Menulis Kata sebagai Tanda
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Oleh: Temu Sutrisno
Saya sering ditanya teman, mengapa hampir setiap hari menulis. Jawaban saya biasanya ringan saja, karena menganggur. Sebuah gurauan yang mudah diterima, meski tentu bukan alasan sebenarnya. Menulis bagi saya bukan sekadar mengisi waktu luang, melainkan cara memberi tanda bahwa saya pernah ada, pernah berpikir, pernah merasakan sesuatu di dunia ini.
Seperti wejangan Sunan Kalijaga, bahwa manusia hidup seperti mampir ngombe, hanya sebentar seperti orang singgah minum. Manusia, pada akhirnya, hanya lewat sebentar di muka bumi. Kita datang tanpa membawa apa-apa dan pergi pun tanpa menggenggam apa-apa. Nama bisa hilang, wajah bisa dilupakan, bahkan jejak kaki akan terhapus oleh hujan. Tetapi kata-kata sering lebih panjang umurnya daripada tubuh yang menulisnya. Karena itu, menulis menjadi salah satu cara sederhana untuk meninggalkan penanda, bahwa pernah ada seorang hamba yang Allah hadirkan di muka bumi, yang mencoba memaknai hidup melalui kata-kata, kalimat demi kalimat. Menulis bagi saya adalah ibadah kecil atau usaha menyusun makna dari anugerah akal yang diberikan Tuhan.
Dalam tradisi Islam, menulis bukan hal sepele. Al-Qur’an bahkan membuka salah satu surat dengan sumpah yang sangat istimewa. Al Qur'an surah Al-Qalam ayat pertama, berbunyi: Nun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan. Sumpah Tuhan atas pena menunjukkan betapa tinggi martabat alat tulis dan aktivitas menulis. Pena bukan sekadar benda; ia adalah simbol ilmu, peradaban, dan transmisi pengetahuan. Dalam ayat itu, Allah seakan menegaskan bahwa tulisan bukan hanya alat komunikasi, tetapi salah satu pilar kemanusiaan.
Maka menulis adalah penanda. Pertama, penanda eksistensi. Ketika seseorang menulis, ia sedang berkata kepada dunia, “Aku pernah ada di sini.” Tak penting seberapa besar namanya, tak penting berapa banyak pembacanya. Setiap tulisan adalah saksi bahwa seseorang pernah menatap zamannya dan mencoba memberi arti.
Penanda kedua adalah sejarah. Menulis menegaskan bahwa kita hidup di era peradaban, bukan di masa ketika manusia hanya meninggalkan jejak dalam batu atau dongeng lisan. Tulisan menjadi pagar antara manusia sejarah dan pra sejarah. Tulisan juga pembeda paling nyata antara manusia yang sekadar hidup dan manusia yang mencatat hidupnya. Dengan menulis, kita menjadi bagian dari sejarah yang sadar. Bukan manusia purba yang hanya berkutat pada penaklukan alam liar. Kita tidak hanya menjalani waktu, tetapi merekamnya untuk masa depan dan anak cucu.
Bayangkan jika tidak ada tulisan. Kita tak akan mengenal kisah para nabi, tak membaca pemikiran Ibnu Khaldun, memahami gagasan Plato, Homer, atau, Imanuel Kant, Thomas Aquinas, Karl Marx, Max Weber, dan Michael Foucault. Bahkan spiritualitas Syaikh Abdul Qadir Al Jaelani, Al Gazali, dan Syaikh Siti Jenar. Tanpa tulisan, hari ini kita tidak mengenal heroisme Hanibal, Achilles, Temujin, Ali bin Abi Thalib, hingga Gajah Mada, kepahlawanan Cut Nyak Dien, keadilan Ratu Shima, atau Romus dan Romulus meletakkan dasar pembangunan kota Roma, serta tokoh peradaban lainnya.
Semua peradaban besar bertumpu pada teks. Kota bisa runtuh, kerajaan bisa lenyap, tetapi naskah yang tersimpan dapat membangkitkan kembali seluruh ingatan sebuah bangsa.
Penanda ketiga, menulis adalah instrumen keabadian isu dan waktu. Ada pepatah Latin yang sangat terkenal, verba volant, scripta manent—yang diucapkan akan terbang, yang ditulis akan tinggal. Percakapan paling hangat hari ini bisa lenyap esok pagi. Tetapi tulisan, bahkan secarik catatan kecil, dapat ditemukan puluhan tahun kemudian dan tetap berbicara kepada generasi yang tak pernah bertemu dan mengenal penulisnya.
Itulah mengapa isu yang dituliskan lebih sulit mati. Ketidakadilan yang dicatat akan terus mengusik nurani. Kebaikan yang ditulis akan terus menginspirasi. Sebuah catatan harian, artikel koran, puisi sederhana, atau Cerpen semuanya memiliki kemungkinan melampaui usia penulisnya. Kata-kata memberi waktu kemampuan untuk berhenti sejenak.
Para pemikir dunia pun banyak menekankan pentingnya menulis. Filsuf, negarawan, dan penulis asal Inggris Francis Bacon berkata, Reading maketh a full man; conference a ready man; and writing an exact man. Pionir Empirisme ini menitip pesan bahwa membaca membuat manusia penuh pengetahuan, berdiskusi membuatnya siap, dan menulis membuatnya tepat. Menulis memaksa seseorang berpikir jernih, merapikan gagasan, dan mempertanggungjawabkan pikirannya.
Sastrawan Pramoedya Ananta Tower mengingatkan, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari masyarakat dan sejarah.” Kalimat itu terdengar keras, tetapi ada benarnya. Pengetahuan yang tidak dituliskan kerap berhenti hanya sebagai milik pribadi. Ia mati bersama pemiliknya.
Barangkali itu alasan sebenarnya saya menulis hampir tiap hari. Bukan karena menganggur. Melainkan karena saya tidak ingin hidup sekadar lewat. Saya ingin meninggalkan tanda, sekecil apa pun, bahwa pernah ada seorang manusia bernama Temu Sutrisno bin Kaswan bin Abdul Kadir bin Muhammad Tayib yang menyaksikan zamannya, mengingat Tuhannya, dan mencoba merawat ingatan melalui kata. Tulisan bisa terus berjalan, jauh melampaui zaman setelah tangan yang menulisnya bersemayam di bawah nisan.***
Tana Kaili, 18 Mei 2026

Komentar
Posting Komentar