Renungan Jumat: Ketika Semua Menolak Menjadi Telinga

 

Oleh: Temu Sutrisno

Membangun negara membutuhkan banyak orang pintar. Tetapi pembangunan sering macet bukan karena kekurangan orang pintar, melainkan karena kebanyakan orang sok pintar.

Di negeri ini, gelar “pakar” tampaknya tidak lagi diperoleh lewat riset panjang, pengabdian akademik, atau pengalaman lapangan yang bertahun-tahun. Gelar itu kini cukup didapat dengan kuota internet, akun media sosial, dan keberanian berbicara tanpa jeda.

Semua orang mendadak ahli. Ahli hukum meski belum pernah membaca putusan lengkap pengadilan atau berjilid-jilid buku teori hukum. Ahli ekonomi karena pernah mengeluh harga cabai. Ahli kesehatan setelah menonton video berdurasi tiga menit. Bahkan ahli agama hanya bermodal potongan ceramah yang dipelintir menjadi senjata saling menghantam.

Lebih lucu lagi, kini lahir spesialisasi baru, pakar komentar yang kerjanya mengomentari komentar dari pakar komentar lain.

Sungguh sebuah kemajuan peradaban yang membanggakan. Hehehe.

Fenomena ini terasa makin nyata dalam kehidupan masyarakat Indonesia hari ini. Ruang publik kita berubah menjadi arena adu pendapat tanpa jeda. Media sosial menjadikan semua orang seolah memiliki panggung, mikrofon, dan audiens sendiri. Masalahnya, tidak semua orang memiliki kedalaman pengetahuan yang sebanding dengan keberanian berbicaranya.

Kita hidup di zaman ketika opini lebih cepat dipercaya daripada penelitian. Potongan video lebih dianggap sahih daripada kajian akademik. Bahkan dalam isu-isu serius seperti kesehatan, hukum, ekonomi, agama, hingga kebijakan negara, suara yang paling emosional sering lebih dipercaya dibanding penjelasan para ahli.

Di sinilah kondisi masyarakat Indonesia hari ini bertemu dengan apa yang disinyalir The Death of Expertise atau Matinya Kepakaran. Dalam buku itu, Tom Nichols mengingatkan tentang bahaya ketika masyarakat mulai kehilangan respek terhadap keahlian dan pengetahuan yang dibangun lewat proses panjang.

Semua pendapat dianggap sama nilainya. Dokter disamakan dengan komentar anonim. Peneliti disamakan dengan pembuat konten. Akademisi diperdebatkan oleh orang yang bahkan malas membaca sampai selesai sebuah buku tipis.

Ironisnya, semakin sedikit pengetahuan seseorang, kadang semakin tinggi rasa percaya dirinya. Sebaliknya, mereka yang benar-benar ahli justru lebih hati-hati berbicara karena sadar ilmu selalu memiliki ruang ketidakpastian. Mereka sadar dirinya hanya memiliki sedikit pengetahuan.

Tetapi masyarakat kita kini lebih menyukai jawaban cepat dibanding penjelasan mendalam. Bagi mereka, yang penting terdengar meyakinkan. Akibatnya, kebisingan lebih mudah viral dibanding kebenaran.

Seorang ilmuwan berkata, “Menurut data sementara…”

Netizen menjawab, “Sok tahu!”

Seorang ahli memberi penjelasan hati-hati.

Komentator dadakan membalas dengan kalimat sakti: “Logikanya sederhana, Bung!” dan seterusnya, dan seterusnya.

Lalu tepuk tangan digital pun bergemuruh.

Akibatnya, ruang publik berubah menjadi pasar kebisingan.Data kalah oleh asumsi. Riset kalah oleh sensasi. Fakta kalah oleh perasaan.

Orang-orang yang benar-benar bekerja di lapangan sering kalah pengaruh dibanding mereka yang hanya rajin membuat utas panjang penuh kemarahan di media sosial. Seorang insinyur bisa menghabiskan puluhan tahun mempelajari konstruksi jembatan, tetapi pendapatnya tetap dipatahkan oleh seseorang yang merasa “punya feeling”.

Di sinilah pembangunan sering tersendat.

Karena pembangunan membutuhkan disiplin, ketekunan, dan kemampuan mendengar. Sedangkan budaya sok pintar hanya melahirkan ego, kegaduhan, dan kebiasaan merasa paling benar.

Negara akhirnya dipenuhi rapat yang lebih banyak debat, ketimbang keputusan yang bermanfaat. Diskusi berubah menjadi adu gengsi. Kritik tidak lagi dimaksudkan memperbaiki, tetapi sekadar memenangkan panggung untuk memahkotai diri sendiri.

Semua ingin menjadi mikrofon. Tidak ada yang mau menjadi telinga.

Padahal bangsa besar dibangun oleh orang-orang yang sadar, bahwa dirinya tidak mengetahui segalanya. Kerendahan hati intelektual adalah fondasi kemajuan. Kesediaan mengakui keterbatasan justru membuka pintu pembelajaran.

Imam Al-Ghazali pernah mengingatkan bahwa salah satu bentuk kebodohan paling berbahaya adalah merasa diri paling tahu. Sebab orang bodoh yang sadar dirinya bodoh masih mungkin belajar. Tetapi orang yang merasa paling pintar biasanya sudah menutup pintu ilmu rapat-rapat.

Dalam kehidupan berbangsa, penyakit sok pintar jauh lebih berbahaya daripada ketidaktahuan biasa. Ketidaktahuan masih bisa diperbaiki lewat pendidikan. Tetapi kesombongan intelektual sering menolak pendidikan itu sendiri.

Lihat saja bagaimana kebijakan publik kadang lahir bukan dari kajian matang, tetapi dari tekanan opini yang gaduh. Para pakar dipanggil sekadar formalitas. Setelah itu, keputusan tetap mengikuti arah angin popularitas.

Kita akhirnya sibuk membangun citra, bukan membangun peradaban.

Mungkin inilah sebabnya bangsa ini kaya diskusi tetapi miskin eksekusi. Kaya seminar tetapi miskin keteladanan. Kaya komentar tetapi miskin kerja nyata dan karya monumental.

Padahal kemajuan tidak dibangun oleh mereka yang paling pandai berbicara. Kemajuan lahir dari mereka yang mau belajar, mau mendengar, dan mau bekerja bersama.

Jumat ini, mungkin kita perlu bercermin.

Jangan-jangan kita terlalu sibuk menjadi hakim atas semua hal, sampai lupa menjadi murid kehidupan. Jangan-jangan kita terlalu gemar mengoreksi orang lain, tetapi malas mengoreksi diri sendiri.

Sebuah bangsa tidak akan hancur karena kekurangan orang pintar. Bangsa hancur ketika semua orang merasa dirinya pakar, sementara tak ada lagi yang mau benar-benar belajar.

Ketika semua orang merasa paling benar, maka kebenaran itu sendiri perlahan akan kehilangan rumahnya. Wallahu alam bishawab. Tabe. ***


Tana Kaili, Jumat, 22 Mei 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta di Antara Angkara

Ombo; Kearifan Lokal Masyarakat Kaili Melestarikan Alam

Pitutur Luhur: Gemi, Nastiti, Ngati-ati