Ngopi Pagi dan Indonesia Emas

 Oleh: Temu Sutrisno

  

                                                                                    

Ahad pagi itu udara Kota Palu masih adem. Matahari baru naik setombak, tapi sekretariat organisasi mahasiswa sudah ramai. Beberapa meja kecil berkaki pendek penuh gelas kopi hitam, kopi susu, dan piring penuh pisang goreng, tahu isi, buroncong berjejer tak karuan. Bau kopi bercampur bau spidol, khas ruang diskusi mahasiswa.

Tonakodi datang pakai kemeja putih lengan panjang yang digulung sampai siku. Begitu masuk, langsung disambut Akhlis.

Tonakodi, sini… kopinya sudah siap,” kata Akhlis sambil senyum lebar.

Tonakodi tertawa kecil. “Belum diskusi sudah disuguhi kopi. Bahaya ini, bisa kebanyakan bicara.”

Ichal dan Aditya ikut menyambut. Sekitar dua puluh mahasiswa sudah duduk melingkar. Ada yang masih sedikit mengantuk, ada yang sudah semangat, ada juga yang sambil pegang HP tapi tetap pasang telinga.

Diskusi pagi itu temanya agak berat, Human Capital dan Indonesia Emas. Tapi suasananya dibuat santai. Tidak ada mimbar, tidak ada mikrofon. Tonakodi duduk sejajar dengan mahasiswa, lesehan di lantai sekretariat.

Akhlis membuka diskusi dengan bercanda. “Tonakodi, kami sering dengar Indonesia Emas 2045. Tapi terus terang, kami bingung. Emasnya di mana le?”

Pertanyaan itu langsung bikin ruangan hidup. Ada yang ketawa kecil, ada ngakak, ada yang sekadar mengangguk setuju.

Tonakodi mengaduk kopinya pelan. “Pertanyaan bagus. Banyak orang kira Indonesia Emas itu soal tambang emas, nikel, batu bara. Padahal bukan di situ kuncinya.”

Ichal menyela, “Jadi bukan soal SDA, ya? Tambang yang banyak diolah secara ilegal itu.”

“Bukan,” jawab Tonakodi. “Atau tepatnya, bukan cuma itu. Kunci utama Indonesia bisa jadi kekuatan ekonomi nomor empat atau lima dunia itu ada di manusia. Di kepala kalian ini,” katanya sambil menunjuk kepala sendiri.

Aditya mengangkat tangan. “Tapi Pak, kita kan kaya raya. Laut luas, hutan luas, tambang di mana-mana.”

Akhlis tersenyum. Ia menggugah nalar mahasiswa dengan pernyataan retorik. “Nah, itu yang sering bikin kita terbuai. Kita terlalu bangga sama kekayaan di bawah tanah, lupa ngurus manusia yang berdiri di atasnya.”

Beberapa mahasiswa saling pandang.

Tonakodi melanjutkan, suaranya tenang tapi tegas. “Coba lihat sejarah. Singapura, Jepang. Mereka itu hampir tidak punya sumber daya alam. Tapi manusianya dididik habis-habisan. Sekolah serius, disiplin, riset jalan. Akhirnya apa? Mereka maju.”

Ia berhenti sejenak, menyeruput kopi.

“Indonesia diprediksi jadi kekuatan ekonomi dunia. Tapi itu bukan ramalan kosong. Ada syarat mutlaknya. Apa? rakyatnya harus naik kelas. Dari miskin ke menengah, dari menengah ke sejahtera. Pendapatan per kapitanya harus tinggi.”

Seorang mahasiswa di belakang nyeletuk, “Masalahnya Pak, daerah yang kaya malah banyak yang miskin. Sumberdaya alam dikeruk habis-habisan, lingkungan rusak, rakyat menderita.

Tonakodi mengangguk. “Nah, itu yang disebut paradoks Indonesia. Wilayah kaya sumber daya alam, tapi rakyatnya miskin. Tambangnya ada, tapi sekolahnya rusak. Ikan melimpah, tapi nelayannya susah.”

Ruangan jadi hening. Banyak yang merasa itu cerita kampung halaman mereka sendiri.

“Makanya,” lanjut Tonakodi, “pemerintah jangan cuma sibuk menghitung kekayaan alam. Harus fokus membangun manusia. Pendidikan, kesehatan, keterampilan. Itu namanya investasi modal manusia, human capital.”

