Korban Perasaan
Oleh: Temu Sutrisno
Sore habis salat ashar, langit di ujung jembatan memerah seperti bara yang ditaburi abu. Angin dari sungai berembus pelan, menggoyang spanduk kopi sachet yang tergantung miring di emperan warung bundaran. Di sana, seperti biasa, beberapa lelaki duduk melingkar di bangku kayu panjang sambil menikmati kopi hitam dan pisang goreng yang mulai mengkerut kedinginan.
Om Uchen paling ribut sore itu. Tawanya pecah bahkan sebelum ceritanya selesai.
“Sekarang ini,” katanya sambil menyeruput kopi, “orang belum tentu kurban sapi, tapi sudah duluan jadi korban perasaan.”
Ryan terkekeh. Ia yang paling muda setelah Ami selalu senang memancing suasana.
“Salah sedikit di media sosial, langsung ngamuk. Padahal sapi belum disembelih, hati sudah berdarah-darah.”
Ami tersenyum tipis. Anak muda itu duduk paling pinggir sambil memainkan gawainya.
“Biasanya yang ribut memang lawan politik,” katanya hati-hati. “Atau mereka yang tidak kebagian momentum.”
Om Uly langsung menyambar.
“Atau berharap kebagian daging dua kantong!” katanya blak-blakan.
Semua tertawa.
Warung kopi kecil itu kembali riuh. Gelas beradu pelan.
Namun satu orang tetap diam. Tonakodi.
Ia duduk bersandar di tiang kayu. Wajahnya teduh seperti sawah selesai hujan. Matanya memandang jauh ke ujung jembatan, seolah mendengar sesuatu yang tidak terdengar orang lain.
Ryan meliriknya.
"Tonakodi dari tadi belum bicara. Kopinya mulai dingin.”
Om Uchen ikut tertawa.
“Iya. Hati-hati kalau Tonakodi mulai bicara. Bisa-bisa kopi kita berubah jadi tausiah.”
Tonakodi tersenyum kecil.
“Tidak semua yang diam sedang menahan kata,” ujarnya pelan. “Kadang diam hanya memberi ruang supaya hati orang lain selesai berbunyi.”
Mereka mendadak tenang.
Suara sendok mengaduk kopi terdengar lebih jelas.
Tonakodi lalu menatap satu per satu wajah sahabatnya.
“Kalian tahu kenapa banyak orang ribut soal kurban presiden?”
Ryan cepat menjawab, “Karena politik.”
“Karena media sosial,” kata Ami.
“Karena kurang kerjaan,” sahut Om Uly.
Tonakodi menggeleng pelan.
“Karena manusia terlalu mudah merasa memiliki kebenaran, padahal belum tentu memiliki kejernihan.”
Mereka terdiam.
Angin sore meniup daun-daun pisang di belakang warung.
Tonakodi melanjutkan dengan suara tenang.
“Majelis Ulama sudah menjelaskan. Dalam sejarah Islam, pemimpin memang boleh menggunakan Baitul Mal untuk kemaslahatan umat, termasuk kurban. Dulu namanya Baitul Mal, sekarang namanya APBN. Hakikatnya sama, harta negara amanah rakyat.”
Om Uchen mengangguk pelan.
“Iya juga, ya.”
“Tetapi,” lanjut Tonakodi, “yang membuat gaduh bukan soal sapi, yang gaduh adalah hati manusia. Ada yang merasa agama sedang dipakai politik. Ada yang merasa presidennya sedang diserang. Ada yang merasa paling suci. Ada pula yang diam-diam iri karena tidak punya panggung.”
Ryan tertawa kecil.
“Berarti memang korban perasaan.”
Tonakodi tersenyum.
“Perasaan itu seperti api kecil. Kalau dijaga, menghangatkan. Kalau diumbar, membakar apa saja.”
Om Uly menghela napas panjang.
“Sekarang orang gampang sekali marah.”
“Karena manusia modern,” jawab Tonakodi, “lebih sibuk membela ego daripada merawat jiwa.”
Suasana kembali hening.
Di kejauhan, suara anak-anak riuh memancing di sungai bercampur bunyi motor yang melintas di jembatan.
