Saat Mulut Tak Lagi Punya Kuasa
Oleh: Temu Sutrisno
Di platform media sosial dan (sebagian) elektronik, kita dipertontonkan orang-orang yang terlalu banyak bicara. Alih-alih bicara kebenaran, banyak dari mereka mengobral kata atas nama kritik, untuk menutupi kebencian. Banyak pula yang berisi kebohongan dan fitnah, atas nama kebebasan berpendapat di balik slogan demokrasi. Memuja yang disuka, mencaci yang dibenci. Sikap judgemental menggerogoti nurani, lontaran kata menghakimi tanpa memahami substansi.
Orang lupa, ada satu pengadilan yang tidak mengenal rekayasa keterangan, tidak mengenal saksi bayaran, tidak mengenal pengacara dan jaksa yang pandai merangkai jata, dan tidak mengenal ruang gelap tempat bukti disembunyikan. Itulah pengadilan akhirat.
Dalam kehidupan dunia, manusia sering mengandalkan mulut. Dengan mulut, seseorang dapat membela diri. Dengan mulut, seseorang dapat menyangkal kesalahan. Dengan mulut pula, kebohongan bisa disusun sedemikian rapi hingga tampak seperti kebenaran.
Betapa banyak orang yang terselamatkan oleh kefasihan berbicara, meskipun perbuatannya bermasalah. Berapa banyak yang dihukum oleh opini, meski belum tentu bersalah dan diadili. Dunia memang sering kali lebih percaya pada suara yang paling keras daripada fakta yang paling benar.
Namun Al-Qur'an mengingatkan bahwa akan datang satu hari ketika mulut kehilangan kekuasaannya. Allah SWT berfirman dalam Surat Yasin ayat 65:
"Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan."
Ayat ini menghadirkan gambaran yang sangat mengguncang. Pada hari itu, mulut yang selama ini menjadi alat pembelaan tidak lagi diberi kesempatan berbicara. Tidak ada konferensi pers. Tidak ada klarifikasi. Tidak ada narasi tandingan. Tidak ada pencitraan.
Yang berbicara justru tangan. Yang bersaksi adalah kaki. Yang membuka fakta kulit.
Dalam Surat Fussilat ayat 20-21 bahkan digambarkan bagaimana pendengaran, penglihatan, dan kulit menjadi saksi atas seluruh perbuatan manusia. Ketika pemiliknya memprotes, "Mengapa kalian bersaksi terhadap kami?", anggota tubuh itu menjawab bahwa Allah telah membuat mereka mampu berbicara.
Bayangkan ironi terbesar dalam sejarah manusia. Selama hidup, seseorang mungkin berhasil membungkam orang lain. Ia mampu mengendalikan informasi. Ia bisa menghapus jejak digital, mempengaruhi saksi, bahkan mengatur alur cerita. Tetapi ia tidak pernah menyadari bahwa saksi utama justru selalu melekat pada dirinya sendiri.
Tangan yang menandatangani, kaki yang melangkah, mata yang memandang, telinga yang mendengar, dan kulit yang merasakan. Semuanya menyimpan rekaman yang tidak pernah hilang.
Di dunia modern, manusia begitu terpesona oleh teknologi pengawasan. Ada kamera CCTV di sudut jalan. Ada satelit di angkasa. Ada jejak digital yang tersimpan dalam server raksasa. Orang mulai sadar bahwa hampir tidak ada aktivitas yang benar-benar hilang dari catatan.
Namun Al-Qur'an telah jauh lebih dahulu mengajarkan bahwa sistem perekaman paling sempurna bukan berada di luar manusia, melainkan berada pada dirinya sendiri.
Setiap anggota tubuh adalah arsip hidup. Setiap gerakan adalah dokumen. Setiap tindakan adalah data. Semuanya akan dibuka pada waktunya.
Di sinilah letak hikmah besar yang sering terlupakan. Kesadaran bahwa tubuh kelak menjadi saksi seharusnya membuat manusia lebih berhati-hati dalam menggunakan amanah yang diberikan Allah.
Tangan bukan sekadar alat bekerja, tetapi juga alat kesaksian. Mata bukan sekadar alat melihat, tetapi juga alat pencatat. Lidah bukan sekadar alat bicara, tetapi juga sumber pertanggungjawaban. Karena itu, ukuran keberhasilan hidup bukan hanya apa yang berhasil disembunyikan dari manusia, melainkan apa yang sanggup dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Sayangnya, manusia sering terjebak dalam logika dunia yang pendek. Banyak yang merasa aman selama tidak ketahuan. Banyak yang mengira kesalahan selesai ketika bukti berhasil dihapus. Banyak yang percaya bahwa kebenaran bisa dikalahkan oleh kekuasaan.
Padahal ketahuan atau tidak ketahuan hanyalah urusan dunia. Benar atau salah adalah urusan akhirat.
Di dunia, mungkin seseorang dapat memenangkan perkara dengan retorika. Di dunia, seseorang bisa memperoleh jabatan melalui tipu daya. Di dunia, seseorang bisa meraih kekayaan dengan jalan yang tidak semestinya. Namun semua kemenangan itu bersifat sementara.
Hari ketika mulut dibungkam akan menjadi hari runtuhnya seluruh sandiwara. Tidak ada lagi ruang untuk berpura-pura saleh. Tidak ada lagi kesempatan menyusun alasan. Tidak ada lagi kemampuan mengubah fakta, dan yang tersisa hanyalah kesaksian yang jujur dari tubuh sendiri.
Pesan Al-Qur'an ini sesungguhnya bukan untuk menakut-nakuti manusia, melainkan untuk membimbingnya. Allah mengingatkan bahwa setiap perbuatan memiliki konsekuensi dan setiap amanah akan dimintai pertanggungjawaban.
Karena itu, sebelum hari ketika tangan berbicara dan kaki bersaksi tiba, masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri. Masih ada waktu untuk bertobat. Masih ada peluang untuk mengembalikan hak yang bukan milik kita. Masih ada ruang untuk mengubah langkah menuju kebaikan.
Di akhir kehidupan, bukan mulut yang menentukan nasib manusia di hadapan Allah. Melainkan jejak yang ditinggalkan oleh seluruh anggota tubuhnya. Ketika hari itu datang, mulut terdiam. Tetapi kebenaran tetap berbicara. ***
Tana Kaili, 21 Mei 2026

Komentar
Posting Komentar