Akhlis mencatat mencatat sesuatu di buku kecilnya.

“Negara wajib hadir,” kata Tonakodi lagi. “Bukan sekadar hadir pas kampanye. Tapi hadir lewat sistem ekonomi kerakyatan, seperti amanat Pasal 33 UUD 1945. Ekonomi untuk rakyat, bukan cuma segelintir orang.”

Ichal mengangkat alis. “Tonakodi, kalau program-program pemerintah sekarang, gimana menurut Komiu?”

Tonakodi menghela napas pelan. “Ada banyak hal yang perlu dikritisi. Tapi ada juga yang harus diakui langkah bagus seperti sekolah gratis, beasiswa untuk mahasiswa hingga program doktor, misalnya. Pemberian makan bergizi untuk anak-anak. Menyediakan dokter spesialis hingga daerah dan menguatkan UMKM. Itu program strategis. Itu upaya memutus rantai kemiskinan antargenerasi.”

Aditya menimpali, “Tapi sering putus di tengah jalan.”

“Nah itu,” jawab Tonakodi cepat. “Penyakit lama kita. Ganti pemerintahan, ganti program. Yang lama ditinggal, padahal belum selesai. Pendidikan dan kesehatan itu investasi jangka panjang. Hasilnya bukan lima tahun, tapi puluhan tahun.”

Ia menatap satu per satu mahasiswa. “Program seperti ini jangan jadi alat politik. Jangan cuma dipakai cari suara. Harus berkelanjutan. Siapa pun pemimpinnya, program untuk rakyat harus jalan terus.”

Seorang mahasiswi bertanya pelan, “Peran daerah gimana, Pak?”

“Besar sekali,” kata Tonakodi. “Para gubernur, bupati, wali kota, jangan cuma bangga punya tambang atau sawit. Dukung sekolah berkualitas, gratis untuk anak-anak setidaknya hingga lanjutan atas. Jika mampu, sampai perguruan tinggi. Itu cara bikin mereka naik kelas.”

Ia berhenti, lalu berkata dengan nada lebih dalam, “Jangan sampai kekayaan alam kita hebat, tapi SDM-nya lemah. Kalau begitu, kita cuma jadi penonton. Yang kerja orang luar, yang untung segelintir orang. Ujung-ujungnya konflik sosial.”

Mahasiswa mulai gelisah, bukan karena bosan, tapi karena merasa tersentil.

“Semakin terdidik warga,” lanjut Tonakodi, “semakin terbuka peluang kemakmuran. SDA akan dikelola SDM andal, putra-putri negeri sendiri. Hasilnya kembali ke rakyat.”

Akhlis menutup bukunya. “Berarti masalah utamanya ketimpangan, le?”

“Iya,” jawab Tonakodi mantap. “Pola penguasaan sumber ekonomi oleh segelintir orang harus diputus. Ekonomi tidak boleh dinikmati oleh elite saja. Harus dirasakan seluruh rakyat.”

Aditya menghela napas. “Berat ya, Pak.”

Tonakodi tertawa kecil. “Berat, tapi bukan mustahil. Asal ada kemauan politik yang jujur. Jangan cuma ingat rakyat saat kampanye. Setelah berkuasa, lupa daratan, cuma urus kelompok pendukung. Apalagi kalau memberi angin asing dan menutup pintu untuk putra-putri negeri.”

Suasana hening lagi. Kopi di gelas sudah tinggal setengah. Gorengan mulai tinggal remah.

Tonakodi berdiri pelan. “Kalian ini modal besar bangsa. Kalau kalian kritis, jujur, dan mau belajar, Indonesia Emas bukan mimpi.”

Ia menepuk bahu Akhlis yang duduk di sampingnya. “Mulai dari hal kecil. Diskusi, belajar serius, asah ketrampilan, dan terus jaga integritas.”

Ahad pagi itu, diskusi selesai tanpa tepuk tangan meriah. Tapi di kepala para mahasiswa, ada sesuatu yang bergerak. Seperti kopi pahit yang pelan-pelan memberi hangat, obrolan sederhana itu meninggalkan bekas yang dalam.***

 

Tana Kaili, 20 Januari 2026

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta di Antara Angkara

Ombo; Kearifan Lokal Masyarakat Kaili Melestarikan Alam

Di Kampungku, Drag Race jadi Ukuran Kemajuan