Dewa Ruci untuk Palu Berbudaya Dan Beradat Dilandasi Iman Dan Taqwa
Oleh: Temu Sutrisno
Kemarin malam (24/9/2016),
komunitas warga Kaili asal Jawa (meminjam istilah Pak walikota) di Palu,
dikoordinir Paguyuban Kesenian Jawa Ekowandowo, ambil peran dalam Festival
Pesona Palu Nomoni (FPPN) dengan menggelar pementasan wayang kulit dengan lakon
Dewa Ruci.
Pilihan lakon Dewa Ruci bukan tanpa tujuan. Lakon ini digelar, berkaitan dengan
semangat visi Palu sebagai kota berbudaya dan beradat dilandasai iman dan
taqwa.
Lakon Dewa Ruci merupakan gubahan Kanjeng Sunan Kalijaga saat melakukan dakwah
Islam melalui pendekatan budaya. Wali yang satu ini sangat brilian, melakukan
islamisasi budaya untuk lebih menyentuh dan memudahkan siar Islam di tengah
masyarakat, yang kala itu mayoritas beragama Hindu, Budha dan kepercayaan
leluhur masyarakat Jawa.Lakon Dewa Ruci akan menceritakan
kisah Bima yang mencari makna jatidiri. Bima berguru kepada Durna. Ia disuruh
mencari air yang bisa menyucikan dirinya.
Dewa Ruci berisi ajaran atau falsafah hidup moral orang Jawa. Lakon wayang ini
menjadi bagian dari epos Mahabarata. Lakon Dewa Ruci menggambarkan sebuah
kepatuhan seorang murid kepada guru, kemandirian bertindak, dan perjuangan
keras menemukan jati diri. Pengenalan jati diri akan membawa seseorang mengenal
asal-usul diri sebagai ciptaan dari Tuhan. Pengenalan akan Tuhan itu
menimbulkan hasrat untuk bertindak selaras dengan kehendak Tuhan, bahkan
menyatu dengan Tuhan atau sering disebut dalam falsafah Jawa disebut sebagai
Manunggaling Kawula Gusti. Dalam ajaran tasawuf Ibnu Arabi dikenal dengan
istilah Wihdatul Wujud.
Dalam lakon Dewa Ruci yang religius
itu dikisahkan, upaya dan tekad keras Bima atau Arya Sena yang ingin
mendapatkan air suci kehidupan, “Tirta Perwita Sari.” Berbagai macam percobaan
dan tantangan serta godaan yang sangat berat dihadapi Bima, akan tetapi Bima
pada akhirnya mampu mengatasinya dan Bima berhasil menemukan dan mendapatkan
air suci Tirta Perwita Sari yang berujud Dewa Ruci yang bukan lain adalah
dirinya sendiri. Lakon Dewa Ruci mengandung makna filsafat tentang tasauf Islam
yang sangat mendalam oleh karena menggambarkan seorang kesatriya dengan kemauan
spiritualitas yang keras untuk mencari jalan yang sebaik-baiknya agar bisa
membawa manusia kepada kebahagiaan yang kekal dan abadi di Syurga.
Siapakah Dewa Ruci sebenarnya? Dewa
Ruci berarti Dewa kerdil (kecil) yang halus dan lembut, adalah dewa dari Bima
yang merupakan perwujudan dari pribadinya sendiri yang sesungguhnya.
Dikisahkan ketika Bima berguru kepada guru Durna tentang ilmu kemanusian dan belajar tentang kesempurnaan hidup sejati ketika bertemu dengan Dewa Ruci. Ia diperintahkan agar masuk ke raganya, akan tetapi Bima berkata:
Dikisahkan ketika Bima berguru kepada guru Durna tentang ilmu kemanusian dan belajar tentang kesempurnaan hidup sejati ketika bertemu dengan Dewa Ruci. Ia diperintahkan agar masuk ke raganya, akan tetapi Bima berkata:
“Apakah cukup jika aku masuk ke
dalam raga kamu yang begitu kecil?”
“Ha ha ha… jangankan hanya sebesar badanmu, dunia dan segala macam isinya ini dapat masuk ke dalam ragaku!” demikian jawab Dewa Ruci sambil tertawa terbahak-bahak.
Ini sebagai gambaran atau simbol bahwa kejiwaan manusia lebih luas dari dunia seisinya.
“Ha ha ha… jangankan hanya sebesar badanmu, dunia dan segala macam isinya ini dapat masuk ke dalam ragaku!” demikian jawab Dewa Ruci sambil tertawa terbahak-bahak.
Ini sebagai gambaran atau simbol bahwa kejiwaan manusia lebih luas dari dunia seisinya.
Dalam buku “Unsur Islam Dalam
Pewayangan” karangan Drs. H. Effendi Zarkasi dikutip penjelasan Ki Siswo
Harsoyo: Pertama, Bima berguru kepada
Guru Durna yaitu orang yang dianggap bisa memberi petunjuk yang benar, berilmu
tinggi secara spiritual. Memiliki ilmu tinggi baik keduniawian maupun
kerokhanianya, orang yang alim. Maknanya,
Bagi orang yang ingin mendalami agama (arti tauhid), dia harus berguru kepada orang yang dianggap alim (berilmu dan berakhlak baik) minta petunjuk jalan (thariq). Jelasnya meminta wejangan tentang ilmu thariqat. Meskipun seorang guru terkadang ada yang menyesatkan, akan tetapi Bima berpendapat kuat bahwa guru adalah sosok yang jujur, berilmu, beriman dan berakhlak baik, maka apa yang dikatakan gurunya selalu dipatuhinya, sebagaimana kata ulama yang berbunyi demikian. Hal ini sepadan dengan yang disampaikan Al Ghazali, “Tangan (kekuasaan) Allah itu mengendalikan mulut cendikiawan, tidak akan dia mengucap, kecuali hanya kebenaran dari Allah”. (Al Ghazali, Ihyaa ‘Ulumuddin, Jilid III halaman 26.)
