguasa dan pengusaha.
Sejarah telah berkali-kali mengingatkan bahwa banyak kekuasaan runtuh bukan semata karena serangan musuh dari luar, melainkan karena hilangnya kepekaan terhadap penderitaan rakyat. Salah satu gejalanya adalah kegemaran berpesta ketika keadaan sedang sulit.
Versailles dan Kemarahan Rakyat
Pada akhir abad ke-18, Prancis mengalami krisis ekonomi yang berat. Gagal panen, musim dingin yang ekstrem, dan beban utang negara membuat harga kebutuhan pokok melonjak. Roti yang menjadi makanan utama rakyat menjadi barang mahal. Kelaparan menyebar di berbagai kota.
Namun di Istana Versailles, kehidupan berjalan seolah tidak ada masalah. Raja Louis XVI dan Ratu Marie Antoinette tetap menikmati pesta-pesta mewah, jamuan makan berlimpah, pertunjukan seni, serta berbagai kemewahan yang jauh dari realitas kehidupan rakyat.
Bagi masyarakat yang setiap hari berjuang mencari makanan, kemewahan istana menjadi simbol ketidakpedulian penguasa. Jurang antara rakyat dan elite semakin lebar. Puncaknya terjadi ketika kabar mengenai perjamuan mewah kerajaan menyebar ke Paris di tengah antrean panjang rakyat untuk mendapatkan roti.
Kemarahan pun meledak. Ribuan perempuan Paris melakukan long march menuju Versailles. Mereka menuntut satu hal yang sederhana: makanan. Peristiwa itu menjadi salah satu titik penting yang mempercepat runtuhnya monarki Prancis. Beberapa tahun kemudian, Louis XVI dan Marie Antoinette kehilangan takhta sekaligus nyawa mereka di bawah guillotine.
Bukan pesta yang menjatuhkan kerajaan itu, melainkan pesan yang dikirimkan oleh pesta itu, "penguasa tidak merasakan yang dirasakan rakyatnya."
Babilonia yang Mabuk Kemenangan
Kisah serupa juga muncul dalam sejarah Babilonia. Saat pasukan Persia di bawah Koresh Agung mengepung kota, Raja Belsazar justru mengadakan perjamuan besar bagi seribu bangsawannya.
Di dalam istana berlangsung pesta, minuman mengalir tanpa henti, dan para elite larut dalam keyakinan bahwa benteng Babilonia tidak mungkin ditembus. Mereka terlalu percaya diri dan kehilangan kewaspadaan.
Sementara para bangsawan berpesta, musuh bekerja. Pasukan Persia mengalihkan aliran Sungai Efrat dan masuk ke kota melalui jalur yang tidak terjaga. Dalam satu malam, Babilonia jatuh. Kekaisaran besar yang selama puluhan tahun tampak perkasa runtuh ketika para pemimpinnya sibuk merayakan kemegahan semu.
Danau Anggur Dinasti Shang
Dalam catatan Tiongkok kuno, Raja Zhou dari Dinasti Shang menjadi simbol penguasa yang kehilangan mandat moral. Ketika rakyat menderita akibat kemiskinan, korupsi, dan konflik sosial, sang raja justru membangun taman hiburan pribadi yang terkenal dengan sebutan “Danau Anggur dan Hutan Daging”.
Kemewahan itu menjadi lambang keterputusan penguasa dari rakyatnya. Ketika ancaman politik semakin besar, energi kerajaan habis untuk memuaskan kesenangan elite istana.
Akhirnya, koalisi pasukan dan rakyat menggulingkan Dinasti Shang. Dalam tradisi Tiongkok kemudian lahir konsep Mandat Langit, yakni keyakinan bahwa kekuasaan akan dicabut dari penguasa yang tidak lagi memerintah demi kesejahteraan rakyat.
Pesta sebagai Simbol
Tentu tidak semua pesta akan menghancurkan kekuasaan. Tidak setiap perayaan hari jadi daerah atau kegiatan kebudayaan harus dipandang negatif. Budaya juga membutuhkan ruang ekspresi, hiburan, dan perayaan.
Masalah muncul ketika pesta menjadi simbol ketidakpekaan. Ketika jalan-jalan rusak, pelayanan publik terganggu, anggaran defisit, dan rakyat diminta berhemat, sementara elite justru mempertontonkan kemewahan, maka pesan yang diterima masyarakat sangat jelas: pengorbanan hanya diminta dari bawah, bukan dari atas.
Lebih berbahaya lagi jika pengusaha didorong menjadi penyandang dana berbagai kegiatan seremonial. Hubungan yang semestinya profesional dapat berubah menjadi hubungan utang budi. Dari sinilah sering muncul praktik-praktik yang merusak tata kelola pemerintahan.
Sejarah menunjukkan bahwa kehancuran sebuah kekuasaan sering kali tidak diawali oleh ledakan besar. Melainkan dimulai dari hilangnya empati, pudarnya rasa malu, dan tumbuhnya keyakinan bahwa pesta lebih penting daripada penderitaan rakyat.
Karena itu, di tengah masa efisiensi dan keterbatasan anggaran saat ini, para pemimpin daerah perlu belajar dari Versailles, Babilonia, dan Dinasti Shang. Rakyat tidak pernah marah kepada kebudayaan atau perayaan. Rakyat marah ketika pesta berlangsung di atas kesulitan mereka.
Ketika kemarahan itu mencapai batasnya, sejarah berulang kali membuktikan. Pesta akan berakhir, tetapi akibatnya bisa sangat panjang bagi mereka yang berkuasa.***

Komentar
Posting Komentar