Kita Memang Bodoh
Oleh: Temu Sutrisno
Rabu pagi di Palu datang dengan cara yang tidak biasa. Langit menggantung rendah, kelabu seperti menyimpan sesuatu yang belum sempat diucapkan. Udara yang biasanya menyengat kini terasa jinak. Terasa sedikit adem, cukup untuk membuat orang ingin duduk lebih lama, menunda segala kesibukan yang terasa terlalu serius untuk hari seperti ini.
Di lantai dua kantor perkumpulan profesi, aroma kopi mengepul pelan. Cangkir-cangkir tersusun tidak rapi di atas meja. Di sana, Tonakodi duduk bersandar, tenang seperti biasa. Matanya tidak benar-benar menatap siapa pun, tapi seolah memahami semua.
Om Uchen sudah lebih dulu membuka percakapan, dengan gaya khasnya.
“Kalau semua orang merasa paling pintar, siapa yang mau jadi tempat bertanya?” katanya sambil terkekeh, mengaduk kopi yang tak pernah benar-benar ia minum.
Agung tersenyum tipis. Ryan menimpali dengan nada setengah serius, “Masalahnya, Om, sekarang orang bukan cuma merasa pintar, tapi juga merasa paling benar.”
“Wah, itu level dewa,” sahut Om Uly cepat, blak-blakan seperti biasa. “Padahal baru baca dua artikel sama tiga status WhatsApp. So berani bilang orang lain bodoh. Naif itu.”
Tawa pecah. Ringan, tapi mengandung getir yang tak sepenuhnya disadari.
Retno yang sejak tadi diam akhirnya bersuara, “Mungkin kita semua pernah begitu. Merasa lebih tahu, padahal cuma tahu sedikit.”
Rahmat mengangguk, menatap kopi yang mulai kehilangan uapnya.
Perbincangan mengalir ke sana-sini, tentang orang-orang yang sulit mendengar, tentang diskusi yang berubah jadi adu ego, tentang betapa mudahnya manusia menempatkan diri di atas orang lain hanya karena merasa sedikit lebih tahu.
Tonakodi masih diam.
Ia seperti mendengar sesuatu yang tidak terdengar oleh yang lain.
Tiba-tiba, tanpa aba-aba, ia berdiri. Tangannya menggenggam selembar kertas yang entah sejak kapan ada di sana. Tidak ada perubahan ekspresi. Tidak ada upaya menarik perhatian.
Ia hanya mulai membaca. Seperti bicara pada dirinya sendiri.
Nol Koma
Di sebuah taman
Ku pandang bunga dan rerumputan
Sejengkal
Sedepa
Kiri
Kanan
Depan
Menoleh ke belakang
Satu
Dua
Nama bunga
Nama rerumputan
Pepohonan
Aku tahu
Aku hapal
Selebihnya asing tanpa pengetahuan
Ukuran sejengkal
Jangkauan sedepa
Aku menyerah tak tahu apa-apa
Bahkan manusia lalu lalang
Tak semua aku mengenalnya
Pengetahuanku
Hanya setitik debu
Kecil
Teramat kecil
Dari semesta yang tak terkira
Ku terus berjalan
Ku eja
Ku baca dengan segala daya
Bunga
Rerumputan
Batuan
Bumi
Langit
Lautan
Kupandang jauh ke depan
Makin aku sadar
Hanya sedikit
Sangat sedikit yang aku mengerti
Terngiang lantunan bait suci
"Dan tidaklah kamu diberi ilmu melainkan hanya sedikit"
Aku terjebak dalam ketidaktahuan
Nol koma sekian
Entah berapa banyak nol di belakang koma
Nol
Nol
Nol
Nol
Nol
Nol
Sebelum berakhir pada angka Satu
Ku sadar
Nol wujud ketiadaan
Satu sumber kehidupan
Dia yang permulaan
Dia yang tidak beranak dan diperanakkan
Dia yang tiada bandingan
Dia yang menguasai semesta alam
Aku menangis
Menyesali noda kesombongan
Bersujud
Mendekati
Mendekap
Satu
Agar Nol memiliki makna
Tak terbuang
Seperti iblis
Angkuh memuja diri
Tersesat dalam Nol koma sekian. ***
Tak ada tepuk tangan. Tak ada yang bergerak. Bahkan Om Uchen yang biasanya tak tahan untuk menyelipkan humor, kali ini diam. Bibirnya setengah terbuka, tapi tidak ada kata keluar.
Om Uly menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya pagi itu, ia tidak blak-blakan. Ia hanya menunduk, seperti sedang bernegosiasi dengan sesuatu dalam dirinya sendiri.
Agung menatap meja. Ryan menatap kosong ke jendela. Retno memeluk lengannya sendiri. Rahmat meneguk kopi yang kini sudah dingin, tanpa rasa.
Tonakodi kembali duduk. Seolah tidak terjadi apa-apa.
Di luar, mendung masih menggantung. Tapi rasanya bukan lagi langit yang berat, melainkan dada masing-masing terasa menggunung.
Di tengah keheningan itu, sebuah pertanyaan muncul. Tidak diucapkan, tapi terasa jelas hadir di antara mereka:
Kenapa harus marah saat dibilang bodoh? Kenapa pula harus menghakimi dan mengatakan orang lain bodoh? Apakah kita manusia yang sadar, tidak tahu segalanya…atau justru iblis yang merasa tahu segalanya? Tak ada yang menjawab.
Mungkin tidak menemukan diksi yang tepat untuk menyatakan bodoh dan pintar, dalam bahasa yang lebih etis.
Ah, entahlah. Kopi kini benar-benar dingin.***
Kolonodale, 6 Mei 2026

Komentar
Posting Komentar