Ami menunduk sebentar lalu bertanya, “Tapi bukankah kritik juga penting?”
Tonakodi mengangguk.
“Tentu. Kritik itu seperti cermin. Kritik diperlukan supaya kekuasaan tidak mabuk dan menyimpang. Tapi cermin yang keruh hanya memantulkan wajah buruk.”
Ami tampak berpikir.
Tonakodi kemudian mengambil gelas kopinya yang tinggal setengah.
“Masalah kita sekarang bukan kekurangan orang pintar,” katanya. “Kita kekurangan orang yang bening.”
“Bening bagaimana?” Ryan penasaran.
“Bening hati.”
Tonakodi memandang sungai yang mulai keemasan diterpa matahari senja.
“Orang yang bening tidak mudah membenci. Ia bisa berbeda pendapat tanpa kehilangan kasih sayang. Ia bisa mengkritik tanpa menghina. Ia tahu bahwa kebenaran bukan alat memukul kepala orang lain.”
Om Uchen mendadak bersiul pelan.
“Berat juga sore ini.”
“Karena hidup memang berat kalau hati dipenuhi dendam dan selalu merasa benar,” jawab Tonakodi sambil tersenyum.
Mereka tertawa kecil.
Lalu Tonakodi kembali berkata pelan, hampir seperti berbisik kepada dirinya sendiri.
“Iduladha mengajarkan satu hal penting. Bukan hewan yang disembelih, melainkan ego yang dipotong.”
Kalimat itu jatuh perlahan ke hati mereka.
Ryan yang biasanya usil mendadak diam.
Om Uly mengunyah pisang goreng dengan pelan.
Ami menatap meja kayu dengan mata teduh.
Tonakodi melanjutkan.
“Nabi Ibrahim tidak diuji soal binatang sembelihan. Beliau diuji soal keikhlasan. Tapi manusia sekarang lebih sibuk menghitung jumlah sapi daripada memeriksa isi hati sendiri.”
Angin sore terasa makin dingin.
Dari masjid dekat bundaran terdengar anak-anak mengaji terbata-bata.
Om Uchen tersenyum tipis.
“Kadang saya merasa media sosial itu tempat orang berlomba jadi hakim.”
Tonakodi mengangguk.
“Padahal Tuhan tidak pernah meminta manusia menjadi hakim atas isi dada sesamanya.”
“Lalu bagaimana seharusnya?” tanya Ami.
Tonakodi menatapnya hangat.
“Belajarlah menjadi manusia yang bermanfaat. Kalau melihat kebijakan baik, dukung. Kalau ada yang salah, luruskan dengan adab. Jangan semua diukur dengan kebencian politik.”
Ryan menyeringai.
“Sulit itu, Tonakodi. Orang sekarang hobinya tersinggung.”
Tonakodi tertawa pelan.
“Karena mereka memelihara perasaan seperti memelihara ular. Salah sentuh langsung mematuk.”
Semua kembali tertawa keras.
Suasana warung kopi hangat lagi.
Langit makin merah. Matahari perlahan tenggelam di balik pepohonan.
Tonakodi berdiri pelan.
“Sebenarnya,” katanya sambil memandang ujung jembatan, “yang paling miskin bukan orang yang tidak punya sapi kurban.”
“Lalu siapa?” tanya Ryan.
“Orang yang kehilangan kasih sayang di dalam hatinya.”
Mereka diam.
Kata-kata itu seperti menggantung di udara sore.
Tonakodi melangkah perlahan meninggalkan emperan warung. Bayangannya memanjang diterpa cahaya senja.
Sebelum benar-benar pergi, ia menoleh sambil tersenyum.
“Kalau hati sudah dipenuhi amarah,” ujarnya lirih, “bahkan daging kurban pun bisa terasa mahoni di pinggir jalan.”
Lalu memacu motor tuanya yang tidak mampu laju.
Sementara di belakangnya, warung kopi kecil itu mendadak terasa lebih sunyi, seolah setiap orang sedang sibuk menyembelih egonya masing-masing. ***
Tana Kaili, 27 Mei 2026/10 Zulhijjah 1447

Komentar
Posting Komentar