Bagi orang yang ingin mendalami agama (arti tauhid), dia harus berguru kepada orang yang dianggap alim (berilmu dan berakhlak baik) minta petunjuk jalan (thariq). Jelasnya meminta wejangan tentang ilmu thariqat. Meskipun seorang guru terkadang ada yang menyesatkan, akan tetapi Bima berpendapat kuat bahwa guru adalah sosok yang jujur, berilmu, beriman dan berakhlak baik, maka apa yang dikatakan gurunya selalu dipatuhinya, sebagaimana kata ulama yang berbunyi demikian. Hal ini sepadan dengan yang disampaikan Al Ghazali, “Tangan (kekuasaan) Allah itu mengendalikan mulut cendikiawan, tidak akan dia mengucap, kecuali hanya kebenaran dari Allah”. (Al Ghazali, Ihyaa ‘Ulumuddin, Jilid III halaman 26.)
Kedua, setelah bertemu dengan guru Durna, Bima
mengutarakan keinginannya untuk mencari Tirta Perwita Sari, air suci untuk
kesucian hidup manusia. Oleh gurunya Bima disarankan agar membongkar gunung
Reksamuka.
Maknanya, orang yang akan berguru
ilmu thariqat tidak akan bisa diterima sebelum terlebih dahulu melepaskan
segala keinginan dan nafsu keduniawian, hatinya harus dibersihkan terlebih
dahulu. Ini memang sesuatu yang sangat berat untuk dijalani seperti beratnya
membongkar gunung. “Telah dihiasi manusia dengan kesukaan-kesukaan kepada
barang yang diingini, yaitu wanita-wanita dan anak-anak, (perhiasan) emas dan
perak yang bertumpuk-tumpuk, kuda (kendaraan) yang bagus, binatang ternak,
sawah ladang, yang demikian itu perhiasan di dunia, tetapi di sisi Allah ada
tempat kembali yang baik”. ( QS. Ali Imran: 14 )
Ketiga, Bima mematuhi petunjuk gurunya, lalu pergi
untuk membongkar gunung Reksamuka. Maknanya, setelah orang yang berguru diberi
petunjuk, harus taat dan patuh untuk menjalani dan mengerjakannya dengan penuh
keikhlasan betapapun berat dan sukar, Keempat,
setibanya di gunung Reksamuka, Bima terus mengobrak-abrik dan menghancurkan
segala makhluk jahat yang ada di gununug tersebut. Terjadilah pertempuran
antara Bima dengan dua makhluk raksasa penghuni gunung Reksamuka yaitu, Rukmuka
dan Rukmakala. Maknanya, orang yang sedang berusaha mensucikan diri harus mampu
memerangi dan mengalahkan segala macam godaan keduniaan. Raksasa Rukmuka
merupakan gambaran pancaindra yang apabila tidak berhati-hati selalu saja
membawa manusia kepada kesesatan. Sedangkan Raksasa Rukmakala adalah gambaran
akal budi yang juga sering menyesarkan manusia. Dia harus mampu mengalahkan
godaan hawa nafsu jahat agar dapat mencapai kebahagiaan. Sebagaimana Firman
Allah, “Adapun orang yang takut akan kebesaran Tuhannya dan orang yang dapat
mencegah hawa nafsunya, Surgalah tempatnya”. ( QS An-Naziaat: 40-41)
Kelima, dalam pertempuran itu Bima
dapat menumpas kedua raksasa Rukmuka dan Rukmakala. Maknanya, bagi orang yang
telah mampu menundukkan dan mengendalikan hawa nafsunya maka akan selamatlah dia,
sebagaimana Firman Allah
“Dan Allah selamatkan mereka yang berbakti dengan sebab terluput mereka (yakni tidak disentuh oleh kejelekan), dan tidaklah mereka akan duka cita”. ( QS Azzumar: 61 ).
“Dan Allah selamatkan mereka yang berbakti dengan sebab terluput mereka (yakni tidak disentuh oleh kejelekan), dan tidaklah mereka akan duka cita”. ( QS Azzumar: 61 ).
Semoga lakon Dewa Ruci memberikan
kontribusi kesadaran bagi masyarakat Kota Palu, bahwa pembangunan dan kehidupan
sosial secara umum, tidak bisa dilepaskan dari aspek budaya dan ajaran agama.
Pilihan lakon Dewa Ruci juga untuk
menunjukkan, bahwa budaya dan adat tidak melulu diperhadapkan pada ajaran
agama. Faktanya, enamratus tahun silam, Sunan Kalijaga mampu mendamaikan budaya
dan agama. Lakon Dewa Ruci diharapkan mampu menjadi inspirasi semua pihak,
untuk lebih dekat dengan Tuhannya dan pada akhirnya ajaran Tuhan tersebut yang
akan membimbing ummat manusia menjalani kehidupan sosialnya. Wallahu A'lam
Bishawab.***
Komentar
Posting Komentar