Mendinginkan Mulut

 Oleh: Temu Sutrisno 


Konon di sebuah masa ketika hidup belum dipenuhi notifikasi, belum ada perang komentar, dan “viral” masih dianggap nama penyakit ayam, hiduplah seorang remaja polos bernama Erick. Ia terkenal sebagai pribadi periang, jujur, dan memiliki bakat alamiah mendeteksi makanan dalam radius yang bahkan kalah tajam dari penciuman kucing kampung.

Bagi Erick, semua yang ada di meja layak dicicipi. Tidak peduli bentuknya kotak, bulat, keriting, asin, manis, atau bahkan yang warnanya mencurigakan seperti cat tembok muda. Selama terlihat seperti makanan ringan, Erick percaya dunia masih baik-baik saja.

Sayangnya, ia punya kakak bernama Marco.

Marco ini tipikal kakak yang bahagia melihat adiknya panik. Bukan jahat, hanya kreatif dalam jalur yang salah. Suatu hari, ia menemukan ide yang menurutnya sangat ilmiah: menguji seberapa besar kepercayaan Erick terhadap isi toples.

Toples yang biasanya berisi kacang telur disulap menjadi jebakan batman versi rumah tangga. Isinya bukan lagi kacang gurih, melainkan bedak dingin berbentuk bulatan kecil seperti kelereng mini.

Marco lalu duduk santai di dekat toples. Wajahnya datar. Tatapannya tenang. Persis penjahat sinetron yang tahu bom akan meledak lima detik lagi.

Masuklah Erick.

Tanpa curiga sedikit pun, ia langsung menyambar toples. Tidak ada ritual mencium aroma. Tidak ada pemeriksaan label halal. Tidak ada penelitian laboratorium. Satu genggam penuh langsung masuk ke mulut.

Dunia mendadak hening. Erick mengunyah perlahan.

Ada sesuatu yang salah. Ini bukan kacang telur. Juga bukan permen susu.

Butiran putih itu perlahan mencair, berubah menjadi adonan bedak dingin yang lengket memenuhi mulut. Seketika wajah Erick berubah seperti orang yang baru sadar menabung lima tahun di arisan bodong.

“Buaaahhh!”

Ia memuntahkan semuanya sambil batuk-batuk kecil. Marco langsung terpingkal-pingkal memegangi perut. Tawa yang keluar bukan lagi suara manusia normal, melainkan campuran peluit rusak dan knalpot bocor.

Anehnya, sekitar tiga puluh tahun kemudian, kisah itu masih sanggup membuat orang tertawa. Bahkan anak-anak muda yang mendengarnya ikut ngakak membayangkan ekspresi Erick ketika mendapati camilan favoritnya berubah menjadi kosmetik.

Namun di balik kelucuan itu, Marco kini punya tafsir baru. Menurut Marco, di zaman sekarang, banyak orang sebenarnya perlu “bedak dingin” untuk mulutnya.

Kalimat itu terdengar lucu, tetapi makin dipikir makin masuk akal.

Hari ini, media sosial sering berubah seperti pasar malam tanpa petugas keamanan. Semua orang bicara bersamaan. Ada yang marah sebelum membaca. Ada yang menghina sebelum memahami. Ada yang membagikan kabar bohong dengan kecepatan melebihi kecepatan cahaya di ujung jalan.

Jempol bergerak lebih cepat daripada pikiran. Mulut menilai lebih cepat daripada hati.

Kadang orang lupa, kata-kata tidak bisa ditarik kembali seperti salah kirim emot tertawa di grup keluarga saat kabar duka muncul.

Satu komentar kasar bisa memicu pertengkaran panjang. Satu fitnah bisa merusak nama seseorang. Satu unggahan penuh kebencian bisa membuat masyarakat saling curiga.

Ironisnya, semua itu sering dilakukan sambil rebahan.

Mungkin memang ada saatnya mulut dan jari kita “didandani” sedikit dengan bedak pendingin. Bukan agar wangi melati atau tampak glowing, melainkan supaya tidak gampang panas.

Bedak itu bernama etika. Bedak itu bernama akhlak. Bedak itu juga bernama ajaran agama yang menyejukkan.

Sebab agama, apa pun namanya, tidak pernah mengajari manusia menjadi pabrik kebencian. Semua mengajarkan penghormatan terhadap sesama, menjaga lisan, dan menghindari fitnah.

Etika digital juga bukan sekadar istilah seminar yang dipasang di spanduk lalu dilupakan setelah makan siang. Ia perlu dipraktikkan: memeriksa informasi sebelum membagikan, menahan emosi sebelum berkomentar, dan belajar diam ketika tidak tahu persoalan sebenarnya.

Di era media sosial yang penuh kebencian, makian, fitnah, dan disinformasi perlu refleksi mendinginkan batin dan mulut, agar tak tersulut permasalahan sosial.

Etika digital penting menjadi pegangan. Ajaran agama yang menyejukkan dan menghormati kemanusiaan perlu digaungkan.

Mungkin dengan bedak etika dan agama, kita bisa mendinginkan jari dan mulut kita.

Butuh kesadaran bersama, bahwa tidak semua hal harus ditanggapi. Tidak semua perbedaan harus dimusuhi.***




Kolonodale, 7 Mei 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta di Antara Angkara

Ombo; Kearifan Lokal Masyarakat Kaili Melestarikan Alam

Ketika Kebencian Mengalahkan Keahlian