Bahaya Doomscrolling: Kecanduan Konten Negatif
Oleh: Temu Sutrisno
Doomscrolling adalah kebiasaan terus-menerus menggulir berita negatif tentang konflik, krisis, ketidakadilan, dan kebencian. Tanpa jeda, tanpa batas, dan sering kali tanpa tujuan yang jelas selain ingin tahu lebih banyak.
Alih-alih tercerahkan, pikiran justru dibanjiri kecemasan, kemarahan, kebencian, dan rasa tidak berdaya. Fenomena ini menjadi salah satu tantangan serius dalam etika digital kontemporer, terutama karena terjadi secara masif dan sering kali tidak disadari oleh penggunanya.
Pada awalnya, doomscrolling tampak seperti aktivitas wajar. Membaca berita untuk mengikuti perkembangan dunia. Namun, perbedaannya terletak pada intensitas dan dampaknya. Doomscrolling tidak berhenti ketika informasi telah cukup, melainkan terus berlanjut meskipun emosi pengguna sudah terkuras. Ada dorongan kompulsif untuk terus menggulir, seolah-olah dengan membaca lebih banyak informasi buruk, seseorang bisa menemukan kejelasan atau kendali. Padahal yang terjadi justru sebaliknya. Semakin banyak dikonsumsi, semakin berat beban psikologis yang ditanggung.
Akumulasi emosi negatif seperti cemas, marah, takut, frustrasi, dan benci tidak berhenti di ruang batin. Emosi tersebut mencari jalan keluar. Media sosial, yang selalu ada di genggaman dan menyediakan ruang ekspresi instan, menjadi sasaran empuk untuk meluapkannya. Kolom komentar, unggahan status, dan balasan singkat sering kali berubah menjadi arena pelampiasan emosi. Di sinilah etika digital diuji, antara kebebasan berekspresi dan tanggung jawab moral terhadap sesama pengguna.
Masalahnya tidak berhenti pada perilaku individu. Kebiasaan doomscrolling dibaca oleh algoritma platform digital. Setiap klik, jeda baca, like, share, dan komentar menjadi sinyal yang diolah sistem. Algoritma kemudian menyimpulkan preferensi pengguna, bahwa konten negatif menarik perhatian dan membuat pengguna bertahan lebih lama. Akibatnya, pengguna dikelompokkan dalam filter bubble sesuai kecenderungan konsumsi informasinya. Konten serupa akan terus disajikan, dengan intensitas dan dramatisasi yang sering kali meningkat.
Inilah pintu masuk menuju echo chamber. Pengguna akhirnya hanya menerima suguhan informasi negatif yang sejalan dengan pola bacaan sebelumnya, tanpa informasi pembanding yang memadai. Perspektif menjadi sempit, realitas terasa lebih gelap daripada kenyataannya, dan kompleksitas masalah sosial direduksi menjadi narasi hitam-putih. Dalam kondisi ini, empati mudah terkikis dan prasangka tumbuh subur. Orang lain tidak lagi dipandang sebagai manusia dengan latar belakang dan konteks, melainkan sebagai simbol dari pihak yang salah.
Dari sudut pandang etika digital, doomscrolling bukan sekadar soal kesehatan mental, tetapi juga soal tanggung jawab moral dalam ekosistem informasi. Pengguna tidak hanya konsumen pasif, melainkan juga bagian dari mata rantai produksi dan distribusi makna. Setiap interaksi dengan konten negatif seperti kemarahan ikut memperkuat visibilitas konten tersebut. Dengan kata lain, kemarahan yang diluapkan justru membantu menyebarkan apa yang dibenci.
Selain itu, doomscrolling menciptakan ilusi kepedulian. Seseorang merasa sudah peduli, hanya dengan membaca dan membagikan berita buruk, padahal tidak ada tindakan nyata yang konstruktif. Etika digital menuntut lebih dari sekadar keterlibatan emosional, namun menuntut refleksi, jarak kritis, dan orientasi pada kebaikan bersama. Tanpa itu, kepedulian berubah menjadi konsumsi penderitaan orang lain sebagai komoditas informasi.
Tanggung jawab tentu tidak sepenuhnya berada di pundak pengguna. Platform digital juga memiliki tanggung jawab etis dalam merancang algoritma yang tidak semata-mata mengejar keterlibatan (engagement), tetapi juga mempertimbangkan kesejahteraan pengguna dan kualitas ruang publik digital. Namun, menunggu perubahan struktural tanpa perubahan personal hanya akan memperpanjang siklus masalah. Etika digital selalu bekerja pada dua level, yakni sistem dan subjek.
Pada level individu, kesadaran adalah langkah pertama. Menyadari bahwa tidak semua informasi harus dikonsumsi, dan tidak semua berita harus diikuti secara real time. Membatasi waktu layar, memilih sumber yang kredibel dan berimbang, serta secara sengaja memasukkan konten positif dan edukatif ke dalam pola konsumsi digital adalah bentuk tanggung jawab etis terhadap diri sendiri. Dalam konteks ini, menjaga kesehatan mental bukanlah sikap egois, melainkan prasyarat untuk tetap menjadi warga digital yang beretika.
Lebih jauh, etika digital mengajak pengguna untuk mengubah respons, dari reaktif menjadi reflektif. Alih-alih langsung berkomentar atau membagikan, pengguna diajak bertanya apa dampak dari tindakan ini? Apakah saya sedang menambah pemahaman, atau hanya menambah kebisingan? Apakah emosi saya saat ini sedang memandu tindakan saya? Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini dapat menjadi rem moral di tengah arus informasi yang deras.
Doomscrolling adalah cermin dari relasi kita dengan teknologi dan informasi. Hal ini menunjukkan ketakutan dan kemarahan dapat dimonetisasi, dan kurangnya kesadaran etis membuat kita terjebak dalam siklus yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Etika digital hadir bukan untuk melarang teknologi, melainkan untuk menuntun manusia agar tetap berdaulat atas perhatian, emosi, dan nuraninya.
Menghentikan doomscrolling bukan berarti menutup mata dari realitas pahit dunia. Sebaliknya, ini adalah upaya untuk menghadapi realitas dengan pikiran yang jernih dan sikap yang bertanggung jawab. Di era digital, etika bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan mendasar agar ruang digital tetap manusiawi.***
Penulis adalah Sekretaris PWI Sulteng, Wartawan Utama Mercusuar-Trimedia Grup

Komentar
Posting Komentar